Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Redaksi Nolesa

Sabtu, 22 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nityasa Resti Widiyatna (Foto: dokumen pribadi)

Nityasa Resti Widiyatna (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Nityasa Resti Widiyatna

(Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta)


Cinta barangkali abstrak namun dapat dirasakan kehadirannya. Kehadirannya setiap orang merasakannya dalam berbagai bentuk. Bentuk cinta tersebut dirasakan melalui semua indera masing-masing manusia. Uniknya rasa itu seperti rahasia besar yang selalu ingin diulik. Datang dengan sembunyi, perlahan, dan bahkan terkadang tak disadari oleh pemiliknya. Setiap orang mungkin dapat dikatakan petualang cinta, menemukan adanya cinta dan memoles menjadi keberhargaannya dalam hidup. Cinta tidak menuntut banyak hal sederhana saja ingin selalu diakui keberadaannya tetapi manusia banyak mengelak dengan hadirnya. Setiap manusia pasti merasakan adanya cinta yang bekerja bersama hati dan logika tak disadari semesta duduk manis memandang cinta itu hadir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adi K. misalnya, beliau mendefinisikan Cinta dan kasih sayang yang akhirnya ia tuangkan melalui goresan sajak-sajak indah. Kekagumannya, pencariannya, pelepasannya, dan penggambarannya mengenai cinta sebagai warna hidup tercurahkan sebagai sebuah karya indah berupa antologi puisi. Antologi puisi karya Adi K. sedikitnya menggambarkan makna sebuah cinta dari sudut pandangnya sebagai mahluk pecinta atau membutuhkan cinta barangkali. Buku antologi puisi yang berjudul Sesunyi Cahaya merupakan buku fiksinya kesebelas. Judulnya diambil dari perenungannya saat melukis. Dari hobinya melukis dengan cahaya, antologi puisinya ini beliau beri judul Sesunyi Cahaya. Seperti cahaya yang sunyi, cinta barangkali hadir dalam kesunyian itu, sederhana tapi indah.

Datang dengan sembunyi dan rahasia. Cinta namanya tak seorang pun dapat mengelak kehadirannya. Hadirnya tak pernah diundang namun selalu ditunggu. Setiap manusia selalu menunggu kapan cinta itu datang, hingga sampai tak sabar mereka mulai berjuang mencari cinta tersebut. Salah satu puisi milik Adi K. berjudul “seluas langit” yang sedikit banyak mengambil arti cinta sebuah perjuangan yang tidak akan usai. Pada baris pertama tak bisa dan tak akan berhenti penulis sudah secara terang menggambarkan sebuah kesabaran dan kegigihan dalam mendapatkan sebuah cinta artinya si dia tak akan bisa menyerah dan tak akan berhenti menyerah untuk mendapatkan cintanya. Selanjutnya dipertegas dengan baris kedua bahkan jika belum pernah bertemu artinya sebuah cinta tidak tidak mempersoalkan tentang apapun, jika dianalisis dengan citraan, sebuah pertemuan akan menghasilkan citraan visual, citraan kinestetik, dan citraan rabaan dengan menampilkan citraan penulis ingin mengungkapkan bahwa cinta tidak menilai segala yang dapat dirasakan oleh indra manusia. Cinta secara naluriah hadir dengan sopan tanpa mencacatkan sebuah fisik.

Baca Juga :  Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Kerahasian cinta menarik semua saja yang merasakannya. Seperti kotak Pandora yang memanggil untuk dibuka isinya, cinta meminta untuk selalu diulik rahasinya, semakin banyak rahasia itu semakin besar cinta itu tumbuh dan semakin kuat juga rasa ingin memilikinya. Perlahan terbuka rahasia-rahasia itu, kecil-kecil mulai dirangkai menjadi sebuah makna. Perlahan cinta mulai memantaskan dirinya dan melupakan semua kelemahan yang ada bahkan jika aku belum tahu Namamu yang sebenarnya, dapat dikaitkan dengan sebuah kebesaran atau kekuatan yang besar.

Jika dikaji dengan religi Namamu disini bermakna tuhan atau sebuah agama, sehingga penulis tidak mempermasalahkan sebuah perbedaan agama menghambat cinta itu tumbuh. Namun Namamu juga dapat berarti sebuah jabatan atau kekuasaan yang besar, dan artinya penulis juga tidak mempermasalahkan sebuah jabatan menghalangi cinta itu sendiri. Dilanjutkan dengang bahkan jika Kita dijodohkan oleh nasib buruk sajak ini bermakna bahwa cinta hadir tanpa syarat, syarat bahwa cinta datang harus dalam keadaan bahagia atau membahagiakan yang memilikinya namun demikian cinta juga hadir dalam sebuah kesengsaraan untuk yang mau memilikinya.

Logika hilang termakan habis oleh kata cinta, sederhana namun luas dampaknya. Berbondong manusia datang untuk siap menerima cinta bahkan logika sudah tak dapat dipantaskan dengan nilai cinta. Rancu hilang termakan budak sebuah cinta. Gilanya semua diperdagangkan untuk dapat cinta bahkan yang terlihat sangat tidak masuk akal jadi jangan bilang kalau cintaku tak seluas tujuh langit yang sengaja kau buat untuk menghalangiku darimu. Menggambarkan sebuah ketulusan cinta untuk terus mendapatkan cintanya itu. Melalui perjuangan yang mungkin dapat dikatakan mustahil juga dilakukan, namun sebuah cinta yang dimiliki tak akan habis.

