Provokasi Orde Baru dalam Sentimentalisme Calon Mayat

Redaksi Nolesa

Sabtu, 8 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Fanisya Azzahro*


Kritik merupakan sebuah pisau bagi sebuah karta sastra, sedikit menyakitkan namun bisa membuat karya tersebut menjadi lebih indah.

Sentimentalisme Calon Mayat adalah sebuah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Sony Karsono, diterbitkan oleh CV. Pustaka Anagram pada tahun 2023 dengan ketebalan buku 14 x 20,3 cm: vi+ 147 halaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah buku dengan delapan cerpen yang disajikan oleh Sony ini sangat menarik untuk dibaca karena genre yang diambil bukan hanya tentang percintaan yang saat ini masih naik daun untuk menjadi topik dalam cerpen maupun karya sastra.

Sony Karsono merupakan seorang penulis hebat yang lahir dan dibesarkan di Indonesia namun tetap memiliki jiwa berpetualang yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan serangkaian perjalanan pendidikan dan karirnya yang sampai luar negeri.

Kecintaan terhadap dunia sastra membuat Sony menghasilkan banyak karya yang sangat bagus. Minat terhadap dunia kepenulisan ini sudah ada sejak Sony masih kecil dan ia terus mengasah keahliannya baik dalam pendidikan formal maupun informal.

Gaya penulisannya cenderung sentimental dan mendalam, menarik pembaca ke dalam dunia emosional yang rumit dan penuh dengan makna.
Dalam menulis antologi ini, penulis menghadirkan beberapa nama tokoh yang berbeda dalam setiap cerpen, misalnya Johan, Sita, Djarot, Dewi, Toni, Dokter Paragon, Sukra, Dr. Sbaitso, Dipati Anom, Levana, Lobo Karioka, Simba, Musafa, Rafikin, Nestor, Johan Kartawijaya, Pandan Wangi, dan masih banyak lagi nama tokoh yang ada dalam cerita.

Walaupun demikian, saya menemukan satu nama tokoh yang sama dalam beberapa judul cerpen, nama tokoh itu adalah Johan. Hal ini membuat saya penasaran dan terbesit dalam otak apakah semua cerita ini sebenarnya dialami oleh satu tokoh bernama Johan namun disajikan oleh penulis dalam beberapa judul yang berbeda.

Dalam menulis Kumpulan cerpen ini, penulis menggunakan alur campuran pada beberapa judul cepen, namun ada juga cerpen yang hanya menggunakan alur maju saja.

Penulis secara garis besar lebih condong pada alur maju yang meceritakan kisah tokoh secara kronologis dan sangat jelas, namun pada beberapa judul, penulis menyisipkan kejadian-kejadian dimasa lalu yang menjadi dya tarik bagi pembaca.

Kebanyakan kejadian-kejadian masa lalu yang disisipkan adalah kejadian yang terjadi pada masa orde baru yang berdampak sampai sekarang, misalnya pembatasan- pembatasan dalam menulis karya sastra yang masih bisa ditemukan hingga sampai sekarang wlaupun sudah sangat sedikit kasusnya.

Hal ini sangat membantu tema yang diambil dan maksud yang ingin disampaikan oleh penulis lewat kumpulan cerpen ini.
Kumpulan cerpen ini secara garis besar mengambil kritik sosial sebagai tema.

Dalam beberapa cerpen, Sony menuliskan sidniran-sindirannya terhadap pemerintahan masa orde baru yang dinilai banyak pembatasan bagi seorang penulis baik dalam penulisan karya ataupun dalam pempublikasian karya tulisnya.

Pemilihan tema ini bisa saja menjadi daya tarik bagi pembaca yang memiliki minat yang tinggi pada dunia politik karena jika dilihat secara teliti banyak sekali sindiran-sindiran penulis terhadap pemerintahan masa orde baru.

Penulis juga sangat puntar dalam memainkan jalannya cerita sehingga sindiran-sindiran yang ia tulis terlihat hanya lelucon belaka. Pemilihan tema kritik sosial juga bisa menjadikan cerpen ini sebagai media penyampaian ketidakadilan yang terjadi pada masa orde baru dengan cara yang lebih halus.

Pemilihan karya sastra cerpen sebagai media penyampaian suara sangat bagus karena disatu sisi bisa terus menghidupkan jiwa seni yang ada dalam diri penulis sekaligus bisa menyampaikan suara didalamnya.

Dengan cara tersebut, pada masa sekarang semua orang bisa menyampaikan suaranya tanpa harus menggunakan cara yang kasar dan menimbulkan kericuhan dan bisa sekaligus menuangkan bakatnya dalam sebuah cerita.

Pemilihan tema kritik sosial ini juga bisa membuat pembaca membuka kembali ingatan mereka pada masa orde baru dan membandingkannya dengan keadaan saat ini.

Hal itu bisa dijadikan bahan evaluasi bagi semua lapisan masyarakat tentang apa yang terjadi pada masa orde baru agar tidak terjadi Kembali. Dengan membaca cerpen-cerpen ini, pembaca yang belum mengetahui tentang masa orde baru juga bisa menambah wawasan, setidaknya tentang apa yang terjadi pada sastra dimasa orde baru.

Penulis juga mengahrapkan pembaca bisa lebih kritis dalam menilai suatu hal dengan membandingkan hal tersebut denga napa yang terjadi saat ini atau sebelumnya. Dengan tema ini setidaknya pembaca diajak sedikit untuk lebih serius dalam berfikir dan tidak melulu membaca cerpen atau novel dengan tema percintaan saja.

Baca Juga :  Menyingkap Makna tentang Relevansi Surga-Agama

Namun demikian, pemilihan tema kritik sosial ini juga memiliki beberapa kekurangan. Dengan tema tersebut, cerpen ini akan bersifat terbatas dan hanya bisa diterima oleh kalangan yang menyukai dunia politik saja.

Jika melihat generasi saat ini, mereka sangat sedikit berminat dengan hal-hal yang sudah berbau politik. Mereka akan lebih menyukai topik pembicaraan yang lebih modern yang tidak terkesan mengulang masa lalu.

Dalam pembicaraan politik, tentu ada beberapa sudut pandang. Perbedaan sudut pandang dalam politik merupakan hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan, perbedaan pandangan ini sangat mungkin terjadi antara penulis dan pembaca dalam karya sastra ini.

Hal tersebut tentu bisa menjadi kelemahan karena kumpulan cerpen ini akan dianggap profokator dan tidak sejalan dengan pikiran mereka bagi orang-orang yang memiliki sudut pandang yang berseberangan tentang masa orde baru yang disampaikan oleh penulis.

Pada kumpulan cerpen ini penulis juga menyampaikan pandangannya terhadap politik yang terjadi pada masa orde baru secara tersembunyi dan bahkan membutuhkan pemahaman ulang dalam membaca cerita agar bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis.

Hal itu akan sangat mempersulit bagi pembaca awal yang belum terbiasa dengan gaya penulisan cerita semacam ini. Bisa saja mereka justru tidak memahami sedikitpun apa yang ingin disampaikan oleh penulis karena inilah yang saya rasakan saat awal membaca cerita.

Saya harus membaca ulang dan memahami cerita demi cerita dengan teliti untuk bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Dengan membaca ulang mungkin pembaca awal bisa memahami maksud dari penulis, namun cara tersebut sangat membuang waktu karena tidak semua pembaca memiliki minat yang besar untuk membaca ulang cerita yang pernah mereka baca hanya untuk memahami maksud dari penulis.

Tema ktirik sosial ini didukung oleh beberpaa teori yang digunakan oleh penulis. Teori tersebut antara lain teori yang disampaikan Akbar (1997) “kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat.”

Teori tersebut menjelaskan bahwa sebuah kritik sastra merupakan salah satu bentuk komunikasi dikalangan masyarakat yang nantinya digunakan sebagai kontrol atau untuk mengetahui cara bersosial yang baik dikalangan masyarakat itu sendiri, melakui kritik sastra seseorang bisa menilai hal yang umum terjadi dan hal yang kurang pantas jika terjadi dilingkungan sosial.

Misalnya dalam hal suatu profesi yang dijalankan oleh seseorang yang tidak semestinya melakukan profesi tersebut. Hal ini sejalan dengan kutipan dalam salah satu cerpen yang berjudul “Seikat Kembang Egois” pada halaman 41 yaitu “Aku heran mengapa Dinas Angkutan Kotamadya Surabaya mempekerjakan mereka.”.

Dalam kutipan tersebut penulis ingin mengkomunikasikan pendapatnya tentang suasana dalam bis kota yang sebenarnya umum terjadi namun menurut penulis itu merupakan hal yang tidak wajar karena sopir dan kondektur merupakan orang yang sudah tua, hal ini diperjelas dengan kalimat “kerut-kerut liar menjalari kulit muka dan tangan mereka bagai lintah panjang yang berdenyut”, kalimat tersebut cukup jelas untuk mendeskripsikan bahwa sopir dan kondektur bis tersebut memang sudah lanjut usia dan seharusnya sudah pensiun.

