Oleh | Abd. Kadir
ESAI, NOLESA.COM – Sepulang dari kegiatan prosesi Bajjra 3 di Taman Andhap Asor Keraton Sumenep (5 Juni 2026) kemarin, kegelisahan batin saya tentang fenomena abai orang tua terhadap pendidikan anak masih belum usai.
Bahkan, di tengah kegelisahan itu, tiba-tiba, dalam perjalanan ke rumah malam itu, saya kemudian teringat fenomena meresahkan lain yang pernah disampaikan “Kiai” Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, memang saya sempat mengikuti paparan beliau ketika memberikan kuliah umum dan seminar nasional di Universitas NU Jepara. Hal yang cukup mengejutkan dari penyampaian beliau adalah “alarm bahaya” tentang adanya fenomena schooling without learning: anak datang ke sekolah, tapi tidak benar-benar belajar.
Sudah mafhum, bahwa setiap hari, secara administratif, kita disajikan realitas tentang anak-anak kita yang sedang melangsungkan pembelajaran di kelas. Namun, di balik itu, kita juga dihadapkan pada fenomena yang memunculkan pertanyaan mendasar dan sekaligus menjadi tamparan keras bagi kita semua: ketika raga mereka berada di dalam kelas, di manakah sebenarnya jiwa dan pikiran mereka berada?
Fenomena ini juga menjadi sorotan badan dunia, UNESCO. Belakangan, UNESCO gencar menyoroti sebuah fenomena yang sangat mengusik kenyamanan kita sebagai pendidik dan orang tua: schooling without learning—sekolah tetapi tidak belajar. Fenomena ini adalah sebuah paradoks yang nyata. Angka partisipasi murni sekolah kita terus merangkak naik, gedung-gedung sekolah berdiri megah, namun esensi dari proses pendidikan itu sendiri justru sering kali menguap di udara. Anak-anak datang ke sekolah untuk menuntaskan kehadiran, menghafal baris demi baris teks demi lulus ujian, lalu melupakan semuanya begitu kertas ujian dikumpulkan. Mereka hadir secara fisik, tetapi absen secara kognitif dan spiritual.
Tantangan ini kian berlipat ganda dan menjadi semakin kompleks ketika kita melihat realitas generasi hari ini. Kita sedang berhadapan dengan generasi yang lahir dan tumbuh dalam dekapan erat ekosistem digital. Gawai tidak lagi menjadi alat bantu, melainkan perpanjangan dari tangan mereka sendiri.
Di satu sisi, teknologi membuka gerbang informasi tanpa batas. Namun di sisi lain, kita menyaksikan sebuah disrupsi psikologis yang mengkhawatirkan. Paparan media digital dengan format video pendek yang membanjiri platform seperti TikTok telah mengubah cara otak anak-anak kita bekerja. Algoritma yang menyajikan kepuasan instan dalam durasi 15 hingga 30 detik secara perlahan namun pasti telah mengikis attention span atau rentang perhatian anak-anak kita.
Anak-anak kita kini mengalami defisit fokus. Mereka terbiasa dengan stimulasi visual yang cepat, dinamis, dan menghibur. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan pada sebuah paragraf panjang dalam buku bacaan, atau ketika mereka harus merenungkan sebuah soal logika matematika yang membutuhkan ketekunan, otak mereka menolak. Mereka cepat bosan, mudah teralihkan, dan kehilangan daya tahan untuk berpikir mendalam (deep thinking). Mengajarkan literasi dan numerasi di era rentang perhatian yang pendek ini terasa seperti mengukir di atas air.
Inilah tantangan nyata di depan mata kita. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama untuk mendidik generasi baru. Jika ruang kelas kita masih mengadopsi gaya abad ke-19—ketika guru berdiri di depan mendiktekan materi dan murid duduk pasif mendengarkan—maka kita sedang menjerumuskan mereka ke dalam jurang schooling without learning yang lebih dalam.
Kita harus mengubah haluan secara radikal. Literasi dan numerasi tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai deretan angka di atas kertas rapor, atau target statistik pencapaian nasional semata. Literasi bukanlah kemampuan mekanis mengeja kata, melainkan kemampuan mencerna informasi, memisahkan fakta dari hoaks, dan memahami makna di balik teks. Begitu pula numerasi. Ia bukan sekadar menghafal rumus perkalian, melainkan kemampuan bernalar, memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan mengambil keputusan berbasis logika yang kuat.
Bagaimana kita menjawab tantangan ini? Kuncinya adalah mentransformasi pengalaman belajar di ruang kelas. Kita harus menggeser paradigma dari “kejar tayang materi kurikulum” menjadi pembelajaran yang bermakna dan mendalam.
Pertama, guru harus bertransformasi dari seorang penceramah menjadi fasilitator petualangan intelektual. Pembelajaran harus dirancang secara interaktif dan kontekstual. Jika anak-anak menyukai visual yang dinamis, guru perlu menghadirkan pembelajaran berbasis proyek yang menantang kreativitas mereka. Maemanfaatkan teknologi bukan untuk memindahkan teks buku ke layar digital, melainkan untuk menciptakan simulasi, eksperimen, dan ruang kolaborasi yang memantik rasa ingin tahu mereka.
Kedua, perlu melatih kembali daya fokus anak melalui pembiasaan yang konsisten. Membaca nyaring, diskusi kelompok yang mendalam, serta permainan logika yang membutuhkan strategi jangka panjang harus kembali dihidupkan di sekolah dan di rumah. Orang tua juga memegang peran krusial sebagai jangkar di rumah untuk membatasi konsumsi konten instan demi mengembalikan ketahanan mental anak dalam berkonsentrasi.
Ujian sesungguhnya dari sistem pendidikan kita bukanlah seberapa banyak anak yang berhasil menghafal isi buku, melainkan seberapa besar rasa ingin tahu yang tersisa di kepala mereka ketika mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah. Maka, sudah saatnya untuk menghentikan siklus formalitas ini. Sudah saatnya pula untuk mengubah ruang kelas menjadi ekosistem yang hidup, yang mampu merebut kembali perhatian anak-anak kita dari layar gawai, dan mengubah setiap detak waktu di sekolah menjadi momen belajar yang sejati dan melekat sepanjang hayat. Semoga!
*) Pengurus Yayasan Binar Sokkla Atena Sumenep









