PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Redaksi Nolesa

Sabtu, 1 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Dr. Mawaidi D. Mas

ESAI, NOLESA.COM – Usia, entah siapa yang memulainya, entah juga kapan, mulai melekat kepada suatu kota, alih-alih sebagaimana benda hidup yang berarti juga akan mati, usia yang melekat pada nama tempat ini menandai perkara “kebangkitannya”. Sejak itu, nama sebuah tempat mulai dirayakan, utamanya kota-kota, sebagai hari jadi. Kalau kota pernah dibangkitkan, apakah ia juga akan terkubur untuk menandai akhir riwayatnya?

Bodie, sebuah kota di sebelah timur pegunungan Sierra Nevada di Mono County, California, Amerika Serikat, menyejahterakan puluhan juta penduduknya dengan kekayaan tambang emas terbesar. Pada 1859 sejak ditemukannya logam mulia itu, kota ini berjaya hingga tahun 1880, sebuah kota yang berusia usia 21 tahun. Memasuki abad ke-20, ditandai kebakaran pada tahun 1932, kota ini menjadi neraka yang melahap hampir seluruh bangunan. Secara berangsur, para penduduknya melakukan migrasi ke kota lain. Bodie, kini dijuluki kota hantu, memperpanjang daftar the ghost town di antara Pompeii (Italia), Pripyat (Ukraina), dan Kolmanskop (Namibia).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau tidak karena bencana alam, sebuah kota menjadi mati karena ulah manusia yang berambisi mengeruk kekayaan bumi. Seolah-olah ketika kekayaan itu diperoleh, ia bisa dibawa pergi ke planet yang lain dan lebih menjanjikan daripada planet yang bernama Bumi.

Didier Queloz, pemenang Nobel Fisika tahun 2019, berujar: “We’re not built to survive on any other planet than this one … We’d better spend our time and energy trying to fix it”. Melalui tulisan Olivia Campbell, kita dapat menyaksikan ujaran Didier Queloz yang menunjukkan terbentuknya tabiat betapa pengecutnya manusia. Menurut Queloz, “Bintang-bintang begitu jauh, aku pikir kita tidak seharusnya benar-benar memiliki harapan serius untuk melarikan diri dari Bumi.” Vandana Shiva, aktivis lingkungan, dalam tulisan-tulisannya juga menunjukkan bahwa tidak ada planet yang lebih baik dari Bumi. “Bumi juga tidak meminta apa pun kepada manusia selain untuk merawatnya,” tulis Dewi Candraningrum dalam buku serial ekofeminisme edisi terakhir.

Baca Juga :  Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Tetapi, banyak kota yang menutup telinga terhadap kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh agendanya sendiri. Banyak kota yang menunggu dirinya terbakar. Jangankan menumbuhkan ekonomi rakyat seperti janji manisnya ketika kampanye, banyak agenda sebuah kota justru berpaling dari kebutuhan masyarakat lokal. Proyek besar seperti batu bara, minyak bumi, gas alam, emas, tembaga, dan nikel bagi sebuah kota adalah agenda nomor wahid karena lebih melenakan para penyokong.

Melihat agenda-agenda yang meresahkan itu, Sumenep, kabupaten tempat saya lahir, hari ini merayakan hari lahirnya yang ke-756; sebuah usia yang panjang. Sumenep memang bukan Bodie, Pompeii, Pripyat, atau Kolmanskop; yang ke semuanya itu berangsur meminta kembali apa yang pernah menjadi miliknya. Tetapi, dapatkah kita memastikan kota ini tidak akan meminta kembali apa yang pernah menjadi miliknya?

Di hari jadinya ini, kota ini sudah lama berlomba memoles wajahnya dari yang mantap, kota pariwisata, hingga ke kota keris. Akselerasi itu telah membuahkan hasil. Sejumlah prestasi telah diperoleh pemerintah. Pertanyaannya, sudahkah prestasi itu juga berdampak kepada masyarakat akar rumput? Jika iya, masyarakat akar rumput belahan mana yang mendapatkan dampak tersebut?

