Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja

Redaksi Nolesa

Selasa, 30 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Ninda Ayu Triya Preswari

RESENSI, NOLESA.COM – Tidak semua perjuangan terlihat dari luar. Seseorang bisa tampak baik-baik saja, tetap menjalani hari seperti biasa, menyelesaikan kewajiban, bahkan masih mampu tersenyum di hadapan orang lain.

Namun, di balik itu, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tidak kunjung usai dan terus berputar tanpa jeda. Rasa lelah yang muncul pun tidak selalu tampak secara fisik, tetapi terasa nyata menumpuk perlahan hingga membuat seseorang merasa sesak dengan dirinya sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini menjadi bagian dari pengalaman banyak orang, terutama di tengah kehidupan yang menuntut segalanya berjalan cepat dan stabil. Dalam situasi seperti ini, tidak ada salahnya jika seseorang memberi dirinya ruang sejenak untuk berhenti, bernapas, dan mengakui bahwa ia juga berhak merasa lelah.

Dalam konteks inilah, buku Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah karya Munita Yeni hadir sebagai ruang jeda tempat untuk sejenak beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan sekaligus mengingatkan bahwa seseorang tidak benar-benar sendirian dalam menghadapi lelahnya.

Kelelahan yang Sering Kita Sembunyikan

Ada hari-hari ketika tubuh tidak terlalu lelah, tetapi pikiran terasa begitu penuh. Rasanya seperti membawa beban yang tidak terlihat oleh siapa pun. Banyak orang mengalaminya. Tetap tertawa saat bersama teman, tetap menyelesaikan tugas yang menumpuk, tetap menjawab pertanyaan orang lain dengan kalimat “aku baik-baik saja”. Namun, ketika suasana mulai sepi, berbagai kecemasan datang bergantian. Pikiran terus berjalan tanpa jeda dan membuat seseorang merasa terjebak dalam dirinya sendiri.

Perasaan itulah penulis temukan ketika membaca Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah karya Munita Yeni. Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung diajak memasuki suasana yang tidak nyaman. Kalimat “Hidup di dunia lain benar-benar melelahkan” (hlm. 2) menggambarkan kondisi batin seseorang yang merasa terasing dari realitas yang sedang dijalaninya. Tidak lama setelah itu, penulis menuliskan, “Kalian akan menciptakan dunia sendiri di alam bawah sadar sebagai tempat pelarian” (hlm. 2).

Baca Juga :  Inspirasi Kehidupan dari Dalai Lama dan Nelson Mandela

Kutipan tersebut menunjukkan bagaimana manusia sering memilih bersembunyi dalam pikirannya sendiri ketika kenyataan terasa terlalu berat untuk dihadapi. Gambaran itu semakin kuat ketika muncul adegan dengan kalimat, “Tangkaaap… kejar… tangkap… tangkap, tembaaak… dor… dor… dor…” (hlm. 3). Bagi saya, bagian ini menghadirkan suasana yang riuh sekaligus menghibur. Seolah-olah pembaca sedang diajak menyaksikan kekacauan yang terjadi di dalam kepala seseorang yang kelelahan, kemudian merasa dihibur dengan kalimat tersebut.

Data Buku

Cara penyampaian yang demikian memperlihatkan kemampuan penulis dalam mengolah pengalaman emosional menjadi sesuatu yang terasa nyata sekaligus menarik perhatian pembaca.

Munita Yeni, penulis buku Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah, berasal dari Bantul, Yogyakarta, dan dikenal melalui karya-karyanya yang berfokus pada pengembangan diri serta refleksi kehidupan. Latar belakang pendidikannya turut memengaruhi gaya penulisannya yang komunikatif, sehingga pembahasan yang dekat dengan dunia psikologi tetap terasa ringan dan mudah diikuti oleh pembaca.

Saat Minder dan Kesepian Mengetuk Pintu Diri

Bagian tengah buku menjadi bagian yang paling dekat dengan realitas kehidupan banyak orang. Penulis membahas berbagai persoalan yang sering muncul tanpa disadari, mulai dari overthinking, rasa minder, kesulitan menerima diri, hingga tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial. Salah satu kutipan yang menarik perhatian penulis berbunyi, “Namun, apakah kita sadari bahwa perasaan minder ini membawa serentetan dampak penyakit psikologis lain?” (hlm. 107). Pertanyaan tersebut terasa sederhana, tetapi mampu membuat pembaca merenungkan kembali bagaimana perasaan rendah diri dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Munita kemudian menjelaskan dampak yang dapat muncul dari kondisi tersebut. Salah satunya terlihat pada kalimat, “Penderita mengalami penurunan dalam kemampuannya untuk berkonsentrasi” (hlm. 112). Penjelasan ini memperlihatkan bahwa masalah psikologis tidak hanya memengaruhi emosi seseorang, tetapi juga aktivitas dan produktivitasnya. Pembahasan mengenai kesepian juga terasa relevan. Di tengah dunia yang semakin terhubung oleh teknologi, ternyata banyak orang masih merasa sendirian. Penulis menuliskan, “Merasa bahwa dirinya merasa kesepian karena mereka selalu memilih sendiri” (hlm. 113). Kalimat tersebut mengingatkan bahwa kesepian terkadang muncul bukan karena tidak memiliki teman, melainkan karena seseorang enggan membuka dirinya kepada orang lain.

Baca Juga :  Memahami Wanita Dari Kacamata Psychology

Hal menarik dari buku ini terletak pada cara penulis menyampaikan gagasannya. Penyajiannya terasa tidak menggurui, sehingga pembaca diajak memahami dirinya sendiri secara perlahan melalui refleksi-refleksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan yang digunakan penulis juga memberikan ruang bagi pembaca untuk merenungkan pengalaman pribadinya. Setiap pembahasan disampaikan dengan bahasa yang sederhana, hal ini membuat isi buku mudah dipahami oleh berbagai kalangan, khususnya remaja dan dewasa muda. Meskipun menggunakan bahasa yang sederhana, buku ini tetap mampu menyentuh sisi emosional pembaca. Hal ini menjadikan buku tersebut tidak hanya sekadar bacaan, tetapi juga sebagai teman yang menemani proses memahami diri di tengah berbagai tekanan kehidupan.

Sebuah Teman di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan

Memasuki bagian akhir buku, pembaca diajak berbicara tentang penerimaan dan proses memaafkan diri sendiri. Munita menulis, “Keputusan selanjutnya yang perlu kita ambil adalah memberikan maaf kepada orang-orang di masa lalu kita dan diri kita sendiri” (hlm. 165). Bagi saya, kalimat ini menjadi salah satu pesan terkuat dalam buku tersebut. Pesan itu diperkuat melalui kisah Emma. Penulis menuliskan, “Emma menjadi contoh di mana ia berhasil melepaskan perasaan bersalah itu” (hlm. 172). Kehadiran kisah semacam ini membuat pembahasan yang bersifat reflektif terasa lebih hidup karena pembaca dapat melihat contoh yang lebih konkret.

Baca Juga :  Khazanah Kebudayaan Masyarakat Jawa

Di bagian penutup, Munita memberikan pengingat yang hangat melalui kalimat, “Diri Anda adalah istimewa; dan layaknya sebuah barang yang istimewa, selalu diberikan wadah yang bagus” (hlm. 209). Kutipan tersebut seolah menjadi ajakan bagi pembaca untuk memperlakukan dirinya dengan lebih baik dan lebih penuh penghargaan. Dari segi penyajian, buku ini memiliki banyak kelebihan. Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, khususnya remaja dan dewasa muda.

Tema yang diangkat juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, desain buku yang minimalis, tata letak yang rapi, ukuran huruf yang nyaman dibaca, serta kualitas cetakan yang cukup baik membuat pengalaman membaca menjadi lebih menyenangkan.

Meski demikian, buku ini masih memiliki beberapa kekurangan. Beberapa pembahasan terasa cukup umum dan kurang mendalam. Ada pula gagasan yang disampaikan berulang sehingga menimbulkan kesan repetitif.

Dari segi fisik, kualitas kertas yang relatif tipis dan jilidan yang kurang kokoh berpotensi membuat buku lebih mudah rusak apabila digunakan dalam jangka waktu lama. Pada akhirnya, buku ini tidak menawarkan cara instan untuk menghilangkan kelelahan hidup.

Namun, ia hadir sebagai teman yang menemani pembaca memahami dirinya sendiri. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kehadiran buku seperti ini terasa penting karena mengingatkan bahwa tidak apa-apa jika hari ini tidak baik-baik saja.

Tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah. Sebab setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk pulih dan kembali melangkah. (*)

*) Mahasiswi Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta

Berita Terkait

Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri
Ketika Jelata Angkat Suara
Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal
Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang
Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan
Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame
Impian di Tengah Finansial Kaum Menengah
Manifestasi Martabat Perempuan yang Terbungkus Tradisi

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 06:57 WIB

Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja

Senin, 29 Juni 2026 - 16:32 WIB

Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:38 WIB

Ketika Jelata Angkat Suara

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:50 WIB

Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:40 WIB

Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan

Selasa, 30 Jun 2026 - 15:57 WIB

(for NOLESA.COM)

Resensi

Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja

Selasa, 30 Jun 2026 - 06:57 WIB