Teori selanjutnya yang digunakan adalah teori yang disampaikan Amalia (dalam Leonardo, R., & Junaidi, A. 2020) “kritik sosial merupakan suatu penyampaian tanggapan yang dilontarkan kepada suatu peristiwa yang sedang terjadi dilingkungan masyarakat dianggap tidak sesuai dengan yang seharusnya”.

Dalam teori tersebut, dijelaskan bahwa sebuah kritik sastra bisa digunakan untuk berpendapat atau menyampaikan ujaran mengenai hal yang tidak wajar, ini mirip dengan teori yang sebelumnya namun pada teori ini lebih condong pada etika atau norma yang tidka sesuai.

Contoh kutipannya yaitu “KOTA LAMA gempar, Sabtu cerah, seorang lelaki telanjang berkelana di sebuah mal.” (“Sukra”, hal 32).

Pada kutipan tersebut sangat jelas jika penulis ingin menanggapi suatu peristiwa yang sangat tidak wajar yaitu ketika seorang yang telanjang di sebuah mal, penulis ingin mengkritik bahwa hal tersebut merupakan hal yang sangat tidak wajar dan tidak seharusnya terjadi di tempat umum. Kutipan lain yang menggambarkan teori ini yaitu

“Maka, di satu sisi, pemberangkusan novel-novel Pramoedya oleh oknum-oknum Jenderal Soeharto tak lain sebuah aksi terror terhadap lalu-lintas penanda kultural di Indonesia”
(“Surabaya Johnny”, hal 85).

Pada kutipan tersebut penulis ingin menyampaikan tanggapannya mengenai peristiwa yang sedang terjadi dan dianggap sebagai sebuah peristiwa yang tidak wajar, novel yang diringkus karena alasan yang tidak terlalu masuk akal merupakan hal yang kurang cocok jika dilakukan karena hal tersebut bisa dikatakan sebagai pelanggaran hak dalam berkarya.

Baca Juga :  Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Teori lain yang digunakan yaitu teori yang disampaikan Sawardi (dalam Masnani. 2023) “kritik berarti menyodorkan kenyataan secara penuh tanggung jawab dengan tujuan agar orang yang bersangkutan mengadakan perbaikan diri.”.

Melalui teori tersebut, seseorang bisa mengkritik sebuah hal dengan maksud agar ada perbaikan dari hal yang dikritik namun seseorang juga harus menyertakan bukti peristiwa nyata yang terjadi agar kritik yang dilontarkan tidak terkesan asal kritik saja.

Dalam mengkritik karya sastra, seseorang bisa menggunakan teori ini karena seseorang kritikus sastra akan mengkritik dengan tujuan agar karya sastra yang dikritik bisa lebih baik lagi dan bisa dijadikan pembenahan bagi penulisnya, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam mengkritik karya sastra, seorang kritikus juga harus menyertakan data yang menjadi pendukung argumentasinya agar kritik yang dibuat bisa menjadi kritik yang bernilai bagi penulis.

Kutipan dalam kumpulan cerpen yang menunjukkan penggunaan teori tersebut yaitu “Data temuan membeberkan misteri kematian Sumirah sepuluh tahun lalu. Ia seorang buruh pabrik milik Djarot yang gigih menggalang pemogokan. Agitasi Sumirah tak kunjung berhasil” (“Meteroit”, hal 13).

Dari kutipan tersebut penulis ingin mengkritik tentang kematian Sumirah yang sampai kini masih belum ada kejelasan, melalui kritik ini penulis berharap kedepannya ada pembenahan dalam sistem keadilan yang ada di Indonesia agar hal seperti ini tidak terulang kembali. Teori ini juga ada pada kutipan lain.

“Jadi, sebagai pengamat asing, sejak lama saya punya ini ide: untuk bikin maju demokrasi di Indonesia, orang-orang harus mulai dengan mengerahkan perkakas dasar, yaitu membaca dan menulis.”
(“Surabaya Johnny” halaman 86).

Dalam kutipan tersebut secara jelas bahwa penulis mengkritik tentang rendahnya minat baca dan tulis di Indonesia yang berdampak pada rendahnya demokrasi yang berjalan.

Penulis berharap kedepannya Indonesia akan bisa lebih maju lagi demokrasinya , hal ini bisa tercapai jika minat baca dan tulis di Indonesia juga ditingkatkan baik dengan kesadaran warganya dan juga dukungan dari pemerintah.

Teori yang disampaikan Berthoid (2006:142) “kritik sosial merupakan suatu kritikan, masukan, sanggahan, sindiran, tanggapan, ataupun penilaian terhadap sesuatu yang dinilai menyimpang atau melanggar nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan masyarakat”.

Penulis menggunakan teori ini untuk menyindir hal-hal yang dinilai tidak pantas terjadi namun pada kenyataannya memang terjadi. Bukti kutipan yang menggunakan teori ini yaitu “Daripada menonton TV, lebih baik menonton cermin” (“Melankoli”, hal 19).

Pada kutipan di atas penulis ingin menyatakan sindirannya bahwa pada saat itu kita lebih baik bercermin dari pada menonton tv, yang artinya kita lebih baik menilai dan melihat kesalahan diri kita sendiri daripada harus menilai atau melihat kesalahan orang lain.

Hal itu merupakan sindiran bagi orang-orang yang lebih sibuk untuk melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahan dirinya sendiri.

Kutipan lain yang menggambarkan penggunaan teori ini yaitu “Di sini, di Indonesia, saat rupa-rupa organisasi rakyat dibikin bertekuk lutut, Ketika kebebasan pers dibekuk, sastra semaput.” (Surabaya Johnny” hal. 87).

Melalui kalimat tersebut penulis ingin menyindir kenyataan yang terjadi pada masa tersebut yakni ketika hak-hak masyarakat terenggut oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang membuat sastra pada masa itu tidak berkembang.

Salah satu hal yang menjadi penyebab tidak berkembangnya sastra pada saat itu adalah muncul batasan-batasan untuk karya sastra yang boleh muncul pada saat itu, ketentuan rumit yang harus diikuti seorang sastrawan dan sulitnya sebuah sastra dipublikasikan.

Segala kerumitan ini menjadi hal yang ingin dikritik oleh penulis karena penulis kurang setuju denga napa yang terjadi pada masa itu.

Teori terakhir yang digunakan penulis yaitu teori yang dikemukakan oleh Soekanto (dalam Ratna (2018:7) “kritik sosial merupakan bentuk penilaian terkait hubungan sosial atau masyarakat berupa tulisan maupun tulisan.”, dengan menggunakan teori tersebut penulis menilai sebuah hubungan sosial yang terjadi pada masa itu. Kutipan yang menggambarkan penggunaan teori ini adalah “ORGASMEKU datang bersama seberkas ilham … kawin sesilang-silangnya.” (“Surabaya Johnny” hal 131).

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa penulis ingin menilai sebuah peristiwa yang sedang terjadi pada masa orde baru dimana penulis mengkritik sebuah peristiwa tentang sebuah gejolak jiwa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerpen yang selanjutnya menjadi landasan rasa cinta terhadap perbedaan dan seruan untuk bertoleransi terhadap perbedaan yang ada di Indonesia.

Baca Juga :  Cerminan Cinta yang Paling Tidak Sederhana

Terlepas dari pemiliha tema, penulis juga menyajikan daya tarik pada
pemilihan gaya bahasa yang digunakan untuk menulis cerita, bahasa yang bervariasi dan eksploratif sangat menarik bagi kaum remaja pada masa sekarang.

Penghadiran beberapa bahasa asing yang dipakai oleh penulis untuk menunjang cerita bisa digunakan oleh pembaca sebagai penambah wawasan mereka karena penulis juga memberikan catatan kaki mengenai arti dari bahsa asing yang ia tulis.

Gaya bahasa semacam ini akan sangat membantu pembaca dalam melatih kosakata dalam menulis karya sastra agar terus mengikuti perkembangan karena bahasa bersifat dinamis mengikuti perkembangan waktu.

Namun, pada beberapa bagian penulis juga masih banyak menggunakan bahasa yang masih kompleks sehingga memerlukan pemahaman khusus bagi pembaca awal. Hal ini akan semakin mempersulit pembaca dalam memahami apa yang dimaksud oleh penulis.

Walaupun demikian, penulis mengimbangi hal tersebut dengan penyajian alur cerita yang cukup menarik.

Pemilihan jalan cerita yang tidak monoton membuat pembaca tidak cepat merasa bosan, penghadiran kejadian-kejadian pada masa orde baru juga bisa menambah daya tarik cerita agar terkesan lebih nyata dan suasana yang diinginkan penulis bisa sampai kepada pembaca.

Dengan merasakan suasana yang ingin disampaikan penulis, setidaknya pembaca akan sedikit lebih mudah untuk memahami cerita walaupun pada beberapa bagian penulis menyajikan adegan-adegan yang menunjukkan kekerasan bahkan pembunuhan.

Bagi sebagian pembaca hal ini bisa saja sangat tidak nyaman dan mengganggu sehingga ada kemungkinan bagi merka untuk tidak melanjutkan cerita.

