Oleh | Vivi Kusumaningrum
RESENSI BUKU, NOLESA.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang-orang tersenyum, tampil ceria di media sosial, atau ikut dalam pesta dan perayaan. Namun, apakah semua itu benar-benar cerminan kebahagiaan mereka? Buku Iblis Tidak Pernah Mati karya Seno Gumira Ajidarma mencoba membuka tabir di balik kebahagiaan yang hanya tampak di permukaan.
Lewat cerita-cerita pendek yang puitis, tajam, dan menyentuh, Seno menyajikan wajah lain dari kehidupan seperti kesedihan yang tersembunyi, luka yang disamarkan, dan pencitraan yang membungkam suara-suara jujur masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di zaman sekarang, kebahagiaan sering kali dipamerkan, terutama melalui media sosial, seolah-olah semua orang hidup bahagia tanpa masalah. Masyarakat sering kali mengenakan “topeng” kebahagiaan yang menutupi kesedihan, keraguan, dan ketidakadilan yang sebenarnya ada di baliknya.
Di balik kehidupan yang tampak baik-baik saja, banyak hal yang disembunyikan. Cerita dalam buku ini mencerminkan kehidupan yang seringkali terjebak dalam pencitraan. Ia tidak bicara soal bahagia yang indah, tetapi tentang bahagia yang dipaksakan, bahkan dijadikan alat penindasan.
Salah satu kekuatan utama dalam buku Iblis Tidak Pernah Mati terletak pada kemampuan Seno Gumira Ajidarma menyisipkan kritik sosial melalui simbolisme yang menyentak. Cerpen “Karnaval” menjadi contoh yang menonjol dari strategi ini. Dalam salah satu adegan penting, narator anak-anak menatap seekor gajah yang dihias sebagai bagian dari pawai.

Topeng Bahagia dalam Masyarakat Modern
“Gajah yang dihias dan dirias berjalan pelan dengan seorang berserban di atas kepalanya. Kupandang hajah itu, mengapa matanya berkedip begitu pilu? Ibu! Lihat! Gajah itu sedih?” (“Karnaval”, hal. 152)
Penggambaran ini menghadirkan ironi visual yang kuat yaitu seekor makhluk besar, dihias untuk memeriahkan karnaval, justru menampakkan kesedihan yang hanya disadari oleh seorang anak kecil. Gajah yang dirias menjadi simbol dari individu atau masyarakat yang dipaksa tampil “meriah”, walau batinnya terhimpit dan menderita.
Dunia karnaval dalam cerpen ini mencerminkan bagaimana kebahagiaan, kemeriahan, dan kemapanan ditampilkan sebagai “pertunjukan”, padahal sering kali tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya.
Cerpen “Karnaval” dengan demikian menggambarkan bagaimana masyarakat sering kali terjebak dalam performa berpura-pura bahagia demi tuntutan sosial, media, atau kekuasaan. Apa yang disebut “bahagia” menjadi topeng sebuah karnaval besar yang menutupi luka. Peralihan ke cerpen lain dalam buku ini justru memperkuat ironi tersebut, dengan menghadirkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang retoris dan semu.
Masih dalam semangat yang sama, cerpen “Anak-Anak Langit” pun menyuarakan keresahan yang sama, dengan pendekatan simbolik yang berbeda. Dalam cerita ini, pembaca diperkenalkan pada tokoh-tokoh yang secara harfiah hidup di atas awan, suatu tempat yang dalam imajinasi umum diasosiasikan dengan surga, kebebasan, dan ketenangan. Sebagaimana topeng-topeng bahagia dalam karnaval, kehidupan “di langit” itu sendiri ternyata tak seindah kelihatannya.
Keceriaan yang Rapuh di Udara
“Anak-anak kecil yang matanya manis, cemerlang bak bintang kejora, tapi yang pelupuk matanya tetap saja kuyu.” (“Anak-anak Langit”, hal 129). Citra anak-anak yang penuh harap dan tampak ceria, yang menjadi simbol masa depan dan impian. Mereka tampak bersinar di luar, kenyataannya berbeda, terdapat kelelahan, kesedihan, kerasnya hidup akibat kemiskinan, dan bahkan kekosongan dalam diri mereka yang tidak dapat disembunyikan.
Anak-anak yang hidup dalam kondisi yang penuh tekanan atau trauma, seperti anak-anak yang dibesarkan dalam kemiskinan atau kekerasan, sering kali menghadapi krisis identitas. Mereka merasa terpecah antara apa yang seharusnya mereka alami (kebahagiaan dan keceriaan) dan apa yang sebenarnya mereka rasakan (keletihan emosional, ketidakpastian, atau bahkan depresi).
“Namun kenapa anak-anak itu tampak bahagia? Mata mereka cemerlang seperti bintang kejora, wajah mereka murni tanpa dosa.” (Anak-anak Langit, hal 132). Kebahagiaan yang terlihat pada anak-anak ini bukanlah ekspresi kebebasan, melainkan bentuk ketahanan untuk tetap hidup dan tersenyum dalam tekanan. Anak-anak ini mencerminkan masyarakat kelas bawah yang terbiasa tersenyum meski tertindas, menjadikan harapan dan keceriaan sebagai cara bertahan hidup, bukan sebagai cerminan kondisi yang sebenarnya.
Tokoh-tokoh dalam “Anak-Anak Langit” mengalami keterasingan, perasaan tidak dimiliki, dan kegelisahan eksistensial meskipun mereka hidup di tempat yang secara simbolik tinggi dan luhur. Kebahagiaan yang seharusnya melekat pada tempat seperti “langit” ternyata hanya ilusi. Mereka sebenarnya kehilangan arah, tidak tahu apa makna hidup mereka, dan terus bertanya-tanya mengapa mereka ada di sana.
Cerpen “Pada Suatu Hari Minggu” melihat kebahagiaan dari sudut pandang batin personal. “Setelah seribu tahun, baru disadari bahwa bukan hanya bunga, tapi juga daun bisa begitu indah. Aku sudah lama tahu, kita bisa bahagia dengan hanya memandang selembar daun” (“Pada suatu hari minggu”, hal 37). Dalam realitas kehidupan modern, terutama masyarakat urban, kebahagiaan sering kali dikaitkan dengan hal-hal besar, megah, atau luar biasa—seperti kesuksesan finansial, pencapaian sosial, atau kemewahan hidup, namun tokoh Bapak menyiratkan bahwa kebahagiaan justru bisa ditemukan dalam hal-hal kecil dan sederhana, seperti selembar daun yang biasanya luput dari perhatian. Ini menjadi kritik halus terhadap gaya hidup modern yang konsumtif dan terburu-buru.
Cerita ini juga bisa dibaca dalam konteks pasca-krisis 1998, ketika masyarakat Indonesia mulai mempertanyakan kembali nilai-nilai lama yang membentuk identitas mereka. Banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada kemegahan, melainkan dalam bentuk keberadaan yang tenang dan sadar. Maka, seperti dalam dua cerpen sebelumnya, kebahagiaan dalam cerita ini juga hadir sebagai bentuk perlawanan diam terhadap sistem yang memaksakan standar kebahagiaan palsu.
Teks sastra tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dengan teks atau konteks lain, termasuk sejarah. Karena itu, jika pembaca tidak menyadari keterkaitan cerpen-cerpen ini dengan peristiwa sejarah Indonesia pada masa itu, maka makna yang tersembunyi di balik simbol dan metafora menjadi kabur. Cerita bisa terbaca sekadar sebagai kisah surealis atau absurd, padahal sebenarnya memuat kritik tajam terhadap rezim dan sistem sosial yang menindas.
Penggunaan istilah asing dan referensi global seperti kutipan dalam bahasa Italia “Sebagai hiburan, dengarlah Soprano Montserrat Caballé berkumandang, Spira sul mare e sulla terra.” (“Anak-anak Langit, hal 133) bisa memperkaya warna cerita, namun sekaligus mempersempit jangkauan pemahaman bagi pembaca awam.
Intensitas kekerasan yang digambarkan dalam cerpen-cerpen ini seperti penyiksaan, pembunuhan, kehilangan orang-orang tercinta, atau kehidupan yang penuh tekanan bisa menimbulkan kesan bahwa Indonesia hanya digambarkan sebagai negeri gelap yang tak memberi harapan, tanpa ruang untuk pertobatan atau pembaruan moral. Kebahagiaan dalam cerita-cerita ini sering kali hadir bukan sebagai harapan, tapi sebagai tekanan sosial.
Pengarang mengajak kita membuka mata terhadap wajah lain kehidupan yang sering ditutupi topeng kebahagiaan. Cerpen-cerpennya tidak hanya menawarkan kisah, tetapi juga cermin sosial, kritik moral, dan perenungan. Hal ini menuntut pembaca untuk peka dan memahami konteks sejarah maupun simbolik, buku ini layak dibaca siapa saja yang ingin melihat kenyataan secara lebih jujur dan mendalam. Sebuah bacaan yang menyentak, menggugah, dan meninggalkan bekas panjang setelah halaman terakhir ditutup. (*)
*) Mahasiswa S-1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta.









