Segala Rasa yang Tersimpan dalam Hati yang Tidak Bisa Dikendalikan pada Puisi “Pasuka Hati” Karya Mustofa W Hasyim

Redaksi Nolesa

Sabtu, 8 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Ghiovita Fatika Putri*


Sesaat sebelum membaca puisi ini saya berfikir, puisi ini pasti mengenai cinta karena bersinggungan langsung dengan judul Pasuka Hati.

Namun, dugaan itu salah, setelah membaca puisi ini secara keseluruhan, tidak ada sedikitpun unsur cinta di dalamnya, melainkan mengenai beragamnya sifat manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam diri manusia pasti memiliki sifat dan kondisi masing-masing. Perasaan dalam hati yang bisa berubah sesuai keadaan, bisa dari dalam diri kita atupun malah dari luar yang tidak bisa kita kendalikan.

Terdapat kebaikan dan keburukan yang selalu mengelilingi, tergantung mana yang akan kita pilih, walupun pasti ada serangan lahir dan batin di antarannya.

Maka, bisa jadi muncullah pertikaian, antara yang baik dan yang baik dan buruk, dalam pertikaian pun pasti ada yang menang dan yang kalah. Namun, kitab bisa meyembuhkan itu dengan memohon dan menililai diri kita kembali.

Puisi Pusaka Hati karya Mustofa W Hasyim ini sangat bermakna dimulai dari judul Pasukan hati, pasukan yang berarti kumpulan atau kelompok, dan hati adalah tempat perasaan batin. Yang berarti pasukan hati dan kumpulan tempat perasaan batin, dalam hati manusia memilki berbagai rasa.

Baca Juga :  Kretek: Rokok yang Berawal dari Obat?

Dilanjutkan makna pada baris pertama dalam pertempuran antara ruang dan waktu puisi ini dimulai dengan merujuk pada konflik antara ruang dan waktu, ruang dan waktu sangatlah luas, dan memiliki makna bahwa ruang adalah dunia ini dan waktu adalah penanda kehidupan kita di dunia.

Dan memang, kehidupan ini hanya bergelut dengan ruang dan waktu; masa silam dan masa depan. Masa silam adalah kenangan dan masa lalu dan masa depan adalah masa yang tidak akan berujung; antara matahari tenggelam dan fajar menyingsing menggambarkan matahari tenggelam berarti akhir hari, dan fajar menyingsing berarti awal hari, memperlihatkan konflik antara kegelapan dan harapan; pertempuran antara ancaman dan senyuman ini menggambarkan pertempuran antara hal-hal yang menakutkan dan hal-hal yang membawa kebahagiaan.

Terdapat sembilan baris yang diawali oleh kata “antar”.

Antara berarti perbandingan, membandingkan antara satu dengan yang lain, baik dengan buruk ataupun membandingkan dua hal yang berbeda.

“Antara palsu dan yang sejati” dimaknai dengan perjuangan untuk membedakan antara yang palsu dan yang sejati dalam kehidupan.

Baca Juga :  Refleksi Hari Santri Nasional 2025

“Antara kecemasan dan merpati yang mengelilingi langit “berarti pada perjuangan antara rasa khawatir, dan merpati yang mengelilingi langit berarti merpati terbang dalam kebebasan.
Tanpa adanya batasan .

“Antara rumput bersama semut melawan sepatu besi” bermakna pada semut yang kecil melawan sepatu besi yang kuat maka akan mati, bohongan jika mahluk kecil itu tidak akan mati.

“Antara sunyi yang jernih dengan gaduh yang keruh” dimaknai dengan perbedaan antara ketenangan dan kebisingan dalam kehidupan.

“Pasukan hati” munculnya kembali dua kata “pasukan hati” yang menunjukkan peran penting perasaan yang ada di dalam hati yang berupa kasih sayang dalam menghadapi semua pertempuran.

“Dalam pertempuran yang dahsyat atau yang biasa-biasa” dimaknai bahwa pertempuran ada dalam berbagai tingkatan, dari yang biasa sampai yang paling luar biasa, dari kecil sampai yang besar, pertempuran atau konflik itu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

“Antara tajam kuku dan lembut rambut” dimaknai antara kekerasan dan kelembutan, kuku dan rambut sangat berbeda dalam segi apa pun sama halnya dengan interaksi manusia.

Baca Juga :  Lembu sebagai Saksi Kerasnya Kehidupan Rakyat Pribumi

“Antara mulut yang dilawan dengan mata” bermakna bahwa antara kata-kata yang diucapkan itu bisa saja salah dan tidak jujur, beda halnya dengan sorot mata yang bisa berbicara lebih jujur.

“Antara yang pahit dengan yang tawar” dimaknai dengan pengalaman pahit dan yang benar-benar sakit sampai terasa tawar.

“Antara air dan api” dapat berarti bahwa air dan api adalah dua unsur yang tidak dapat bersatu. “yang menang, mengalahkan batu di dalam jiwa” yang berarti yang akan menang dalam kehidupan adalah orang yang bisa mengalahkan keegoisan dalam diri.. “membakar dengan luka dan doa” dimaknai dengan doa dapat menyembuhkan luka dalam pengalaman dan kehidupan ini.

Maka puisi ini bisa kita maknai bahwa dalam kehidupan ini banyak sekali konflik, hal baik ataupun buruk pasti akan menghampiri kita, maka kita bisa mengontrolnya dengan hati, dengan kita bisa mengontrol ego, perasaan, ucapan kita maka akan terciptanya pengalaman hidup yang baik.


*) Mahasiswa PBSI FBSB UNY, Aktif di HIMA PBSI

Berita Terkait

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Refleksi Hari Santri Nasional 2025

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:05 WIB

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Berita Terbaru

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya (Foto: Istimewa)

Nasional

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:26 WIB