Namun, bagi orang yang tidak mempermaslahkan kehadiran adegan-adegan kekerasan, mereka akan lebih nyaman dalam membaca cerita.

Seseorang dengan ketertarikan yang tinggi terhadap dunia politik sangat cocok untuk membaca cerita ini karena mereka akan mendapat kepuasan dalam membaca cerita yang sesuai dengan minat mereka.

Hal itu dikarenakan pada saat ini sudah sangat jarang ada karya yang membicarakan tentang politik.

Pada saat ini banyak penulis yang lebih memilih topik percintaan dalam menulis karya sastra karena mereka menganggap topik tersebut lebih diterima dan disuaki oleh kalangan remaja saat ini.

Dengan demikian, secara keseluruhan antologi ini sudah sangat bagus dari segi bahan cerita dan pengembangannya, topik dan alurnya juga sudah bagus dan menarik untuk dibaca, namun buku ini akan kurang cocok jika diajarkan pada jenjang di bawah SMA karena alurnya yang cukup kompleks.

Bagi seseorang yang menyukai dunia sastra dan suka dengan hal baru mingkin buku ini cocok untuk dibaca karena penulis menghadirkan kebaruan pada buku dengan menghadirkan gaya penulisan yang berani dan terkesan secara terang-terangan.

Kompleksitas dalam buku ini mungkin menjadikan buku ini beda dengan buku-buku sebelumnya yang memiliki alur tidak terlalu rumit, namun jangan sampai kerumitan alur ini justru membuat buku ini menjadi buku yang sulit dipahami dan pesannya tidak tersampaikan.

Dengan adanya cerpen ini diharapkan bisa membuka kemungkinanan- kemungkinan bagi penulis lain untuk menulis karya yang sejenis dengan ini, karena jika dilihat lebih teliti, karya seperti ini akan bisa menumbukhan minat yang lebih tinggi terhadap budaya membaca.

Walaupun sebuah karya sastra merupakan hal fiksi namun tidak menutup kemungkinan bahwa yang diceritakan di dalam karya tersebut merupakan fakta yang dikemas dengan gaya fiksi sehingga bisa lebih diterima di masyaratakat.

Jika dilihat dari apa yang ditulis dalam buku ini, penulis ingin secara halus menyuarakan pendapatnya tentang apa yang terjadi namun dikemas dengan gaya penulisan fiksi agar tidak terlalu terkesan condong pada organisasi tertentu.

Selain dijadikan sebagai hiburan, karya sastra semacam ini bisa juga dijadikan bahan pengetahuan untuk menambah wawasan bagi pembaca karena tidak menutup kemungkinan ada sebuah fakta yang terselip di dalam cerita.

Jika memang tidak ada fakta, setidaknya pembaca bisa mengambil nilai kehidupan yang ada pada cerita untuk dijadikan pedoman dalam bermasyarakat.

Pembaca juga bisa meniru gaya pengkritikan yang dilakukan oleh penulis, yaitu mengkritik suatu hal dengan menghadirkan data fakta dan kemudian dikemas dmenjadi sebuah karya sastra.

Setidaknya dengan membaca antologi ini pembaca akan lebih tergugah dan terdorong untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya yang bisa menghasilkan perubahan bagi bangsa Indoensia.

Jika seseorang tidak bisa merubah hal besar maka setidaknya ia ikut berkontribusi membuat satu titik untuk bisa menjadi sebuah garis panjang.


*) Fanisya Azzahro, Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya
Melodi Cinta Tak Terucap
Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru

Moh. Aqil (Foto: dokumen pribadi)

Puisi

Puisi-puisi Moh Aqil Madura

Minggu, 14 Jul 2024 - 13:35 WIB

Miftahol Hendra Efendi (Foto: dokumen pribadi)

Mimbar

Kegagalan Data Sosial, Ironi Kesejahteraan Pamekasan

Minggu, 14 Jul 2024 - 08:30 WIB

Keluarga Mahasiswa Sumenep Yogyakarta (KMSY) gelar KMSY Festival, Sabtu 13/7/2024 (Foto: nolesa.com)

Daerah

KMSY Perkuat Persaudaraan dengan Festival

Sabtu, 13 Jul 2024 - 23:00 WIB

Warga kampung lagi duduk dan ngobrol santai di sebuah gubuk (Foto: nolesa.com)

Mimbar

Ngampunglah Selagi Mampu

Sabtu, 13 Jul 2024 - 21:46 WIB

Mimbar

Mencermati Pembubaran Diri Jamaah Islamiyah

Sabtu, 13 Jul 2024 - 05:30 WIB