Baca Juga :  Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Untuk melihat ini, saya perlu melihat Sumenep dari kacamata orang luar dengan tujuan, sebagaimana kata pepatah, agar tidak menjadi katak dalam tempurung.

Orang lebih akrab mengenal Madura ketimbang Sumenep. Ironisnya, pengetahuan itu bersifat streotipe; pekerja besi dan penjual sate. Belakangan mulai muncul streotipe baru bahwa semua orang Madura pekerja toko kelontong 24 jam. Kendati anggapan itu tidak keliru, menjadi Madura seolah-olah entitas tunggal yang menghuni sebidang tanah 10 x 10 meter dengan watak, karakter, mata pencaharian, budaya, dialek, dan bahasa yang sama.

Namun, bagi warga Yogyakarta bagian utara seperti masyarakat Plosokuning (Minomartani) atau Ndero (Wedomartani) yang setiap tahun datang ke Asta Sayyid Yusuf di Pulau Talango, tentu bisa menepis anggapan bahwa Madura 10 x 10 meter. Madura adalah nama kepulauan yang memiliki empat kabupaten, salah satunya kota Sumenep yang berada di ujung timur dengan daya tempuh kurang lebih 5 jam dari Suramadu.

Yang tidak banyak diketahui juga Sumenep sebagai kota kepulauan. Ada 126 pulau di Sumenep; 48 berpenghuni dan 78 tidak berpenghuni. Masalah mendasar kota ini dimulai dari sini. Di tengah asyiknya dengan agenda proyek migas di beberapa pulau di Sumenep, termasuk di Pulau Kangean, kota ini menyisakan PR kecil yang belum dirampungkan.

Baca Juga :  Achsanul Qosasi Lokomotif Bertenaga Tinggi Sang Penarik Gerbong UNIBA Madura

Kurang lebih 10 tahuan yang lalu kota ini mewacanakan potensi wisata Pulau Gili Iyang dan sekitarnya. Proyek besar pelabuhan Dungkek dibangun. Ironisnya, pelabuhan terbengkalai. Cita-cita ingin mendongkrak ekonomi untuk masyarakat setempat hanya jadi pemanis semata. Di pelabuhan ini, jarak dengan pulau-pulau bagian timur sangat dekat seperti Kangean dan Sapeken, apalagi dengan Gili Iyang, Raas, atau Sepudi. Dari pelabuhan ini pula, roda ekonomi seharunya bergulir ke sektor-sektor yang lain, seperti di sektor maritim atau sektor agraris dengan kekayaan alamnya.

Tetapi, meningkatkan keberlangsungan ekonomi rakyat akar rumput tidak selalu jadi primadona sebuah kota. Sebuah kota yang suram akan terus menjerembabkan rakyatnya, senang melihat SDM-nya berpendidikan rendah, dan bila saatnya tiba hanya iming-iming beras 5 kilo dan amplop 100 ribu yang bisa menghibur mereka. Bukankah capaian sebagai kabupaten termiskin ketiga di Jawa Timur itu juga sebuah prestasi?

Sekali lagi, tentu Sumenep tidak akan menjadi Bodie, Pompeii, Pripyat, atau Kolmanskop. Tetapi, mungkin akan menjadi kota yang penduduknya melakukan migrasi besar-besaran ke pulau tetangga, mengais rupiah selama 24 jam hingga kiamat tiba. Sekali lagi, sebagaimana dalam kisah fiksi, kota yang suram akan senang jika penduduknya hengkang, dengan begitu sebuah kota bisa leluasa bermain-main dengan pengeboran.

*) Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kelahiran Sumenep

Berita Terkait

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Refleksi Hari Santri Nasional 2025
Program MBG Presiden Prabowo dan Ancaman Inkompetensi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:05 WIB

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB