Oleh | Fini Alfiani
RESENSI, NOLESA.COM – Puisi sering dianggap hanya kumpulan kata-kata indah yang jauh dari kehidupan nyata. Namun, anggapan itu terasa runtuh ketika membaca Kita adalah Jelata karya Okky Madasari.
Buku puisi ini hadir bukan sekadar sebagai karya sastra, melainkan sebagai rekaman keresahan sosial masyarakat Indonesia hari ini. Di tengah situasi politik yang dipenuhi polemik kekuasaan, ketimpangan ekonomi, hingga hilangnya empati sosial, Okky menuliskan sajak-sajak yang terasa seperti suara rakyat kecil yang selama ini dipinggirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nama Okky Madasari sendiri bukanlah nama baru dalam dunia sastra Indonesia. Ia dikenal melalui novel-novel bernuansa kritik sosial seperti Entrok dan Maryam yang memperlihatkan keberpihakannya pada kelompok marginal.

Latar belakangnya sebagai seorang sosiolog membuat karya-karyanya selalu memiliki kedekatan dengan realitas sosial. Dalam Kita adalah Jelata, keberpihakan itu tetap terasa kuat, hanya saja kali ini disampaikan melalui larik-larik puisi yang padat, tajam, dan emosional.
Sejak halaman awal, pembaca langsung disambut puisi “Kita adalah Affan” yang menjadi semacam pintu masuk keseluruhan buku. Puisi tersebut menggambarkan rakyat kecil yang hidup di tengah ketidakadilan sosial. Larik “di lumbung yang dikangkangi tikus berdasi” (hlm. ix) menjadi metafora yang keras sekaligus satiris terhadap praktik kekuasaan yang rakus.
Tidak hanya berhenti pada kritik politik, Okky juga menampilkan kenyataan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam puisi “Telinga dan Mata”, ia menulis, “telingaku mendengar pidato berapi-api tetapi mataku melihat jeritan rakyat tiada henti” (hlm. 2). Kutipan tersebut memperlihatkan kontras antara janji kekuasaan dan kenyataan rakyat yang menderita. Janji yang hanya menjadi omong kosong belaka.
Secara isi, buku ini terbagi dalam berbagai tema yang saling berkaitan. Ada puisi tentang kritik politik seperti “Indonesia Gelap”, “Ketek Oligarki”, dan “Lima Sila”. Ada pula puisi yang mengangkat kehidupan rakyat kecil seperti “Balada Penjual Es Teh”, “Tabungan Ibu”, dan “Sandal Jepit”. Selain itu, Okky juga menyisipkan puisi bernuansa personal dan spiritual seperti “Doa Pagi”, “Di Mekah”, dan “Ramadan Memelukmu”. Keragaman tema tersebut membuat buku ini terasa lebih manusiawi karena tidak hanya berbicara tentang kemarahan sosial, tetapi juga tentang kesedihan, kerinduan, dan harapan.
Kelebihan utama buku ini terletak pada keberanian Okky dalam mengangkat isu-isu aktual secara langsung. Ia tidak bersembunyi di balik simbol yang terlalu rumit, melainkan memilih diksi yang sederhana namun menghantam.
Dalam teori stilistika, kesederhanaan bahasa justru dapat memperkuat efek emotif apabila didukung konteks sosial yang kuat. Hal itu terlihat dalam puisi “Takut” yang berbunyi, “Ada yang takut kritik tapi tak takut rakyat menjerit dan tercekik” (hlm. 38). Larik tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki daya gugah yang kuat karena dekat dengan kenyataan sosial masyarakat.
Selain itu, perpindahan nada dalam buku ini juga menjadi kekuatan tersendiri. Okky tidak terus-menerus marah. Setelah puisi-puisi keras seperti “Peringatan Darurat” dan “Kepala Babi”, pembaca akan menemukan puisi yang lebih lirih seperti “Ibuku Pulang” atau “Pulang Lebaran”. Perubahan suasana itu membuat buku ini terasa hidup dan tidak melelahkan secara emosional. Pembaca diajak memahami bahwa kehidupan rakyat kecil bukan hanya tentang perlawanan, tetapi juga tentang rasa kehilangan, kasih sayang, dan kerinduan terhadap rumah.
Dalam beberapa puisi, Okky juga memperlihatkan bagaimana hal-hal sederhana dalam kehidupan rakyat kecil dapat menjadi simbol perjuangan hidup. Salah satunya tampak pada puisi “Sajak Mie Ayam” (hlm. 89) yang menampilkan makanan sebagai metafora untuk bertahan hidup di tengah kerasnya realitas sosial.
Sajak Mie Ayam
dalam semangkok mie ayam
segala keluh dikubur dalam-dalam
melebur bersama gurihnya micin
pahit hidup pun terasa terus manis asin
dan rasa kenyang memberikan sejenak
kemenangan atas kekalahan
dan kekalahan”
Penggalan puisi tersebut memperlihatkan ciri khas kepenyairan Okky yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kecil. Mie ayam yang tampak sederhana berubah menjadi lambang penghiburan sekaligus pelarian sementara dari kerasnya hidup. Diksi seperti “gurihnya micin”, “pahit hidup”, dan “kemenangan atas kekalahan” membangun kesan getir, tetapi tetap manusiawi.
Pada bagian ini terlihat bahwa Okky tidak hanya menulis kritik sosial secara langsung, melainkan juga menghadirkan sisi emosional rakyat kecil melalui pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan pembaca.
Meski demikian, buku ini tetap memiliki beberapa kekurangan. Jumlah puisi yang mencapai seratus membuat kualitas tiap puisi terasa tidak selalu seimbang. Ada beberapa puisi yang lebih menyerupai pernyataan sikap dibanding karya puitik yang utuh.
Dalam beberapa bagian, Okky terlalu fokus menyampaikan kritik sehingga unsur pengimajian dan permainan bahasa menjadi kurang maksimal. Akibatnya, sebagian puisi terasa seperti slogan demonstrasi yang dipindahkan ke dalam bentuk puisi. Bagi pembaca yang menyukai puisi dengan metafora kompleks dan eksplorasi estetik yang mendalam, beberapa sajak mungkin terasa terlalu langsung.
Namun demikian, kekurangan tersebut tidak menghilangkan kekuatan utama buku ini sebagai dokumen sosial zamannya. Kita adalah Jelata berhasil menunjukkan bahwa puisi masih dapat menjadi ruang perlawanan sekaligus ruang refleksi kemanusiaan.
Buku ini cocok dibaca oleh mahasiswa, pegiat sastra, maupun masyarakat umum yang ingin melihat bagaimana sastra dapat berbicara tentang kondisi sosial secara jujur dan berani. Melalui buku ini, Okky Madasari seakan ingin mengatakan bahwa suara rakyat kecil mungkin sering diabaikan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
*) Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta









