Oleh | Luqi Aditya W. R
RESENSI, NOLESA.COM – You’re Not Funny Enough merupakan Novel bergenre komedi. Novel ini ditulis oleh penulis bernama Jacob Julian. Ia adalah pandit dalam hal absurd, penganalisis strategi bola dan penulis (cerpen, novel dan esai). Ini tergolong kedalam novel jadul, novel yang diterbitkan oleh penerbit PING!! Pada tahun 2014. Novel ini cocok menghilangkan penat, novel yang ringan, gampang dinikmati dan isinya mengundang tawa.
Sinopsis
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal yang menarik dari synopsis bagiku ialah dapat meyakinkan pembeli untuk membeli meskipun pembeli tidak mengenal penulisnya, inilah magis synopsis bagiku. Ini synopsis buku ini yang membuatku tertarik untuk membelinya:
Apa artinya penonton yang tak tertawa saat seorang comic-stand-up comedian melontarkan joke? Itu berati karirnya tamat! Itulah yang dialami Jamie. Dia merasa gagal. Gagal menghibur orang. Gagal berkarir sebagai pelawak. Juga, gagal dalam urusan bercinta. Jamie memutuskan hengkang dari kota kelahirannya menuju pulau Kalimantan. Ia bertekat melupakan stand-up comedy dan mencari pekerjaan yang layak. Namun, di atas kapal, Jamie justru ditodong untuk tampil oleh Fey dan Luka, pasangan yang sangat menyukai stand-up comedy. Nah, apa Jamie mesti menolak atau menerima todongan itu? Ikuti perjalanan titik balik Jamie dalam mencari jati diri dan passionnya.
Judul Menjadi Kunci
Novel bahasa Indonesia yang memiliki judul bahasa inggris menurut saya menarik. Karena ini memberikan Kesan modern dan global. Judul bahasa inggris memberikan Kesan bahwa novel ini terhubung dengan budaya global. Ya…judul “You’re Not Funny Enough” yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti “Kamu Tidak Cukup Lucu” jujur ini membuat saya penasaran seperti apa nanti tokoh utama melewati perjalanan karir sebagai seorang stand-up comedy, suatu misteri yang ingin saya ketahui sebagai seorang pembeli.
Jamie: Tokoh Utama yang Berjuang dengan Nasibnya
Jamie Dupont alias JD adalah tokoh utama dalam novel ini. Ia adalah seorang comic yang sedang memperjuangkan nasibnya. Ditengah perjuangannya ia mendapati rasa ragu, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia stand up meskipun hatinya tek perna bisa. Jamie bertemu dengan seseorang yang bernama Gaiman, pertemuan ini memberi kesempatan baru untuk Jamie. Mimpinya hidup Kembali, ia berusaha keras melawan rasa ragu dan ketidak percayaan diri sampai ia bisa. Dari perjuangan itu ia berhasil dan perjuangannya menjadi titik balik industry stand up comedy pada masa itu.
Humor dalam Novel, Mengurangi Rasa Penat
Humor dalam novel ini tidak melulu tentang stand up yang dilakukan oleh Jamie, tetapi penulis juga membangun humor dalam narasinya di novel ini. Misalnya pada kalimat:
“Luka mencium ubun-ubun kepala gadisnya, sementara Jamie mencium ranselnya. Bau.” (halaman 92).
Selain itu terdapat juga humor yang berasal dari rasa sakit dan kegagalan. Buku ini banyak memasukan refleksi tentang apa arti sukses bagi seorang komika. Kapabilitas seorang comic dilihat dari apakah shaw-nya berhasil. Sat penonton berhenti datang karena materi Jamie dianggap tidak lucu, muncul sentuhan humor gelap.
Kalau ini gagal…..maka tamatlah aku hari ini. (halaman 6).
Hampir bisa dikatakan ini adalah sebuah ironi, tetapi dalam novel ini diceritakan secara humor.
Pesan Moral
Banyak sekali buku-buku fiksi yang ditulis tidak hanya untuk dinikmati semata, tetapi didalamnya diselipkan pesan moral yang dapat di ambil dalam kehidupan. Pesan-pesan itu sering kali disampaikan melalui tokoh-tokohnya. Dalam novel ini terdapat pesan moral yang disampaikan melalui tokoh, diantaranya adalah:
“Pergi ke dunia luar. Walau mereka kejam, setidaknya mereka akan takut padamu bila kau kuat.” – Gaiman (Halaman 251).
Kelebihan Dan Kekurangan
Kelebihan
Seperti yang telah disampaikan di awal, novel ini tergolong novel ringan yang menyenangkan untuk dibaca. Alur ceritanya mengalir santai dengan gaya bahasa yang sederhana, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. Berbagai peristiwa lucu dan dialog yang jenaka membuat pembaca kerap tersenyum sendiri, bahkan tak jarang tertawa terbahak-bahak. Karena itulah, novel ini sangat cocok dibaca sebagai hiburan di sela-sela kesibukan sehari-hari.
Kekurangan
Hampir tidak ada karya sastra yang benar-benar sempurna, demikian pula dengan novel ini. Novel ini masih memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam penggunaan bahasa asing atau bahasa gaul yang tidak dicetak miring. Misalnya, penggunaan kata mandeg pada halaman 15, guyon pada halaman 25, dan sharing pada halaman 40 yang seharusnya ditulis miring sesuai kaidah penulisan. Hal tersebut dapat sedikit mengganggu kerapian dan konsistensi bahasa dalam novel.
*) Luqi Aditya Wahyu Ramadan, Lahir di Cilacap, sekarang sedang tersesat di Yogyakarta. Suka menulis, menulis apa saja. Suka main bola dan futsal juga. Mari berteman di IG: luqiaditya07.