Besarnya cinta manusia barangkali belum ada apa-apanya dengan cinta tuhan. Tidak secara terang-terangan cinta Tuhan datang pada umatnya tetapi secara senyap dan suci, cintanya selalu memberikan sebuah bualan mesra untuk semua yang mampu mengartikannya. Tak hanya dimaknakan sebuah cinta sepasang manusia, puisi ini juga dapat dijelaskan dari sudut pandang Tuhan yang mencintai umatnya, Tuhan digambarkan tak akan berhenti dan tak akan bisa berhenti untuk mencintai umatnya walaupun Tuhan tau umatnya itu belum pernah bertemu dengannya sehingga muncul ketidakpercayaan dengan cintanya. Tuhan tak pernah pilih kasih untuk menyebarkan cintanya, baik tua, muda, konglomerat, miskin, tampan, ayu, buruk, dan masih banyak lainnya Tuhan menyamai rasa cintanya pada umatnya bahkan jika umatnya memiliki nasib buruk, Tuhan akan selalu ada dan merangkulnya untuk menggambarkan rasa sayang dan cintanya terhadap umatnya. Jadi berbaik sangkalah terhadap Tuhan, karena cintanya tidak akan habis bahkan jika kita melakukan kesalahan sebanyak “tujuh langit”, Tuhan akan datang dan merangkul untuk mencintai umatnya.

Baca Juga :  Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural

Cinta tak lekang dengan adanya duka, rasa sesal, dan amarah, singkatnya itulah ujian dari cinta. Untuk urusan tersebut barangkali cinta ingin meningkatkan nilainya, seberapa berharganya ia dalam sebuah goncangan masalah yang terbentuk. Batu kerikil akan mudah tergerus habis jika diterpa dengan tekanan yang kuat namun untuk menghancurkan sebuah berlian perlu tekanan yang berpuluh kali lipat lebih besar untuk merusaknya. Begitulah cinta membuktikan keberhargaan akan selalu ada api. Di sini. Bahkan nanti, di sana. Puisi berjudul ”Akan Selalu Ada Api” merupakan sebuah pengungkapan secara implisit oleh penulis. penulis menggambarkan bahwa sebuah hubungan tidak akan nada yang sempurna sekalipun kita mengubah pasangan kita untuk mencari yang lebih sempurna, pastilah ada celah ketidaksempurnaan sebuah cinta.Ketidaksempurnaan itu hadir sebagai ujian keberhargaan sebuah hubungan cinta. Ketidaksempurnaan itu digambarkan oleh penulis melalui sebuah api, api adalah material yang merusak segala sesuatu yang ditemuinya, jadi penulis ingin menyampaikan pada sebuah hubungan cinta janganlah untuk menghadirkan api, atau dalam kata lain mencari ketidaksempurnaan pasangan untuk mengakhiri sebuah hubungan yang seharusnya tidak perlu dibakar oleh api. akan selalu ada sepi di sendiri. Bahkan juga di kita. dapat dimaknakan jika sebuah hubungan telah menghadirkan api, hubungan tersebut akan hadir sebuah ketidakharmonisan berupa makna cinta yang hilang, hilang ketika sepi itu datang dalam sebuah hubungan. Atau sederhananya berhubungan namun dikelilingi dengan kebisuan dari kedua belah pihak sudah tak ada mimpi, harapan, dan tujuan karena itu semua sudah habis dibakar oleh api. Dituliskan Di sendiri dan di kita. Seharusnya dalam penulisan preposisi “di” ditulis secara bersambung dengan keterangan “sendiri” dan “kita” namun pada puisi ini ditulis secara terpisah, yang artinya penulis ingin mengatakan jika kata “sendiri” dan “kita” adalah kata yang merujuk pada sebuah tempat. Kata di sendiri mengungkapkan bahwa ada sebuah kesepian pada setiap orang yang menghadirkan api pada cintanya, sendiri juga mengartikan kehampaan yang sudah habis dibakar oleh sebuah api masalah yang seharusnya bisa diredam. Pada kata di Kita, juga kurang lebih sama, yaitu menggambarkan kehampaan di antara “kita” yaitu kedua belah pihak yang sudah menghadirkan “api” pada hubungannya.

Baca Juga :  Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sederhana cinta itu hadir namun selayaknya wanita sebuah cinta juga butuh diakui kehadirannya. Puisi berjudul “Lolos” mengatakan sebuah cinta selalu cerewet dengan dengung pertanyaan mengenai kehadirannya, pertanyaan ringan namun kesan berat yang menggerayangi terlihat. Lolos barangkali menjadi kata diimpikannya, lolos dari segala pertanyaan gila yang memusingkan. Gema suara pertanyaan itu semakin kuat setiap harinya aku selalu merasa bisa lolos dari segalanya, termasuk dari pertanyaan-pertanyaanmu, kelak hingga disitulah penulis tau hanya waktu yang dapat menjawab, kelak.

Dari tiga puisi yang telah sedikit dikupas dan dipahami maknanya, buku ini menggambarkan semua rasa yang ada pada sebuah cinta. Cinta tak hanya menggambarkan sebuah kebahagiannyayang sering digaungkan beberapa penyair, Adi K justru mengembangkan bahwa cinta itu menyakitkan dan penuh perjuangan yang tidak mudah. Sehingga pembaca mendapat suasana baru mengenai cinta, yaitu cinta tak hanya kebahagiaan tapi ada rasa sakit, susah, dan mungkin menghancurkan. Bermain dengan cinta harus pula mau bermain dengan rasa sakit, susah, dan mungkin saja dapat hancur.

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Melodi Cinta Tak Terucap
Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan
Ekspresi Jiwa Manusia dalam Amuk Karya Sutardji Calzoum Bachri

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru