Oleh | Shinta Faradina Shelmi
RESENSI BUKU, NOLESA.COM – Lebih baik memberi waktu yang cukup atau menyediakan finansial yang cukup? Setiap orang tua memiliki pilihan hidup dan prioritasnya masing-masing. Sungguh ideal jika seseorang memiliki waktu yang cukup dengan keluarga serta kondisi finansial yang stabil. Hidup adalah sebuah pengorbanan: mengorbankan waktu bersama keluarga atau cita-cita yang terhalang dana?
Keadaan inilah yang dialami oleh tokoh Ayah pada buku Maafkan Kami Ya, Nak! karya Koko Dwiyanto. Buku self improvement kedua dari Koko Dwiyanto, berusaha mengangkat masalah yang umum terjadi dalam kehidupan keluarga yang sering luput dari perhatian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mungkin, sebagian besar pembaca akan merasa senasib (relate) dengan keluh kesah tokoh anak yang tertuang dalam buku ini. Keluh kesah dan keresahan yang berasal dari sudut pandang anak, seorang anak yang kehilangan ‘peran’ orang tua dalam hidupnya.
Komplektisitas Keluarga dan Budaya Partriarki
Cerita di dalam buku Maafkan Kami Ya, Nak! terbilang cukup kompleks dan mampu menyentuh berbagai lapisan persoalan keluarga. Salah satunya adalah budaya patriarki yang sudah mengakar dan seakan sudah dinormalisasi. Kesadaran akan budaya patriarki perlu ditingkatkan sedari kecil. Mengerjakan pekerjaan rumah bukan sebuah ‘keharusan’ bagi seorang ibu. Tidak ada yang salah dengan seorang ayah yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kan? Merawat anak bukan hanya ‘keharusan’ bagi seorang ibu. Bukankah anak juga membutuhkan peran ayah dalam hidupnya?
Bu,
sekarang aku telah tumbuh dewasa.
Bagaimana rasanya punya tanggung jawab
harus merawat anak serta suamimu?
Mengerjakan pekerjaan rumah,
menyiapkan pakaian sekolah,
menyiapkan sarapan,
menyetrika pakaian.
Bu, bagaimana rasanya jadi ibu? (hal. 70)
Anak sebagai Investasi dan Dilema Pilihan
Selain partriarki, buku ini juga menyoroti persepsi “anak sebagai invertasi” dan kesan sikap pilih kasih antar anak. Sebagai orang tua, tentu ada keinginan untuk tetap dekat dengan anak. Namun di lain sisi, seorang anak mempunyai mimpi dan cita-cita yang ingin mereka wujudkan. Dilema yang lumrah terjadi. Sebenarnya, sebagai seorang anak kita harus memprioritaskan hal yang mana? Bernegosiasi terhadap keputusan yang kita anggap tidak adil atau diam menerima kenyataan? Sebuah pilihan yang sulit. Menemani ibu di masa senja memang perbuatan yang mulia, tetapi terdapat mimpi-mimpi yang harus dikubur dalam-dalam.
“Kerjanya yang dekat-dekat saja, ya, Nak.
Kakakmu sudah merantau jauh.
Kalau nanti kamu merantau juga,
Ibu di rumah sama siapa?”
Pesan yang selalu ku ingat dari Ibu sampai sekarang. (hal. 84)

Sebagai anak, kita sering kali terlalu egois untuk memahami atau mengerti keadaan orang tua. Selalu menyalahkan orang tua yang tidak seperti orang tua teman-temannya tanpa berusaha memahami keadaan orang tuanya. Buku ini menyajikan keluhan-keluhan seorang anak yang memiliki keluarga tidak “ideal” menurut pandangan pribadinya. Keluarga yang tidak sempurna. Mungkin keluhan-keluhan tersebut juga dirasakan oleh anak-anak lain di luar sana.
Waktu adalah sesuatu yang tidak dapat diulang. Sebesar apapun penyesalah seseorang terhadap masa lalu, hal itu tidak akan mengubah apapun. Buku ini dapat menjadi cermin yang memantulkan kembali sikap dan hubungan seseorang dengan orang tuanya. Mengajak pembaca untuk merefleksi segala sesuatu yang telah terjadi antara anak dan orang tua. Apakah perbuatan kita selama ini sudah mencerminkan pengertian seorang anak kepada orang tuanya atau belum.
Menerka-nerka atau Berdasarkan Fakta?
Meskipun buku ini menampilkan berbagai perasaan atau emosi yang umum terjadi dalam keluarga, penggunaan kata “mungkin” dan “barangkali” terlalu mendominasi. Hal ini membuat buku terkesan menerka-nerka, bukan riset terhadap perasaan tokoh orang tua dalam buku ini. padahal, sinopsisnya mengatakan bahwa “mengerti” bahasa cinta dan perasan yang dialami oleh orang tua. Dominasi tulisan yang mengungkapkan perasaan, kecemasan, dan emosi yang dirasakan oleh anak juga menjadikan buku ini belum bisa benar-benar mengungkapkan perasaan yang dirasakan oleh orang tua, terutama seorang ayah.
Tidak adanya sudut pandang orang tua menjadikan buku ini kurang cocok masuk kategori buku selft improvement. Seharusnya, dengan menhadirkan sudur pandang orang tua, pembaca yang menyandang peran sebagai anak akan terbantu untuk memahami sudut pandang orang tuanya secara objektif. Dengan begitu, refleksi diri pun akan lebih mendalam dan menyeluruh.
Buku ini cocok dibaca oleh remaja dan dewasa, terutama bagi mereka yang masih menyimpan luka masa lalu akibat kondisi keluarga. Bagi mereka yang kerap menyalahkan orang tua atas apa yang telah terjadi di hidupnya, buku ini dapat menjadi jembatan untuk mulai memahami dan berdamai dengan keadaan.
Bagi calon orang tua, buku ini menyadarkan pentingnya perah orang tua dan kondisi finansial yang stabil bagi anak. Selain itu, bagi remaja awal yang kesulitan untuk mengekspresikan emosi, buku ini dapat membantu memvalidasi perasaan yang mereka miliki. Meskipun tidak memberikan solusi konkret, buku ini dapat membantu seorang anak untuk refleksi diri dan menjembatani emosi yang dirasakannya.
*Shinta Faradina Shelmi, lahir di Pati, 28 Januari 2004. Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, angkatan 2022. Pernah menulis esai berjudul ”Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri” (2023), “Ikan Buntal Mem-Bendung Racun” (2024), “Mengutamakan Implementasi” (2024), “Negeri Paling Aneh” (2024), “Penjara Malam” (2024), dan “Trotoar, Pedagang, dan Keserakahan” (2025) di Nolesa. Tinggal di Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Dapat dihubungi melalui media sosial: IG @Shintafs_.










