Empat Hari di Mulyodadi

Redaksi Nolesa

Senin, 15 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Mawaidi D. Mas

ESAI, NOLESA.COM – Telepon itu datang menjelang akhir tahun. Pada sebuah obrolan singkat di telepon, seseorang yang akhirnya saya tahu adalah ketua TP PKK di tingkat desa, meminta saya berbagi sesuatu. Ia hanya ingin tahu satu hal: adakah cara untuk membuat anak-anak dan remaja di desanya bisa menulis?

Pertanyaan sederhana. Tapi justru pertanyaan semacam itulah yang paling sulit dijawab dengan mudah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pikiran saya pertama-tama melayang ke sebuah obrolan terpisah beberapa tahun silam bersama guru saya seperti Hasta Indriyana, Dwi Raharyoso, dan Endry Sulistyo. Kala itu kami membicarakan proyek penulisan sejarah kampung yang mereka gagas dan realisasikan di wilayahnya. Hasilnya jelas: warga menulis, kenangan terabadikan, identitas desa menjelma teks. Metode itu sejauh ini menarik dan sudah terbukti.

Tapi setelah obrolan lebih dalam dengan ketua PKK, saya urung menerapkannya di Mulyodadi, sebuah desa di ujung selatan Yogyakarta.

Pesertanya: belasan anak SD, beberapa siswa SMP, dan dua orang SMA. Menggali sejarah kampung membutuhkan wawancara dengan tetua desa, kerja verifikasi data, dan waktu yang tidak sedikit. Sementara saya hanya punya empat hari. Mustahil memaksa anak-anak itu menyelami arsip yang bahkan orang dewasa pun sering enggan menyentuhnya.

Baca Juga :  Sneak Peek Deblis

Namun satu hal pasti: empat hari bersama mereka tidak boleh berlalu tanpa karya.

Maka saya susun ulang rencana. Hari pertama: pengenalan penulisan kreatif. Hari kedua: pelatihan menulis cerita. Hari ketiga: penulisan biografi. Hari keempat: penulisan berita. Semuanya bertolak dari satu prinsip yang sama: kearifan lokal Mulyodadi sebagai sumber dan ruh tulisan.

Yang Sedikit itu Langka

Namun, ada yang sedikit mengejutkan ketika saya tiba di desa ini.

Mulyodadi adalah kasus yang langka. Di tengah kecenderungan umum desa-desa yang lebih memilih program-program praktis dan terukur dampak ekonominya, Mulyodadi justru memfasilitasi pelatihan menulis kreatif untuk anak dan remajanya. Bagi ketua PKK, ini bukan sekadar program. Ini amanah buat desa. Kalurahan mereka telah mendapat predikat desa budaya dari provinsi, dan kesadaran berbudaya pada generasi muda tidak bisa hanya jadi pajangan matriks atau dibiarkan tumbuh liar atau layu begitu saja. Desa di sisi lain juga sadar bahwa mereka sedang menghadapi siklus yang baru: dana desa telah mengalami pengalihan anggaran besar-besaran.

Antusiasme desa dan anak-anak menakjubkan. Saya tidak bisa berhenti di empat hari itu saja.

Mulyodadi, saya pikir, tidak hanya butuh seorang mentor penulisan kreatif yang hadir sekali lalu pergi. Anak-anak itu membutuhkan ekosistem: akademisi sekaligus seniman yang bisa menghidupkan kesadaran akan kekayaan lokal yang ada di sekitar mereka. Beruntung, seniman tari Enis Niken Herawati dan Wenti Nuryani bersedia dilibatkan. Program ini kemudian bertumbuh menjadi sesuatu yang lebih formal, didukung oleh kampus, dan menjangkau lebih banyak dimensi seni dan budaya.

Baca Juga :  Segala Rasa yang Tersimpan dalam Hati yang Tidak Bisa Dikendalikan pada Puisi “Pasuka Hati” Karya Mustofa W Hasyim

Pembangun Ekosistem

Di sinilah saya ingin berbicara lebih jauh melampaui cerita perjalanan empat hari itu.

Kita hidup di tengah negara yang tampak gamang mengurus kebijakan pendidikannya sendiri. Prioritas berpindah-pindah, kurikulum berganti seiring pergantian menteri, dan anak-anak menjadi yang pertama menanggung ketidakpastian itu. Uniknya, ada satu instrumen kecil yang justru bergerak tenang dari bawah: sebuah desa yang memilih mengajarkan menulis.

Mengajarkan penulisan kreatif berbasis budaya memang tidak berbanding lurus dengan kecakapan sains dan teknologi yang kerap dijadikan tolok ukur kemajuan bangsa. Tidak ada rumus, tidak ada grafik pertumbuhan yang bisa ditunjukkan kepada evaluator. Namun, ada sesuatu yang tumbuh secara diam-diam ketika seorang anak belajar menulis tentang sawah yang kering di belakang rumahnya, tentang sungai yang tercemar di dekat rumahnya, atau tentang legenda yang ia dengar dari kakek-neneknya: ia sedang belajar berpikir sistematis, berempati, dan yang lebih penting yaitu mengenal dirinya sendiri sebagai bagian dari sebuah komunitas yang punya sejarah.

Baca Juga :  Demagog UU Ciptaker dalam Izin Pertambangan: Kemudahan Investasi atau Pengkhianatan terhadap Rakyat

Bukankah bangsa yang kuat adalah bangsa yang mengenal asal-usulnya?

Pertanyaan itu bukan isapan jempol semata. Ia mendesak, terutama ketika kita menyaksikan bagaimana layar-layar kecil di tangan anak-anak itu memancarkan arus konten yang terus-menerus menggeser perhatian mereka; dari yang dekat ke yang viral, dari yang bermakna ke yang sekadar menggoda. Bukan teknologinya yang berbahaya; melainkan ketika konten yang mengisi ruang itu tidak lagi berpijak pada nilai apa pun selain sensasi sesaat. Fondasi kebudayaan yang lemah membuat seseorang mudah hanyut, memang bukan ke rimba yang menakutkan, tapi ke kekosongan yang jauh lebih berbahaya karena tidak terasa.

Itulah mengapa program seperti yang berlangsung di Mulyodadi terasa begitu mendesak, justru di tengah kondisi serbatidak pasti ini. Bukan karena menulis adalah solusi atas semua persoalan. Tapi karena menulis, khususnya menulis dari akar budaya sendiri, adalah salah satu cara paling sederhana untuk membangun anak-anak yang tahu dari mana mereka berasal, dan karenanya tahu ke mana mereka ingin pergi.

Empat hari di Mulyodadi mengajarkan saya itu.

*) Esais tinggal di Yogyakarta

Berita Terkait

Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)
Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E
Jantung Batik Solo
Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan
Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan
Taruhan Masa Depan: Remaja Terikat Judi Online
“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 15:15 WIB

Empat Hari di Mulyodadi

Senin, 8 Juni 2026 - 11:45 WIB

Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:26 WIB

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:44 WIB

Jantung Batik Solo

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:31 WIB

Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan

Berita Terbaru