Lembu sebagai Saksi Kerasnya Kehidupan Rakyat Pribumi

Redaksi Nolesa

Selasa, 18 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Endah Permatasari (Foto: dokumen pribadi)

Endah Permatasari (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Endah Permatasari

(Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta)


Novel Kereta Semar Lembu merupakan novel yang dinyatakan sebagai pemenang pertama Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Penghargaan ini sangat pantas untuk diterima sebab isi dari novel yang sangat menarik dengan banyaknya ragam tema yang dirasa kontras namun mampu membangun sebuah kesatuan yang menghasilkan cerita dengan plot yang luar biasa. Apresiasi tinggi sangat pantas untuk novel berjudul Kereta Semar Lembu karya Zaky Yamani yang terbit pada tahun 2022.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Singkatnya novel ini mengisahkan kehidupan seorang pria bernama Lembu yang dalam hidupnya diberkati dengan umur yang panjang serta kekuatan supranatural yang tidak dimiliki manusia normal. Awal dari kisah lembu dibuka pada tahun 1864 di mana Lembu merupakan anak yang lahir dari seorang pelacur. Pada bagian awal ini Zaky Yamani sudah mulai mengangkat tema sosial berupa kehidupan pada zaman kolonial Belanda. Pada tahun 1864 pemerintah Belanda memerintahkan rakyat untuk membangun kereta pertama kali di daratan Jawa, pada bagian ini penulis menyisipkan fakta realitas kehidupan di Indonesia pada tahun tersebut. Pada tahun itu pula sosok Lembu lahir. Tahun kelahiran Lembu dan tahun di mana proyek pertama pembangunan rel kereta api di Indonesia bukanlah suatu kebetulan semata. Orientasi yang dibangun oleh Zaky Yamani sangat tepat sebab melalui ‘kereta api dan rel kereta api’ inilah kisah kehidupan Lembu dimulai.

Pada setting waktu yang masih menunjukkan kepemimpinan Belanda atas Indonesia, aspek sosial begitu ditonjolkan oleh penulis. Lembu yang terlahir dari seorang pelacur dan hidup di tengah huru hara kesenangan duniawi tidak mampu mengerti apakah yang dilakukan ibu beserta orang disekitarnya benar atau tidak. Si Lembu dengan jelas melihat aktivitas ibunya yang menjajakan tubuhnya pada pria-pria buruh cangkul pembuatan rel kereta api tanpa mau bertanya apakah yang dilakukan ibunya benar atau tidak. Pada masa itu pula Lembu yang masih kecil juga melihat bagaimana seseorang mempertahankan hidupnya sekaligus mencapai keinginannya tanpa peduli dengan hidup

orang lain, mereka akan membunuh yang lain jika dirasa menghambat atau merebut apa yang ingin dimilikinya.

Strategi bertahan hidup yaitu, strategi keamanan dan stabilitas adalah strategi minimal yang dilakukan seseorang untuk mempertahankan hidup. Strategi ini dilakukan dengan berbagai cara oleh berbagai lapisan (atas, menengah, bawah) untuk dapat bertahan hidup. Artinya semua hasil yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal kebutuhan subsisten pangan atau kebutuhan sehari-hari (Dharmawan, 2001). Berangkat dari definisi tersebut dapat dikaitkan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan Lembu yang masih kecil. Orang-orang akan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ibu Lembu tidak peduli apakah Lembu akan mendapatkan dampak buruk dari persetubuhannya dengan banyak pria sebab yang Ibu Lembu pikirkan hanyalah bagaimana cara mendapatkan uang demi mengenyangkan perut. Pada fenomena di mana orang akan saling membunuh satu sama lain hanya demi mendapatkan keinginan mereka diceritakan bahwa mereka tidak memiliki pemikiran bagaimana menghormati hak asasi satu sama lain yang di benar mereka hanyalah bagaimana mereka menang dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada realitanya hal itu sangat mungkin terjadi sebab pada masa itu rakyat pribumi tidaklah mungkin mendapatkan pendidikan sekaligus edukasi tentang bagaimana cara memanusiakan manusia. Di dalam benak mereka hanyalah bagaimana terus bertahan hidup dan memperoleh kesenangan sebanyak-banyaknya.

Baca Juga :  Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman

Berkat takdir umur panjang yang Lembu miliki alur kehidupan Lembu seolah menjajaki peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Mulai dengan bencana alam meletusnya gunung merapi hingga perpindahan kekuasaan Belanda kepada Jepang atas tanah air. Seiring usia Lembu yang bertambah semakin kompleks pula permasalahan yang penulis gambarkan terhadap kehidupan Si Lembu. Lembu yang diceritakan sebagai sosok sakti yang tidak mampu meninggalkan gerbong kereta dipaksa angkat kaki dari gerbong saat Jepang menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Lamanya kekuasaan Belanda atas Indonesia diceritakan bahwa rakyat Indonesia merasakan banyaknya perbedaan dari kedua penjajah tersebut. Rakyat terlalu nyaman dengan kekuasaan Belanda hingga pada saat Jepang berkuasa banyak sekali kebijakan yang membuat rakyat sengsara.

Kolonialisme adalah bentuk pendudukan melalui kekerasan, penipuan, dan penindasan yang dilakukan oleh bangsa penjajah karena anggapan bangsa terjajah tidak maju dalam berbagai hal (Patullah, Juanda, dan Suarni, 2021: 68-69). Teori tersebut mendukung tentang bagaimana dampak kolonialisme terhadap rakyat Indonesia. Pada zaman pemerintahan Jepang rakyat merasakan penderitaan ribuan kali lipat. Pada bagian ini Lembu ikut merasakan penderitaan yang dirasakan rakyat. Ia merasakan perihnya perbudakan tanpa bayaran juga kejamnya penjajah membunuh rakyat yang dianggap sudah tidak mampu memberikan kontribusi dalam proyek yang ingin mereka capai. Penulis berhasil menggambarkan betapa sakit dan putus asanya rakyat Indonesia pada kala itu melalui sudut pandang Lembu yang kali ini bukan sebagai pengamat namun juga sebagai korban.

