Oleh | Yuliyana Putri
ESAI, NOLESA.COM – “Tello polo settong Oktober, taon saebu duratos sabidhek sanga’.” Bait lagu dalam bahasa Madura ini mengingatkan kita pada tanggal 31 Oktober 1269 hari lahirnya Kabupaten Sumenep, tanah yang menorehkan sejarah panjang dan menjadi pusat peradaban di ujung timur Pulau Madura.
Setiap tahun, tanggal tersebut menjadi momen istimewa bagi masyarakat Sumenep untuk mengenang perjalanan daerah yang kaya nilai, budaya, dan semangat kebersamaan. Di usia ke-756, Sumenep tidak hanya bertambah tua, tetapi semakin meneguhkan dirinya sebagai daerah yang berakar kuat pada tradisi, sekaligus terbuka terhadap arus perubahan zaman.
Sebagai salah satu kabupaten tertua di Nusantara, Sumenep menyimpan warisan peradaban yang mengagumkan. Dari kemegahan keraton dan pesantren yang menjadi pusat ilmu, hingga kehidupan pesisir dan agraris yang sarat kearifan lokal semuanya berpadu membentuk identitas masyarakat yang religius, santun, dan berbudaya.
Namun, di balik lembar sejarah yang agung itu, ada peran perempuan yang sering terabaikan. Mereka mungkin tidak tercatat dalam naskah resmi, tetapi nyata hadir dalam denyut kehidupan: menjaga keluarga, mendidik generasi, menanamkan nilai, serta menggerakkan perubahan sosial dari ruang-ruang kecil yang sederhana.
Kini, tantangan bagi perempuan Sumenep tidak lagi sama. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dinamika sosial modern, semangat leluhur perlu diterjemahkan ulang dalam konteks kekinian. Perempuan Sumenep dituntut tidak hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga aktor utama dalam proses pembangunan dan transformasi sosial.
Bagi KOPRI PMII Cabang Sumenep, peringatan Hari Jadi ke-756 ini adalah momentum refleksi dan peneguhan komitmen. Bahwa perempuan muda Sumenep memiliki tanggung jawab ganda: menjaga nilai-nilai keislaman dan budaya lokal, serta beradaptasi dengan kemajuan zaman melalui penguatan literasi, teknologi, dan kepemimpinan sosial.
KOPRI hadir bukan semata untuk memperjuangkan kesetaraan, tetapi untuk meneguhkan peran perempuan sebagai penjaga nilai dan penggerak perubahan. Melalui pendidikan kader, pelatihan literasi digital, serta advokasi sosial, KOPRI Sumenep berkomitmen melahirkan generasi perempuan yang cerdas, kritis, dan berkarakter generasi yang siap berkontribusi dalam pembangunan daerah secara inklusif dan berkelanjutan.
Sebab, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusianya terutama perempuan yang berdaya, berilmu, dan memiliki kesadaran sosial.
Di usia ke-756 tahun ini, Sumenep telah membuktikan dirinya sebagai tanah yang subur bagi lahirnya nilai, budaya, dan kebijaksanaan. Kini, tanggung jawab kita adalah menjaga agar warisan itu tidak berhenti di masa lalu, melainkan terus hidup dan menuntun langkah menuju masa depan yang lebih beradab. (*)
*) Ketua KOPRI Cabang Sumenep









