Menunggu Perayaan

Redaksi Nolesa

Kamis, 11 Agustus 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Yazid


Hari kemerdekaan Indonesia atau kita kenal Tuju Belasan merupakan hari libur Nasional untuk memperingati proklamasi kemerdekaan Indonesia yang telah di bacakan oleh Ir. Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan HUT RI dengan mewah dan meriah. Mulai dari pengibaran bendera sang saka merah putih hingga perlombaan-perlombaan kerakyatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beberapa hari yang lalu, ketika penulis kumpul-kumpul sembari memasang umbul-umbul, ada salah satu teman bergumam penuh harap. Dan berandai-andai, jika seandainya pemerintah desa terutama RT/RW dan juga pak Apel (mereka menyebutnya) memfasilitasi pengadaan bendera Dusunnya (Panggung), maka meriahlah desa ini. Ungkapnya.

Baca Juga :  Jangan Salah Paham, Ini Makna Hari Kontrasepsi Sedunia yang Diperingati Setiap 26 September

Sementara itu, mereka juga berharap pada hari kemerdekaan tahun ini pemerintah desa bisa menyelenggarakan lomba-lomba. Pasalnya, dua tahun yang lalu, seluruh masyarakat kurang meriah dalam merayakan hari bahagia bangsa. Sebab dilanda Covid-19 yang berkepanjangan sehingga segala aktivitas kehidupan dijalaninya secara terbatas.

Biasanya, di desa-desa pada hari Tujuh Belasan sebagaimana mereka menyebutnya, mereka menyemarakkannya dengan cara-cara yang mereka bisa dan semampunya. Mulai dari pengibaran bendera merah putih di depan rumahnya, pemasangan umbul-umbul di pinggir jalan, lampu-lampu pernak pernik ada juga membuat gapura dengan bertuliskan HUT RI.

Dalam kesempatan lain, biasanya pemerintah desa merayakan hari bahagia itu dengan lomba-lomba kerakyatan. Sebut saja, seperti makan kerupuk, balap karung, Shalawatan, tartil quran, tarik tambang, nasyid islami dll. Dengan mengajak seluruh warga dari semua kalangan, baik tua, muda dan anak-anak untuk berpartisipasi. Dengan meminta delegasi setiap Dusun. Misal, di desa penulis, ada Dusun Panggung, Mani’an, Pettong, Gunung Pekol dll. Yang diambil dan diacak secara kompetitif.

Baca Juga :  Demokrasi dan Politik Hijau

Kemudian bisa ditutup dengan kirap kemerdekaan dengan tema yang ditentukan sesuai hari kemerdekaan dan diakhiri dengan refleksi hari kemerdekaan dengan mengundang kiai kondang.

Kurang dan lebihnya perayaan itu yang sekarang ditunggu-tunggu. Tidak hanya penulis melainkan kita semua dan desa sekurang-kurangnya harus bisa memfasilitasi.

Baca Juga :  Menyoal Labelisasi Politik ala Cak Nun

Karena dengan perayaan itu, setidaknya akan menanamkan kesadaran dan refleksi untuk semua warga terlebih pemuda bahwa sejarah kemerdekaan meniscayakan perjuangan dan pengorbanan. Sekaligus menumbuhkan rasa cinta dan nasionalisme atas bangsa.

Dengan diselenggarakannya lomba-lomba, pada nantinya dan sering kali tak disadari akan menguatkan persatuan dan kesatuan. Ditengah merebaknya sikap intoleransi, radikalisme dan terorisme yang dasawarsa ini telah mengancam keutuhan bangsa.

Kegiatan-kegiatan itulah, niscaya akan menyemaikan solidaritas dan soliditas. Menyingkirkan ego pribadi dan ego sektoral. Baik sebagai bangsa maupun warga desa.(*)


*Penulis Tinggal di Banuaju Timur, Dusun Panggung.

Berita Terkait

Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman
Segala Tentang Perempuan Dalam Novel Aib dan Nasib Karya Minanto
Menjadi Guru Masa Depan
Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial
Puisi Muhammad Dzunnurain Madura
Menembus Kedalaman Makna Cinta
Melintasi Bayang Kelam dalam ‘William’ Karya Risa Saraswati
Menelusuri Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita Karya Joko Pinurbo

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 10:01 WIB

Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman

Kamis, 13 Juni 2024 - 21:00 WIB

Menjadi Guru Masa Depan

Kamis, 13 Juni 2024 - 00:07 WIB

Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial

Rabu, 12 Juni 2024 - 23:50 WIB

Puisi Muhammad Dzunnurain Madura

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:30 WIB

Menembus Kedalaman Makna Cinta

Selasa, 11 Juni 2024 - 07:36 WIB

Melintasi Bayang Kelam dalam ‘William’ Karya Risa Saraswati

Minggu, 9 Juni 2024 - 12:00 WIB

Menelusuri Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita Karya Joko Pinurbo

Sabtu, 8 Juni 2024 - 13:33 WIB

Segala Rasa yang Tersimpan dalam Hati yang Tidak Bisa Dikendalikan pada Puisi “Pasuka Hati” Karya Mustofa W Hasyim

Berita Terbaru

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Budaya

Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Jumat, 14 Jun 2024 - 13:11 WIB