Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan

Redaksi Nolesa

Rabu, 8 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Kania Putri Witarsa

RESENSI, NOLESA.COM – Bayangkan terlahir dengan nama keluarga Holmes. Dalam dunia fiksi, itu berarti satu hal kamu akan selamanya hidup di bawah redup cahaya yang memancar dari sosok Sherlock Holmes detektif paling terkenal dalam sejarah sastra. Namun, Enola Holmes (2020) memilih jalan yang berbeda. Alih-alih membiarkan protagonisnya tersimpan rapi sebagai aksesori dalam kisah saudara lelakinya, film ini dengan berani menempatkan Enola sang adik, sang perempuan, sang yang “terlupakan” di jantung cerita.

Disutradarai oleh Harry Bradbeer dan diadaptasi dari seri novel karya Nancy Springer, film ini bukan sekadar kisah petualangan yang dibungkus kostum viktorian nan cantik. Enola Holmes adalah pernyataan sikap: bahwa perempuan berhak atas narasinya sendiri, bahwa kecerdasan tidak mengenal jenis kelamin, dan bahwa “menemukan diri sendiri” adalah perlawanan paling radikal yang bisa dilakukan seseorang di era yang mencoba mendefinisikan kamu sebelum kamu sempat bernafas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Enola Bukan Versi Kecil Sherlock

Kesalahan yang mudah dilakukan penonton adalah memandang Enola sebagai cerminan feminin dari Sherlock. Ini keliru secara fundamental. Sherlock Holmes — sosok yang dimainkan oleh Henry Cavill dalam film ini dengan karisma yang luar biasa membumi —adalah detektif yang dingin, logis, dan beroperasi dengan membuang emosi. Enola justru sebaliknya: ia brilian justru karena emosinya, bukan meski memilikinya.

Baca Juga :  You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati

Millie Bobby Brown membawakan Enola dengan energi yang menular. Ada momen-momen di mana ia menoleh langsung ke kamera — teknik meta-sinematik yang mengingatkan pada gaya Fleabag — seolah mengajak penonton bersekutu bersamanya. Cara ini bukan gimmick. Ini adalah pernyataan bahwa Enola menyadari dirinya sedang ditonton, sedang dinilai, dan ia memilih untuk menatap balik. Itu sendiri sudah merupakan aksi pembebasan.

Sang Ibu dan Api yang Diwariskan

Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada hubungan Enola dengan ibunya, Eudoria Holmes (Helena Bonham Carter). Eudoria adalah tokoh yang tidak pernah benar-benar hadir secara fisik untuk sebagian besar film, namun kehadirannya terasa di setiap langkah Enola. Ia bukan ibu yang sempurna dalam definisi viktorian, ia tidak mengajarkan cara menjahit atau bermain piano. Ia mengajarkan jiujitsu, kimia, bahasa sandi, dan yang terpenting adalah cara berpikir bebas.

Pilihan Eudoria untuk menghilang, yang pada awalnya terasa seperti pengabaian, perlahanlahan terungkap sebagai sesuatu yang jauh lebih kompleks ia adalah bagian dari gerakan bawah tanah yang memperjuangkan hak pilih perempuan. Ini bukan sub-plot. Ini adalah jantung tematik film. Enola Holmes dengan cerdas menautkan petualangan personal seorang remaja dengan pergolakan politik yang mengubah Inggris dan dunia. Setiap tetes keberanian Enola adalah warisan langsung dari nyala api yang dinyalakan ibunya jauh sebelum cerita dimulai.

Baca Juga :  Prosa Eka: Cinta yang Ambivalen dan Krisis Lingkungan

London sebagai Labirin Kekuasaan

Setting London 1884 bukan dipilih secara sembarangan. Ini adalah era di mana Reform Act sedang diperdebatkan, di mana pertanyaan tentang siapa yang berhak memiliki suara — baik harfiah maupun kiasan sedang dipertarungkan di jalanan dan di parlemen. Film memanfaatkan latar ini dengan elegan: setiap gang, setiap ruang tamu yang mewah, setiap ruang baca yang hanya boleh dimasuki laki-laki, menjadi peta kekuasaan yang harus dinavigasi Enola.

Cinematografi yang hangat kecokelatan membangun atmosfer viktorian yang autentik tanpa pernah terasa dingin atau museum. Bradbeer memahami bahwa penonton modern

membutuhkan pintu masuk emosional ke masa lalu, dan ia menemukannya dalam gestur-gestur kecil Enola: cara ia berjalan terlalu cepat untuk zamannya, cara ia mengamati peta dengan lapar, cara ia tidak pernah menutup mulutnya saat semestinya “perempuan baik” berdiam diri.

Alegori yang Relevan Melampaui Zamannya

Di sinilah Enola Holmes berhasil melakukan sesuatu yang jarang dicapai film-film periode: ia berbicara kepada masa kini tanpa harus meninggalkan masanya. Pertanyaan yang diajukan film ini ialah siapa yang berhak mendefinisikan identitasmu? siapa yang memiliki otoritas atas tubuh dan pikiranmu? bagaimana seseorang menemukan dirinya di tengah tekanan sosial yang ingin membentuknya ulang? pertanyaan yang sama-sama relevan di era 1884 dan era sekarang.

Baca Juga :  Inspirasi Kehidupan dari Dalai Lama dan Nelson Mandela

Ketika Enola menolak untuk dimasukkan ke sekolah finishing dan memilih untuk mengejar misteri ibunya yang hilang, ia bukan sekadar melakukan pelarian remaja yang klise. Ia sedang menolak narasi yang sudah disiapkan orang lain untuknya. Dan dalam penolakan itulah terletak kekuatan alegorisnya: setiap penonton perempuan yang pernah diberitahu bahwa ambisinya “terlalu besar,” bahwa suaranya “terlalu keras,” bahwa mimpinya “tidak realistis” — akan menemukan diri mereka dalam diri Enola.

Warisan yang Ditinggalkan

Pada akhirnya, Enola Holmes paling baik dipahami bukan hanya sebagai film petualangan yang menyenangkan, tetapi sebagai argumen sinematik tentang hak perempuan atas narasi. Dengan menempatkan Enola sebagai pusat kisah yang biasanya hanya menjadi pinggiran, film ini melakukan apa yang selalu dilakukan karya seni terbaik. Mengubah cara kita melihat, sedikit demi sedikit.

Dalam dunia di mana nama “Holmes” identik dengan kejeniusan laki-laki, Enola memilih untuk tidak bersembunyi di balik nama itu, tidak pula melarikan diri darinya. Ia menjadikannya batu loncatan dan kemudian melompat sejauh yang ia bisa, ke arah yang dipilihnya sendiri. Itu batu loncatan dan kemudian melompat sejauh yang ia bisa, ke arah yang dipilihnya sendiri. Itu adalah peta menuju kebebasan. (*)

*) Mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2025 di Universitas Sebelas Maret (UNS) 

Berita Terkait

Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja
Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri
Ketika Jelata Angkat Suara
Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal
Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang
Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan
Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame
Impian di Tengah Finansial Kaum Menengah

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:51 WIB

Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan

Selasa, 30 Juni 2026 - 06:57 WIB

Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja

Senin, 29 Juni 2026 - 16:32 WIB

Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:38 WIB

Ketika Jelata Angkat Suara

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:50 WIB

Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal

Berita Terbaru