Khazanah Kebudayaan Masyarakat Jawa

Alfie Mahrezie Cemal

Kamis, 6 April 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Resensi Buku, NOLESA.com — Sejak dulu khazanah kebudayaan masyarakat Jawa selalu menampilkan corak yang khas dan menarik untuk dicermati. Misalnya seperti kebiasaan orang Jawa yang sering mengalah dan tidak mempertentangkan sebuah kebenaran hanya demi menjaga keharmonisan sesama (hal 15). Sehingga dengan hal itu, beragam kepercayaan dan keyakinan yang hidup di bumi Jawa tetap dapat tumbuh secara bersamaan tanpa mengalami friksi dan faksi.

Karena itu, di masa-masa yang lalu hingga sekarang semuanya dapat berjalan dengan dinamis tanpa aral. Contohnya, Islam. Jauh sebelum Islam datang ke tanah Jawa, diperkirakan masyarakat Jawa telah memiliki agamanya sendiri. Namun, sebagaimana diketahui, meski pada kenyataannya masyarakat Jawa telah memiliki agamanya sendiri, Islam tetap bisa tumbuh dan berkembang. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Jawa memiliki khazanah kebudayaan yang inklusif dan adaptif.

Baca Juga :  Di Balik Negeri Bertopeng Bahagia

Khazanah kebudayaan Jawa yang demikian inklusif dan terbuka itu pertama-tama muncul dari prinsip-prinsip hidup yang selama beradab-abad memang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dan kemudian mewujud dalam kenyataan hidup yang dilakoni dalam keseharian. Prinsip-prinsip itu misalnya seperti orientasi hidup masyarakat Jawa yang lebih mengutamakan kepriye becike (bagaimana baiknya) bukan benere keripye (benarnya bagaimana).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Judul buku : Spritualisme Jawa

Penulis : Iman Budhi Santosa

Penerbit : Diva Press

Cetakan : Desember, 2021

Teba : 290 halaman

ISBN : 978-623-293-583-9


Selain itu, hal lain dari khazanah kebudayaan masyarakat Jawa yang juga menarik untuk disimak adalah soal nasihat-nasihat hidup yang sejak dulu juga sudah berlaku dalam interaksi sosial masyarakat Jawa.Menurut Iman Budhi Santosa, dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa hampir semua aspek kehidupan memiliki norma-norma yang harus ditaati. Baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Baca Juga :  Perjalanan Penyembuhan di Britania Raya

Sebab, bagi masyarakat Jawa, untuk mencapai apa yang disebut dengan keselamatan, maka semua individu harus menjalani lelaku sesuai dengan anger-anger (hukum/aturan) dan wewaler (larangan) yang harus menjadi rujukan umum semua anggota masyarakat dalam bertindak. Norma-norma yang ada itu bisa dikatakan beragam, mulai dari tata cara makan, minum, tidur, berbusana, bekerja, berjalan bertamu, hingga pada persoalan-persoalan seperti adab berbicara.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, munculnya norma-norma sosial yang beragam itu tidak lahir dari rahim yang tunggal. Sebab, sebagaimana ditulis oleh Iman Budhi Santosa, aturan-aturan itu bersumber dari berbagai macam kepercayaan yang selama ini berkembang di tanah Jawa itu sendiri. Seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, Konghucu dan beberapa keyakinan-keyakinan lainnya (hal 104).

Baca Juga :  Memahami Wahabi, Memahami Salafi-Jihadi

Artinya dengan demikian maka juga dapat dipahami bahwa khazanah kebudayaan Jawa yang inklusif, telah membuka ruang bagi semua perbedaan keyakinan untuk saling menginspirasi satu sama lain. Sehingga pada akhirnya terbentuklah sebuah komunitas masyarakat yang plural namun tetap bisa hidup dalam suasana yang rukun dan damai sentosa.

Spiritualisem Jawa, karya Iman Budhi Santosa adalah sebuah dobrakan—meski tidak baru—yang berupaya mengingatkan kita untuk kembali berkomunikasi dengan khazanah dan nilai-nilai kehidupan yang telah lama terpatri dalam kehidupan masyarakat kita yang kini nyaris tenggelam ditimbun pragmatisme zaman.(*)

Berita Terkait

Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan
Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja
Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri
Ketika Jelata Angkat Suara
Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal
Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang
Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan
Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:51 WIB

Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan

Selasa, 30 Juni 2026 - 06:57 WIB

Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja

Senin, 29 Juni 2026 - 16:32 WIB

Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:38 WIB

Ketika Jelata Angkat Suara

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:50 WIB

Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal

Berita Terbaru