Baca Juga :  Ekspresi Jiwa Manusia dalam Amuk Karya Sutardji Calzoum Bachri

Cara penulis menceritakan setiap fase kehidupan tokoh Lembu berhasil membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan dan melihat apa yang sudah dialami Lembu. Kehadiran sosok asli seperti presiden Soekarno dalam cerita ini membuat pembaca sadar bahwa plot waktu dari masa penjajahan Jepang akan segera berakhir dan digantikan dengan kemerdekaan Indonesia. Hal itu benar terjadi, kendati mendekati akhir bahagia dari novel ini, Zaky Yamani justru menuangkan konflik paling berat pada bagian ini. Ia mengisahkan seolah pemerintahan negeri sendiri lah yang menyengsarakan rakyat dengan berbagai ketamaknnya. Selain itu, kisah tragis percintaan tokoh Lembu dan Uma juga akan berakhir pada fase ini.

Kelamnya dampak penjajahan kolonial bagi rakyat Indonesia atau bahkan dampak dari ketamakan penguasa dari bangsa sendiri diceritakan dengan begitu lugas dalam novel ini. Hegemoni dalam bentuk dominasi kekuasaan dilakukan melalui kekerasan dan melibatkan aparat- aparat. Sementara, hegemoni dalam bentuk penguasaan ideologi cenderung dilakukan melalui pola pikir kelompok yang dikuasai, sehingga mereka melakukan persetujuan tanpa menyadari bahwa mereka sedang dikuasai (Gramsci, 1992). Lembu yang pada masa kemerdekaan Indonesia sudah berusia hampir 100 tahun paham benar sejarah yang terjadi di Indonesia, dulu Lembu hanyalah pria yang hidupnya tidak jauh dari gerbong kereta namun kala ia menemui banyak sosok berakal cerdas Lembu mulai memahami bahwasanya kehidupan yang lalu kala pemerintahan Indonesia masih berada di tangan penjajah bukanlah suatu hal baik. Kendati sudah merdeka pun kehidupan

rakyat tidak berarti lebih baik, begitu banyak kejahatan yang dilakukan oleh pemerintahan dari negeri sendiri. Penulis seolah ingin mengisahkan bahwa Lembu adalah saksi dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia namun sekaligus Lembu tak dapat berbuat apapun terhadap kesengsaraan yang rakyat rasakan.

Dapat dilihat dari pemaparan sebelumnya bahwa garis besar dari novel ini adalah kisah hidup Lembu yang harus menyaksikan banyaknya kesengsaraan rakyat pribumi juga kesengsaraan yang ia sendiri rasakan. Fakta historis yang terkandung dalam cerita ini memang menjadi tema utama namun tidak hanya itu saja. Novel ini dapat dikatakan sangat menarik sebab penulis mengkolaborasikan hal fiktif dengan realita yang sangat kontras.

Baca Juga :  Segala Rasa yang Tersimpan dalam Hati yang Tidak Bisa Dikendalikan pada Puisi “Pasuka Hati” Karya Mustofa W Hasyim

Di awal kisah pun sudah sangat terasa bahwa novel ini merupakan novel fantasi namun tema dan konflik yang diangkat sangatlah mengandung fakta historis. Kedatangan tokoh-tokoh yang tidak dapat diprediksi seperti Punakawan hingga Dewa Siwa beserta istrinya rasanya seperti mustahil apabila perpaduan tersebut mampu dinikmati pembaca. Namun yang terjadi adalah saya mampu menikmati novel ini tanpa rasa ambigu.

Emil Durkheim menyatakan bahwa supranatural adalah segala hal yang melampaui pemahaman manusia yang berasal dari dunia misteri yang tidak dapat dipahami dan dimengerti. Aspek supranatural juga tidak kalah kuat terasa di sepanjang cerita. Banyak sekali adegan yang mengandung hal-hal berbau mistis dan supranatural. Sosok Punakawan yang hadir di setiap fase kehidupan Lembu akan terasa mustahil bila dipikirkan dengan realistis. Akan tetapi justru karena kehadiran sosok-sosok Punakawan inilah penulis banyak sekali menyisipkan amanat dalam cerita melalui petuah-petuah yang mereka berikan kepada sosok Lembu.

Novel ini berhasil memadukan hal-hal fiktif yang sangat kontras dengan kisah sejarah yang benar-benar pernah terjadi di Indonesia. Kejelasan alur waktu dalam novel ini membantu pembaca memahami sedang ada pada masa apa kisah Lembu diceritakan sehingga mampu dihubungkan dengan sejarah yang ada sehingga pemahaman pembaca akan konflik yang diceritakan akal lebih mendalam. Akan tetapi ada beberapa bagian di mana menceritakan kisah lampau tentang Dewa Siwa dan beberapa tokoh fiktif dalam bentuk kidung dengan menggunakan bahasa yang sulit dipahami apabila pembaca bukan merupakan seseorang yang sudah mengetahui kisah-kisah dari sosok fiktif tersebut.

Selain itu terdapat banyaknya adegan intim yang diselipkan pada novel ini kiranya bisa dikurangi atau digambarkan dengan lebih implisit sehingga kenyamanan pembaca tidak akan terganggu. Apabila adegan-adegan intim tersebut digambarkan dengan lebih implisit maka tidak akan mengganggu pemahaman pembaca atas jalannya cerita.

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya
Melodi Cinta Tak Terucap
Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru