Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”

Redaksi Nolesa

Rabu, 29 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh | Abd. Kadir

ESAI, NOLESA.COM – Kemarin (28/10/2025), sahabat saya, Mas Ating—teman kelas waktu masih jadi santri di Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar—silaturrahmi ke kantor. Dalam pertemuan itu, diskusi panjang lebar dengan beragam tema kami lalui. Karena hari itu pas Hari Sumpah Pemuda, diskusi sepuar Sumpah Pemuda juga tak luput dari perbincangan kami.

Ada yang menarik dari pernyataan teman saya tentang Sumpah Pemuda. “Tretan, Sumpah Pemuda yang menua, dalam tanda kutip” ujarnya sambil tertawa ringan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya pun ikut tertawa, meskipun sebenarnya cukup kaget mendengarnya. Bahasanya yang unik ini membuka ruang berpikir saya untuk merefleksi Sumpah Pemuda yang memang sudah hampir satu abad.

Dalam konteks ini, bahasa teman saya (dalam tanda kutip) yang disematkan pada kata “menua”, memberi kesan reflektif sekaligus kritis, seolah mempertanyakan: apakah benar Sumpah Pemuda telah menua, atau justru semangat kitalah yang mulai pudar?

Baca Juga :  Mendengar Jeritan Suara Rakyat dalam Bait-Bait Baru 81

Sekali lagi, Sumpah Pemuda kini telah berusia hampir satu abad. Ibarat manusia, ia sudah menua—rambutnya memutih, langkahnya melambat, dan suaranya tak lagi lantang seperti dulu. Namun, di balik keriput sejarah itu, masih tersimpan semangat yang menunggu untuk dibangunkan kembali oleh generasi muda hari ini. Artinya, “menua” di sini tentu bukan soal waktu yang berjalan. Sejarah tak pernah benar-benar tua, karena yang menua adalah cara kita memaknainya.

Diakui, bahwa pada tahun 1928, Sumpah Pemuda lahir dari dada yang bergelora. Para pemuda dari berbagai daerah berkumpul bukan untuk bersaing, melainkan untuk menyatu dalam satu cita: tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Mereka tidak memiliki media sosial, tidak ada jaringan internet, tapi mereka punya satu hal yang langka di zaman sekarang yakni kesadaran akan pentingnya persatuan dan tanggung jawab kebangsaan.

Dulu, Sumpah Pemuda adalah percikan api yang menyatukan bangsa dari sekat-sekat perbedaan. Ia lahir dari semangat, keberanian, dan kesadaran intelektual. Para pemuda tak punya fasilitas mewah, tapi mereka punya cita-cita besar: Indonesia yang satu, merdeka, dan bermartabat.

Baca Juga :  Problematika Hukum Batas Usia 58 Tahun untuk Calon Sekda Kabupaten/Kota

Kini, Sumpah Pemuda kadang terasa seperti simbol yang kehilangan nyala. Ia dibacakan dengan khidmat, tapi sering tanpa makna. Ia dikenang setiap tahun, tapi jarang dihayati dalam tindakan. Banyak pemuda yang terjebak dalam kenyamanan, tenggelam dalam layar, atau sibuk dengan kebanggaan diri tanpa peduli pada sesama.

Sumpah Pemuda menjadi “menua” bukan karena sejarahnya yang usang, melainkan karena kita tak lagi bersemangat seperti mereka yang dulu muda. Kita hidup di zaman yang lebih mudah, tapi justru kehilangan daya juang. Kita punya kebebasan berbicara, tapi sering lupa untuk mendengarkan. Kita pandai berdebat, tapi kurang mau berbuat.

Kini, setelah hampir seratus tahun berlalu, Sumpah Pemuda terasa menua. Namun, perlu dipahami bahwa menua bukan dalam konteks sejarahnya yang lapuk, melainkan karena semangat pewarisnya mulai pudar. Banyak pemuda kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk modernitas, sibuk mengejar ketenaran, namun lupa pada makna perjuangan. Mereka pandai bersuara di dunia maya, tetapi sunyi dalam aksi nyata.

Baca Juga :  Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Sumpah Pemuda yang dulu lahir dari idealisme, kini sering hanya diucap dalam upacara—tanpa makna yang benar-benar dihayati. Padahal, Indonesia hari ini tidak kalah membutuhkan semangat itu: semangat bersatu di tengah perbedaan, semangat berpikir jernih di tengah banjir informasi, dan semangat berkarya di tengah apatisme sosial.

Untuk itu, menjadi muda (dalam konteks Sumpah Pemuda) hari ini tidak hanya sekadar usia, tetapi sikap batin untuk tetap menyala ketika yang lain padam. Maka tugas kita bukan sekadar mengenang Sumpah Pemuda, melainkan memudakan kembali semangatnya: mengisi maknanya dengan gagasan, karya, dan literasi, karena jika semangat itu menua dan kita diam saja, maka yang menua bukan hanya Sumpah Pemuda, tetapi juga cita-cita bangsa ini. Semoga!

*) Sumenep PP Mathali’ul Anwar Sumenep

Berita Terkait

Empat Hari di Mulyodadi
Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)
Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E
Jantung Batik Solo
Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan
Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan
Taruhan Masa Depan: Remaja Terikat Judi Online
“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 15:15 WIB

Empat Hari di Mulyodadi

Senin, 8 Juni 2026 - 11:45 WIB

Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:26 WIB

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:44 WIB

Jantung Batik Solo

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:31 WIB

Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan

Berita Terbaru