Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Redaksi Nolesa

Kamis, 20 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Chairunnisa Aznu (Foto: dokumen pribadi)

Chairunnisa Aznu (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Chairunnisa Aznu 

(Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta)


Di tangan Joko Pinurbo, Biskuit Khong Guan bisa disulap menjadi puisi-puisi yang berbicara soal agama, budaya, tradisi, politik, dan hal-hal lain di sekitar kita. Ia berhasil menanggapi fenomena-fenomena yang terjadi secara kritis dan menjadikannya karya yang bermakna dalam tetapi tetap menyenangkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam buku Perjamuan Khong Guan terdapat empat bab. Pertama “Kaleng Satu” yang mencoba menyoroti berbagai peristiwa penting yang sudah atau sedang terjadi pada waktu itu. Bahkan soalan langganan banjir ikut dibahas dalam judul puisi “Bonus” dalam buku ini yang menyindir kinerja pemerintahan pada masa itu.

Cetakan pertama buku ini Januari 2020. Sedangkan Joko Pinurbo menulis puisi-puisinya dalam buku ini di periode 2016-2019, namun isu-isu yang ada dan sindiran-sindiran dalam buku ini masih sangat relate dengan kehidupan pada tahun 2020, bahkan hingga sekarang 2024. Mungkin berbagai pertanyaan mulai bermunculan dalam benak para pembaca. Kenapa isunya sama saja ya? Kok, tidak ada perubahan ya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan negeri kita ini? Apakah tidak ada kemajuan dalam beberapa tahun terakhir?

Puisi favorit saya dalam bab ini, “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”. Puisi ini lumayan singkat tapi sangat mendalam dan menusuk. Puisi Joko Pinurbo yang satu ini mengingatkan kita, sesibuk apa pun diri kita, jangan pernah melupakan Tuhan.

Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya

Tuhan, ponsel saya

rusak dibanting gempa.

Nomor kontak saya hilang semua.

Satu-satunya yang tersisa

ialah nomorMu.

Tuhan berkata:

Dan itulah satu-satunya nomor

yang tak pernah kausapa.

(2018)

Sindiran yang amat sangat menohok bukan? Everyday, everytime, dan everywhere kita tidak pernah lepas dari handphone, terlepas dari apa yang kita lakukan, entah itu bekerja atau hanya scroll sosial media. Kita telah diperbudak olehnya, handphone dan teknologi digital. Hingga melupakan pencipta kita, Tuhan. Saat tertimpa masalah barulah kita mengingat-Nya. Miris.

Baca Juga :  Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Begitu pula puisi dengan judul “Markipul”, yang juga membahas tentang bahaya ponsel.

Markipul

Ke mana pun pergi

Markipul selalu

merindukan rumah.

Kepada ponsel

yang membuat gila

ia pun berkata

mari kita pulang (ke rumah sakit jiwa).

(2018)

Dalam puisi ini, mengatakan “ponsel yang membuat gila”. Gila di sini dapat diartikan sebagai “kita” yang sudah “tergila-gila” oleh ponsel. Sehingga membuat diri kita tidak terkendali/ dikendalikan oleh ponsel.

Pada “Kaleng Dua” Joko Pinurbo mengungkapkan harapan-harapan yang tidak tersampaikan, tentu masih dengan kritik soal gejala sosial. Puisi yang disuguhkan Joko Pinurbo pasti tidak jauh dengan sindiran dan komedi yang disisipkan di dalam syair-syairnya. Membuat pembacanya kadang tertawa geli namun pesan yang disampaikan tetap dapat dipahami dengan mudah.

Bab ketiga dan bab keempat seperti memiliki benang merah, karena membicarakan satu subjek atau objek yang sama. Dalam “Kaleng Tiga” topik utama yang dibahas adalah Minnah.

Senja Minnnah

Zaman terus berubah,

bikin rumit kepala Minnah.

Ponsel sudah bisa digunakan

untuk membuat agama baru.

Menu dosa semakin bervariasi.

Tenang. Jangan mau kalah.

Masa depan cinta akan cerah.

Dan Minnah masih suka

berleha-leha bersama buku

di beranda, memperhatikan

mata langit mulai mengantuk,

menyaksikan alam

memperbarui senja,

mengajak Tuhan berbahagia.

(2019)

Dalam puisi berjudul “Senja Minnah” ini digambarkan seiring dengan perkembangan zaman, terjadi banyak perubahan. Ponsel yang merupakan hasil kemajuan teknologi dapat membuat agama baru, yang dapat diartikan bahwa ponsel telah menjelma sebagai suatu keyakinan bagi masyarakat modern. Orang-orang dapat dengan mudah percaya pada segala informasi yang didapat dari ponselnya.

