Oleh | Abd. Kadir
ESAI, NOLESA.COM – Dalam satu diskusi, teman saya membuka wacana Refleksi Hari Pahlawan dengan sebuah narasi “Hari Pahlawan dalam semangat heroisme dan hedonisme”. Ia mendeskripsikan realitas yang melekat pada fenomena semangat dan nilai kepahlawanan dalam kehidupan kita hari ini.
Perbincangan ini cukup menarik ketika membedah dua kata “heroisme dan hedonisme”. Ya, dua kata yang seolah “serupa” dalam bunyi, namun bertolak belakang dalam makna. Keduanya lahir dari hasrat manusia untuk mencari makna dalam hidup, tapi menempuh arah yang berlawanan. Yang satu menuju pengorbanan, yang lain menuju kenikmatan. Yang satu menyalakan api keberanian, yang lain menenangkan api keinginan. Heroisme adalah jalan terjal menuju keabadian nilai; hedonisme adalah lorong halus menuju pelupaan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam heroisme, manusia berani kehilangan demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Dalam hedonisme, manusia kehilangan dirinya demi sesuatu yang lebih kecil dari maknanya. Di situlah ironi zaman ini bersembunyi: generasi yang lahir di tanah para pahlawan, tapi hidup dalam budaya yang menertawakan pengorbanan.
Dalam perspektif ini, Hari Pahlawan selalu datang membawa aroma mesiu sejarah. Sebuah nostalgia tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta yang tak bertepi kepada tanah air. Namun, di tengah hiruk pikuk zaman ini, gema itu terdengar semakin lirih. Ia bersaing dengan dentum musik di kafe-kafe modern, tenggelam di antara riuh pesta diskon, dan terseret arus scrolling tanpa henti di layar-layar yang bercahaya lebih terang dari nurani. Kita hidup di masa ketika heroisme berubah bentuk, ketika keberanian berganti rupa menjadi gaya, dan pengorbanan kehilangan tempat di hati yang sibuk mencari kenyamanan. Ya, heroisme itu mulai bergeser pada hedonisme.
Dulu, para pahlawan menolak menyerah pada ketakutan. Kini, “pahlawan” sering lahir dari pencitraan. Zaman yang dulu menuntut darah, kini menuntut likes. Perjuangan berganti rupa. Ia bukan lagi melawan penjajah berseragam, tapi melawan penjajahan gaya hidup yang halus, lembut, dan memabukkan.
Heroisme dan hedonisme sama-sama berakar pada hasrat. Yang satu adalah hasrat untuk “memberi”, dan yang lain adalah hasrat untuk “memiliki”. Keduanya membentuk wajah kebudayaan kita hari ini—ketika nyala heroisme sering kalah oleh sorot lampu hedonisme. Namun, barangkali justru di situlah tantangan zaman ini. Mampukah kita menjadi pahlawan di tengah budaya yang memuja kesenangan? Mampukah kita menjaga nilai dalam dunia yang menertawakan idealisme?
Maka, sebenarnya di antara dua kata yang mirip dalam bunyi ini—heroisme dan hedonisme—tersimpan pilihan eksistensial manusia modern: apakah kita hidup untuk memuliakan makna, atau hanya untuk memanjakan rasa?
Pahlawan masa lalu berperang demi kemerdekaan, sedangkan kita berperang melawan kebosanan. Mereka menantang maut, kita menantang fear of missing out. Mereka “lapar” akan kemerdekaan, kita “rakus” akan pengakuan. Maka, di situlah jarak antara heroisme dan hedonism terbentang. Bukan sekadar jarak waktu, melainkan jarak makna.
Bangsa ini dibangun oleh tangan-tangan yang rela kehilangan segalanya demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kini, generasinya malah cemas kehilangan gengsi, bukan kehilangan arah. Kita menyebut diri pewaris semangat juang, tapi mungkin hanya mewarisi simbolnya, bukan jiwanya.
Monumen dan patung pahlawan berdiri tegak di alun-alun, sementara di dada generasi muda, keberanian itu perlahan merebah.
Namun, barangkali masih ada seberkas nyala yang tak padam. Mereka yang diam-diam bekerja tanpa sorot kamera; yang memilih berbuat baik meski dunia tak memperhatikan; yang menjaga nilai di tengah badai kesementaraan. Di sanalah, heroisme mencari rumah barunya: di jiwa yang menolak tunduk pada hedonisme. Semoga! (*)
*) Pembina Komunitas Kata Bintang









