Connect with us

Mimbar

Tuhan, Alam, dan Manusia: Potret Pendidikan Anak Kampung

Moh. Rasyid

Published

on

Ilustrasi via pixabay.com

Saya mempunyai banyak anak di kampung halaman. Jumlahnya sekitar 20-an. Mereka bukan anak biologis saya. Tapi mereka adalah anak-anak warga kampung di mana saya lahir dan dibesarkan. Sebuah desa di ujung Timur Pulau Madura, Sumenep, Desa Tambaksari namanya. Ceritanya cukup panjang. Almarhum kakek saya, K. Sama’uddin, adalah sosok yang ketat dalam beragama. Meski tidak pernah belajar di lembaga-lembaga pendidikan formal, pengetahuannya tentang ilmu agama khususnya aspek-aspek muamalat dari syariat Islam tidaklah diragukan. Potensi mendiang kakek saya itu dibaca oleh warga-warga kampung. Sehingga ia pun dipercayai untuk mengajarkan pendidikan keagamaan kepada anak-anak kampung. Pendek cerita, pada akhir 70-an, atas dasar inisiatif bersama warga kampung, didirikanlah sebuah langgar (surai) pertama yang dinahkodai oleh kakek saya. K. Sama’uddin dan langgar inilah cikal-bakal ilmu keagamaan di kampung saya.

Sama’uddin meninggal dunia pada tahun 1994, dua tahun sebelum saya dilahirkan. Sejak kepergiannya, kegiatan keagamaan di langgar dan rumah-rumah warga kampung ditangani langsung oleh bapak saya, anak terakhir dari ketiga anak K. Sama’uddin. Belakangan saya tahu persis ketika warga kampung “memasrahkan” anak-anaknya kepada bapak saya untuk mengaji ilmu-ilmu agama Islam. Mulai dari bahasa Arab, ilmu nahu dasar, tajwid, akhlak, hingga tata-cara salat yang benar menurut ketentuan fikih. Itu semua dilakukan bapak saya secara mandiri, tanpa bantuan tenaga apalagi sokongan modal dari orang lain. Karena bagi kami, pendidikan-khususnya keagamaan-tidak selamanya harus diukur dengan uang. Setiap orang berhak bahkan wajib mendapatkan pengetahuan tentang agamanya. Tapi tidak setiap orang mampu membayar dengan uang hanya agar dirinya mendapat pengetahuan tentang agama yang diyakininya. Bahwa berbuat baik bukan semata-mata tentang apa yang akan kami dapat, tapi tentang apa yang harus kami perbuat.

Tantangan dan ujian pasti ada dalam setiap perjalanan. Itulah dinamika hidup. Yang terpenting bahwa manusia tidak mudah menyerah hanya karena satu, dua dan tiga ujian. Sesekali bapak saya tampak kewalahan dalam mengurusi 20-an orang anak di langgar, minimal dari sisi waktu. Ya, selain sebagai kepala rumah tangga, bapak saya juga seorang petani yang hampir setiap hari harus mengurusi ladang garapannya agar tetap subur. Membagi waktu dalam kondisi seperti itu tentulah tidak mudah. Saya merasa hal itu tidak bisa dibiarkan. Karena jika dibiarkan, yang dipertaruhkan adalah tanggung jawab atas kepercayaan warga kampung, dan hak anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan keagamaan. Sebagai anak sulung, seringkali saya membantu bapak dalam mengurusi aktivitas keagamaan di langgar. Bahkan, hampir semua ritualitas keagamaan seperti mengajar ngaji, salat berjamaah, tahlil dan yasinan setiap Kamis malam (malam Jumat) saya hendel. Tapi itu semua hanya bisa saya lakukan ketika pulang dari perantauan ke kampung halaman. Itulah yang membuat saya berpikir, bahwa pulang ke kampung halaman bukan semata-mata untuk mengobati kerinduan, tapi juga untuk sebuah tanggung jawab keagamaan.

Baca Juga :  Jangan Jadikan Hukum sebagai Alat Memersekusi Kritik Publik!

Bagi saya, kembali ke kampung halaman itu dambaan semua orang. Mengasyikkan. Menggembirakan. Tapi ada satu hal-selain bertemu dengan keluarga besar-yang paling menggembirakan bagi saya setiap kali pulang ke kampung halaman; perjumpaan dengan anak-anak kampung itu. Merasa gembira bukan karena antusiasme mereka menyambut kedatangan saya dengan “assalamualaikum” lalu mencium tangan. Tapi lebih karena mereka langsung menanyakan kebenaran-kebenaran “cerita” lama yang sebelumnya saya kisahkan. “Kak, jika terdapat huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf hijaiah, melahirkan lima macam hukum bacaan, kan?” kata salah seorang anak melontarkan pertanyaan. Saya tidak langsung meresponnya dengan serius. Sesekali hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.