Baca Juga :  Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Masyarakat modern memiliki kecenderungan untuk hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain, bahkan keluarga. Hal ini merupakan dampak dari kesibukan yang tinggi dan menyita banyak waktu sehingga mengakibatkan masyarakat modern menjadi individualis. Gaya hidup individualis ini memaksa mereka untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu dengan cepat dan bahkan instan. Itu sebabnya masyarakat dengan gaya hidup individualis lebih bergantung pada teknologi daripada dengan sesama manusia.

Pada “Kaleng Empat” banyak membahas soal Khong Guan dan pertanyaan masyarakat tentang kemana sebenarnya sosok Ayah dalam kaleng biskuit tersebut?

Pada kaleng Khong Guan yang digambarkan seperti keluarga tanpa sosok Ayah, membuat masyarakat, tentunya saya juga ikut bertanya-tanya. Apa bisa seorang ibu dan kedua anaknya menyerap nilai-nilai keluarga secara utuh, apabila tidak ada sosok Ayah di sana? Apakah keluarga itu tetap harmonis? Apakah akan tetap bahagia?

Akan tetapi, Joko Pinurbo tetap konsisten memasukkan unsur-unsur gejala sosial yang berhubungan dengan negara dan kekuasaan, yang kali ini ditarik dari segi keluarga. Apalagi pada “Kaleng Empat” penyair berimajinasi sendiri soal keberadaan sosok ayah dalam kaleng Khong Guan.

Keluarga Khong Guan

Banyak orang penasaran

mengapa sosok ayah

dalam keluarga Khong Guan

tak pernah tampak di meja makan?

Kata anak laki-lakinya,

“Ayahku sedang

menjadi bahasa Indonesia

yang terlunta di antara

bahasa asing dan bahasa jalanan.”

Anak perempuannya

menyahut, “Ayahku

sedang menjadi nasionalisme

yang bingung dan bimbang.”

Si ibu angkat bicara,

“Ayahmu sedang menjadi

koran cetak yang kian

ditinggalkan pembaca dan iklan.”

“Semoga ayah tetep

terbit dari timur, ya, Bu.” ujar

kedua anak yang pintar itu.

Baca Juga :  Melodi Cinta Tak Terucap

“Bodo amat ayahmu

mau terbit dari mana,” balas si ibu.

“Yang penting bisa pulang

dan makan bersama.”

(2019)

Dalam puisi “Keluarga Khong Guan” digambarkan tentang percakapan seorang ibu dan kedua anaknya yang bertanya tentang ayahnya. Penggambaran tentang ayah yang sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta diantara bahasa asing dan jalanan, kemudian menjadi nasionalisme yang bingung dan bimbang, juga menjadi koran cetak yang kian ditinggalkan pembaca dan iklan ini merupakan kondisi nyata yang terjadi pada masyarakat seiring dengan kemajuan zaman. Masyarakat modern yang lebih banyak mempelajari bahasa asing dan bahasa gaul, kemudian rasa nasionalisme yang rendah karena masyarakat modern lebih banyak yang memiliki gaya individualis sehingga tidak lagi peduli dengan sesama dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi, serta kehidupan masyarakat modern yang lebih banyak melakukan kegiatan secara virtual sehingga membaca berita pun tidak lagi melalui koran cetak, tetapi dapat dengan mudah mendapatkan berita hanya dari telepon pintarnya.

Dalam buku kumpulan puisi Perjamuan Khong Guan, Joko Pinurbo memberikan banyak kejutan. Terkadang apa yang kita lalui dalam hidup tidak sesuai ekspektasi. Sama halnya Ketika kita membuka kaleng Khong Guan tetapi isinya adalah rengginang (atau mungkin ponsel, kartu ATM, dan jimat seperti apa kata Joko Pinurbo dalam puisinya).

Buku puisi ini penuh warna dan beragam selera, sama halnya ketika anggota keluarga berebut biskuit Khong Guan. Saat pertama kali membuka kalengnya, mungkin saya akan ambil wafer, tapi yang lain akan mengambil biskuit isi krim vanila, sementara biskuit lainnya bukan favorit keluarga.

Begitulah Joko Pinurbo ingin memfokuskan hal-hal atau fenomena yang memang menurutnya “enak dan renyah”, juga penting, dan tentunya menarik, ke dalam Perjamuan Khong Guan ini.

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya
Melodi Cinta Tak Terucap
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan
Ekspresi Jiwa Manusia dalam Amuk Karya Sutardji Calzoum Bachri

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru