Oleh | Abdul Warits
RESENSI, NOLESA.COM – Keretakan dalam rumah banyak sekali dipengaruhi oleh berbagai permasalahan yang tidak bisa diatasi oleh pasangan suami istri. Keretakan dalam rumah tangga diakibatkan oleh beberapa faktor seperti perselingkuhan, ekonomi, internal keluarga dan lain sebagainya.
Dilansir dari Media Jatiim, Pengadilan Agama di Kabupaten Sumenep mencatat angka perceraian sepanjang 2025 sebanyak 1.708 kasus dengan perincian, 616 cerai talak dan 1.092 cerai gugat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari seluruh perceraian tersebut, Pengadilan Agama Sumenep telah memutus 1.505 kasus dengan perincian 990 cerai gugat dan 515 cerai talak. Tren angka perceraian 2025 meningkat sekitar 2,6 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.664 kasus dengan perincian 579 cerai talak dan 1.085 cerai gugat.
Lalu, bagaimana cara mengatasi angka perceraian ini yang semakin meningkat? Selain dibutuhkan edukasi tentang parenting dan keluarga maslahah di lingkungan keluarga, perceraian berakar karena tidak adanya cinta dan kasih sayang di dalam keluarga sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW.
Buku dengan judul Bilik-Bilik Cinta Muhammad ini menghadirkan gambaran komprehensif teladan kehidupan Rasulullah SAW dalam setiap rumah tangga yang dijejakinya sejak masa kanak-kanak hingga menjelang akhir hayatnya. Dr. Abazhah menelusuri setiap ruang dengan kepekaan mendalam, menggambarkan para penghuninya, akhlak Nabi yang dipraktikkannya, serta pola interaksi yang terjadi, termasuk bagaimana Rasulullah membangun budaya pergaulan yang penuh kelembutan dan kemuliaan moral.
Di dalam buku ini, dihadirkan potret indah rumah tangga Rasulullah, sebuah ruang cinta yang menjadi sumber inspirasi bagi setiap muslim dalam mewujudkan konsep “rumahku surgaku”. Rumah yang ideal digambarkan bukan sebagai rumah yang bebas dari masalah, melainkan sebagai keluarga yang mampu menghadapi dan menyelesaikan setiap tantangan dengan ketenangan dan hikmah.
Keindahan sebuah keluarga tidak terletak pada kemewahan materi, tetapi pada keluhuran akhlak, keteguhan cinta, dan kedalaman iman yang mewarnai kehidupan sehari-hari.

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak terletak pada harta yang melimpah dan fasilitas hidup yang serba mewah, tetapi kesediaan setiap individu untuk mengalah dan berkorban. Terutama sang ayah sebagai kepala rumah tangga yang memikul tanggungjawab untuk memimpin, membimbing, memberi teladan baik dan kebajikan sempurna kepada seluruh anggota keluarganya. (hlm. 10)
Salah satu kisah yang patut untuk dicontoh dari Nabi Muhammad SAW adalah sikapnya yang tetap mengedepankan kekeluargaan dan musyawarah ketika akan menerima lamaran dari seorang Janda, Siti Khadijah yang sudah bersuami dua kali. Nabi Muhammad tetap meminta pertimbangan dari pamannya yang lain. Setelah melalui perdebatan dan pertimbangan yang matang, akhir sepakat dan menerima lamaran dari Siti Khadijah. Mereka cukup puas dan memberkati keputusan kilat ini. (hlm. 53).
Dari beberapa pergaulan Nabi dengan para istrinya yang dikutip di dalam buku ini sangat romantis. Hal ini terbukti ketika Nabi Muhammad SAW berkeluarga dengan Aisyah, seorang gadis perawan dan muda yang umurnya dibawah usia nabi Muhammad SAW. Di rumah Nabi Muhammad SAW, Aisyah tumbuh semakin dewasa dan semakin matang. Setiap inci perkembangannya tak luput dari pengawasan Nabi Muhammad SAW.
Aisyah sangat merasa senang karena melalui tahapan kehidupannya dengan sempurna bersama dengan Rasulullah SAW, meskipun Rasullullah jauh meninggalkan fase usia muda, tak dibiarkannya Aisyah tumbuh tanpa bantuan dari Nabi. Aisyah terus diajak bermain seiring dengan pertumbuhan usianya yang terus berkembang.
Nabi Muhammad SAW tidak pernah menuntut Aisyah agar menyelaraskan diri dalam urusan dunia dengan selera Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah yang beradaptasi menyesuaikan dengan keinginan Aisyah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir,” Rasulullah SAW adalah pria gampangan, jika Aisyah ada maunya beliau menurutinya,”. (hlm. 91).
Romatisme kehidupan dalam berumah tangga yang diteladankan oleh Rasulullah SAW sudah selayaknya menjadi tauladan dalam kehidupan sehari hari. Membaca buku ini seakan mengajak pembaca untuk menyelami lika liku kehidupan rumah tangga Nabi yang dilalui dengan penuh suka dan duka sehingga bisa menghadirkan kebijaksaan dalam setiap masalah yang dihadapi di dalam rumah tangganya sebagaimana Nabi tidak pernah mengucapkan cerai meski istrinya melakukan kesalahan-kesalahan. (*)
*) Sekretaris LTN PCNU Sumenep masa Khidmah 2025-2026