Salah seorang lainnya menimpali dengan pertanyaan, “Berbeda halnya dengan ketika huruf mim mati bertemu dengan huruf hijaiah, yang melahirkan tiga macam hukum bacaan kan, kak?” “Benar kan kak, jangkauan huruf-huruf jar pada isim mufrod yang membuatnya khofad, tidak berlaku bagi isim ghairu munshorif?” “Sifat wajib dan mustahil bagi Allah SWT jika dikonversi menjadi 40 sifat kan, kak?” “Kata kakak, menyakiti sesama manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan sekitar hukumnya haram dan konsekuensinya masuk neraka ya?” Dan sederet pertanyaan lain yang entah bagaimana caranya mereka tetap mengingatnya. “Malaikat” mana yang membuka kesadaran mereka terhadap hal-hal yang, di era TikTok ini, nyaris luput dari perhatian anak-anak seumuran mereka, saya pun tidak tahu.

20-an orang anak yang mengaji di langgar kami umurnya sangat beragam. Jika diukur dari segi kelas formal tempat mereka belajar, sebagian dari mereka ada yang masih belajar di Taman Kanak-kanak (TK), sebagian besar di Sekolah Dasar (SD), dan tiga orang di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kondisi itu menuntut saya untuk menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran yang relevan bagi umur mereka. Karena jika metode dan pendekatannya tidak tepat, maka proses pembelajaran tidak akan memperoleh hasil yang memuaskan dan salah sasaran. Alih-alih anak-anak saya bisa menerima apa yang saya sampaikan. Justru, kondisi sikologi mereka tidak nyaman karena adanya semacam “tekanan” dalam pembelajaran.

Tidak adanya bekal pengalaman yang mapan dalam dunia pendidikan tidak menyurutkan semangat saya untuk senantiasa menemani anak-anak belajar. Meski dengan segala keterbatasan, akhirnya saya menemukan suatu pendekatan yang relatif tepat bagi anak-anak seumuran mereka, ialah pendekatan persuasif (personal approach). Pendekatan ini yang saya gunakan ketika mengajari mereka di langgar. Metodenya semi-formal. Dengan metode ini, saya tidak menganggap diri superior sehingga tidak pernah salah, dan anak-anak inferior yang menjadi biang “kesalahan”. Saya dan anak-anak sepakat bahwa dalam proses pendidikan semuanya sama. Tidak ada sekat-sekat yang ketat di antara kami. Bahkan, dalam situasi dan kondisi tertentu kami sepakat untuk tidak mengambil jarak yang terlalu jauh. Hubungan kami sangat akrab selayaknya hubungan pertemanan. Mereka memanggil saya “kakak”, dan saya memanggil mereka “adik”.

Baca Juga :  Dosen: Cita-cita yang Menjulang dengan Kemampuan Pas-pasan

Barangkali karena pendekatan dan metode itu mengapa pertanyaan-pertanyaan di atas, khususnya pertanyaan terakhir, seringkali muncul. Menyangkut pertanyaan yang terakhir itu saya cukup bisa memahaminya. Kesadaran ekologis itu muncul dan berkembang tidak dengan sendirinya. Saya dan anak-anak mempunyai cerita berkesan tentang hubungan timbal-balik antara Tuhan, alam dan manusia. Berangkat dari keprihatinan saya terhadap bencana-bencana alam yang tak kunjung usai di negeri ini, dan kurangnya kesadaran ekologis anak-anak negeri sejak dini. Dan pada saat yang sama, saya merasa mempunyai kesempatan dan modal sosial-keagamaan untuk menghilangkan keprihatinan itu secara kultural. Platform keagamaan saya manfaatkan bukan saja untuk penyelenggaraan aktivitas keagamaan yang ritualistik. Tetapi juga untuk pembangunan kesadaran ekologis anak-anak yang, 20 sampai 30 tahun mendatang, akan menentukan kondisi alam tempat mereka melangsungkan hidupnya.

Setiap sore hari (kecuali hari Jumat) mereka datang ke rumah saya untuk belajar ilmu-ilmu agama Islam. Semacam Madrasah Diniyah (MD) tetapi sifatnya kultural karena tidak memiliki legalitas formal. Sedari awal hingga kini saya dan bapak saya sudah sepakat untuk mengelolanya secara kultural saja, tanpa mengurangi esensi dan tujuan dari pendidikan agama Islam itu sendiri. Materi yang kami siapkan pun cukup beragam. Meliputi tauhid, fikih, tajwid, dan bahasa Arab beserta ilmu perangkatnya (nahu dan saraf). Selain materi-materi yang relatif sudah sangat umum diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam itu, ada materi lain yang tidak kalah pentingnya. Saya menamainya “Materi Tuhan, Alam, dan Manusia”. Sebuah materi yang relatif lebih spesifik daripada Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang sering mereka dengar di sekolah-sekolah formal. Dan masuknya unsur Tuhan menghadirkan nuansa teologis sebagai identitas dasar pendidikan agama Islam.

Harus saya akui, menjelaskan tema kosmologi dan ekologi perspektif teologis kepada anak-anak kampung yang usianya mayoritas masih di bawah umur tentu tidak mudah. Diperlukan pendekatan dan metode yang tepat untuk itu. Setiap kali tiba waktunya Materi Tuhan, Alam, dan Manusia ini diberikan, saya mengajak mereka keluar ruangan menuju sawah-sawah lapang tidak jauh dari permukiman warga kampung. Di sana kami menikmati keindahan sawah yang serba hijau dengan sedikit pepohonan rindang yang pantang ditebang atas nama pembangunan. Di sekitar kami semilir angin bertiup sedikit kencang, mengiringi langkah kaki para petani yang mulai berbondong-bondong menuju pemukiman. Awan putih bergelantungan pada langit biru, menambah keintiman di antara burung-burung yang sebagian masih beterbangan dan sebagian lainnya mulai turun munju sarangnya di antara pepohonan. Dengan leluasa kami menghirup udara segar karena tidak satu pun aktivitas industri-korporasi berlangsung di sana. Sungguh sebuah kenikmatan luar biasa yang tidak mudah dirasakan oleh anak-anak ibu kota. Kami sangat bersyukur untuk itu.

Baca Juga :  Pseudo History dan Borobudur yang Peninggalan Nabi Sulaiman

Di tengah keindahan itu pelan-pelan saya menjelaskan kepada mereka hakikat Tuhan dan alam yang di dalamnya terdiri dari berbagai spesies. Bahwa ada hubungan erat di antara ketiganya. Ketiganya hanya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Dalam salah satu kesempatan, kepada mereka saya mengatakan secara ilustratif, “Allah SWT menciptakan alam semesta dan seisinya ini secara seimbang dan terukur. Dia menciptakan kalian (manusia), air, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, dan bumi dengan sejuta alasan. Bapak-ibu kalian rata-rata seorang petani. Bumi adalah media paling dasar bagi seorang petani. Setiap hari bapak-ibu kalian pergi ke sawah untuk mengurusi tanaman-tanamannya. Setelah tiba waktunya panen, keluarga kalian menikmati (memakan) hasil panen lalu kalian bersyukur kepada Sang Pencipta. Tapi untuk menghidupkan tanaman, dibutuhkan sumber air yang memadai. Sekarang kalian bayangkan, seandainya tidak ada hewan-hewan untuk keseimbangan ekosistem, bumi tempat bercocok-tanam dan air untuk menghidupkan hasil tanaman itu, bagaimana nasib keluarga kalian?”

Kalimat singkat itu saya sampaikan dengan bahasa Madura, agar mereka mudah memahaminya. Sejenak mereka terdiam. Seperti sedang mencari-cari jawaban yang tepat atas pertanyaan saya. Tidak lama kemudian, serentak mereka menjawab, “mati…….” Sebagian lainnya menjawab “tidak bisa maka…….n”. Benar-benar jawaban di luar dugaan, dikatakan oleh seorang anak kampung seumuran TK, SD, dan MTs. Jawaban yang di dalamnya tersirat pesan kuat tentang hubungan antara dirinya, Tuhan dan alam ciptaan-Nya. Saya sangat bersyukur dikaruniai anak-anak dengan etos belajar yang tinggi seperti mereka. Saya memungkasi pembelajaran itu dengan mengatakan, “Makanya, agar kalian tetap bisa makan, ngaji, belajar dan bermain dengan nyaman, harus selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Ini perintah Allah SWT, yang sama wajibnya dengan salat, puasa, zakat, ngaji dan lain sebagainya”. Serentak mereka menjawab “iya”, menunjukkan makna sepakat. Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Saya dan anak-anak bergegas menuju rumah masing-masing, dan bersiap-siap berangkat ke langgar untuk kembali mengaji kitab suci al-Quran.

Dari kisah nyata di atas saya belajar satu hal; bahwa masa depan umat Islam Indonesia ada di tangan mereka sendiri. Generasi mudanya harus dipersiapkan sejak dini. Dan jika menginginkan masa depan yang gemilang, jangan tanyakan apakah anak ini-itu radikal atau liberal, progresif atau konservatif. Tapi terlebih dahulu tanyakan, apa yang telah kita berikan kepada mereka.

Penulis lepas

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending