Pengalaman Ilmiah vs Pengalaman Spiritual

Redaksi Nolesa

Minggu, 21 Agustus 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Judul buku  : Proof of Heaven: Perjalanan Seorang Ahli Bedah Saraf Menuju Alam Baka

Penulis        : Eben Alexander, M.D

Tahun terbit: 2013

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penerbit       : Bentang

Tebal            : 248 halaman

ISBN             : 978-602-7888-84-5

Peresensi    : Suci Ayu Latifah*)


Buku ini telah diterbitkan di 39 negara, berjudul Proof of Heaven: Perjalanan Seorang Ahli Bedah Saraf Menuju Alam Baka.

Secara substansial, apa yang ditulis oleh Eben Alexander adalah perjalanan hidupnya selama tujuh hari mengalami koma akibat sakit meningitis bakteri E-coli gram-negatif. Suatu penyakit langka karena bagian korteks otak terselimuti bakteri bernanah.

Penyakit tersebut termasuk unik, pertama karena biasanya terjadi pada usia anak-anak. Kedua, penyakit menyerang bagian dari kesadaran manusiawi. Harapan sembuh (terlewati masa koma) dari penyakit ini hanyalah 10 persen.

Faktanya, aku terancam risiko kematian yang cukup besar dan segera. Kalaupun aku tidak mati, bakteri yang menyerang otakku mungkin sudah melahap cukup banyak korteksku sehingga sudah melemahkan aktivitas otak setinggi apa pun (hal.34).

Amat menyentuh—edukatif, informatif, motivatif, di buku kali ini Alexander menuliskan cerita nyatanya. Pengetahuan dan pengalaman yang bertolak dari selama ini digeluti sebagai seorang ilmuwan.

Penelitian ilmiah tentang otak, saraf, dan patologi membuatnya kini meragu akan medis. Pengalaman dunia spiritual ‘secara langsung’ berkomunikasi dengan Tuhan seolah-olah nyata selama hidup.

Bisikan yang diingat adalah ‘kasih sayang’, Tuhan mengasihi tanpa syarat. Manusia dapat terhubung lewat pertautan surgawi dengan Sang Pencipta. Menjadi manusia istimewa lewat momen mati suri menjadi perjumpaan dengan-Nya.

Baca Juga :  Howard Buten dan Dunia Autisme

Perjumpaan yang tidak banyak terjadi pada manusia. Begitu pula, perjumpaan yang dipandang cerita belaka bagi masyarakat secara umum.

Testimoni Alan Hamilton, pengarang buku The Scalpei and the Soul dan Zan Mind, Zen Horse. Buku yang saat ini dihadapan pembaca menghadirkan perspektif yang unik terhadap dunia sakral dengan memadukan visi pribadi nan megah dari kesadaran spiritual dengan penelitian ilmiah mendalam yang teliti.

Alexander menemukan pengalaman lain di saat koma. Pengalaman dan pengetahuan bertolak pada penelitian-penelitian ilmiah yang selama ini digeluti bersama dokter dan ilmuwan-ilmuwan lainnya.

Pengalaman dan pengetahuan itu kini ditulisnya dalam buku Proof of Heaven, dan telah banyak diceritakan kepada orang-orang yang barangkali pernah mendengarkan cerita yang mirip, atau orang yang ingin mempercayai tentang dunia luar ini.

Stilistika naratif ilmiah-inspiratif menyimak judulnya saja buku yang ditulis tokoh utama dalam cerita menampilkan gambaran yang menimbulkan tanya. Diksi ‘alam baka’ menggiring pada kehidupan setelah di dunia, atau kehidupan di luar dunia ini.

Bersama, dapat kita nikmati sajian cerita berbahasa komutatif. Hal-hal yang terjadi pada orang mati suri, setelah koma seminggu, dan dapat hidup kembali.
Alexander mengalami itu, dan kembali hidup laiknya orang baru lahir.

Dunia seakan-akan pemandangan baru. Ia tampak seperti orang linglung ketika mendapati wajah-wajah dan suara-suara yang tidak ia kenal (sebenarnya orang dikenal).

Baca Juga :  Guru Literat: Inisiator yang Kreatif

Beruntung, Holley, istrinya dan kedua anak laki-lakinya Eben IV dan Bond berusaha mengungkit ulang kenangan-kenangan yang pernah dilewati pengarang lulusan University of North Carolina di Chapel Hill 1976. Pada momen-momenku yang lebih tenang, Phyllis dan Betsy membantu menarikku kembali ke bumi secara perlahan.

Mereka mengingatkan bermacam-macam cerita dari masa kecil kami dan walaupun biasanya aku mendengarkan seperti orang yang sedang mendengarkan untuk kali pertama, aku selalu terpesona (hal. 153).

Sebagai spesialis bedah saraf selama 15 tahun, Alexander sangat mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat koma. Ia memeriksa catatan-catatan dokter, goresan tinta yang pernah ia lakukan saat menangani pasien dengan diagnosa saraf.

Kegalauan dirasakan Alexander. Koma, digambarkan orang sedang mati. Raga yang dilihat tak lain jasad. Namun, saat koma, ia menyadari kehidupan yang saat berada di Gerbang dan Inti.

Bisikan Tuhan amat dekat dan ‘ultranyata’. Ia pula, bertemu dengan gadis-gadis cantik bersayap kupu-kupu, malaikat-malaikat, makhluk gaib, tanah berlumpur, cacing-cacing tanah, dan berada di sebuah ruangan yang gelap.

“Yang terjadi kepadaku selama koma jelas merupakan kisah terpenting yanga kan kututurkan. Namun, kisah ini sulit disampaikan karena sangat asing bagi pemahaman biasa” (hal.13).

Perjumpaan ‘alam baka’ secara detail diceritakan, sehingga pada buku setebal 248 halaman ini akan banyak kesempatan pembaca mendalami kehidupan di luar dunia. Tentu, menimbulkan suatu pengetahuan baru.

Baca Juga :  Sastra, Antara Harapan dan Peluang di Yogyakarta

Terlebih, penyajian cerita yang kronologis mudah diikuti. Pengarang tidak melompat-lompat. Setiap judul yang diberikan adalah aluran yang menarik. Karenanya, buku satu ini merupakan buku terjemahan yang enak untuk dibaca. Alhasil pembaca terkomunikasi dengan mudah mengikuti alur penceritaan mulai dari awal, hingga akhir cerita.

Hibringnya, ada tulisan footnote yang membantu pembaca terhadap bahasa-bahasa ilmiah. Karenanya, orang di luar biologi maupun fisika dapat menuntaskan buku bergizi ini. Tidak saja itu, terdapat dua lampiran sebagai penjelas terkait penyakit Alexander; pertama Pernyataan Scott Wade (spesialis yang memeriksa Alexander pada 10 November 2008); dan kedua Hipotesis Ilmu Saraf yang Kupelajari untuk Menjelaskan Pengalamku. Terakhir, yang istimewa terdapat daftar pustaka dan indeks yang jarang ditemui pada buku-buku sejenis.

Akhirnya, dituliskan pengalaman mati suri Alexander menjadi sesuatu yang berharga baginya. Meski bertolak dengan penelitian-penelitian ilmiah, ia menjadikan sebagai pengalaman transformatif.

Kesadaran kasih sayang menjelma kekuatan setiap roh. Alexander menyimpan cerita dalam buku ini, dan menuliskan untuk orang-orang yang mau percaya. Titik simpul dari dunia spiritual, Alexander tetaplah seorang ilmuwan, seorang dokter yang bertugas membantu menyembuhkan orang.

Setelah ia menyakinkan rekan-rekan dokternya bahwa yang dialami ‘ultranyata’.
“Silakan kunjungi www.eternea.org untuk kebangkitan spiritual Anda lebih lajut atau untuk membagikan cerita pribadi kalian sendiri mengenai pengalaman transformatif spiritual yang pernah kalian miliki (hal.218).


*) Suci Ayu Latifah, tenaga pengajar di Ponorogo.

 

Berita Terkait

Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman
Segala Tentang Perempuan Dalam Novel Aib dan Nasib Karya Minanto
Menjadi Guru Masa Depan
Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial
Puisi Muhammad Dzunnurain Madura
Menembus Kedalaman Makna Cinta
Melintasi Bayang Kelam dalam ‘William’ Karya Risa Saraswati
Menelusuri Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita Karya Joko Pinurbo

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 10:01 WIB

Feminisme dan Cinta: Menemukan Keseimbangan Antara Kesetaraan dan Keintiman

Kamis, 13 Juni 2024 - 21:00 WIB

Menjadi Guru Masa Depan

Kamis, 13 Juni 2024 - 00:07 WIB

Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial

Rabu, 12 Juni 2024 - 23:50 WIB

Puisi Muhammad Dzunnurain Madura

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:30 WIB

Menembus Kedalaman Makna Cinta

Selasa, 11 Juni 2024 - 07:36 WIB

Melintasi Bayang Kelam dalam ‘William’ Karya Risa Saraswati

Minggu, 9 Juni 2024 - 12:00 WIB

Menelusuri Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Asu di Antara Kita Karya Joko Pinurbo

Sabtu, 8 Juni 2024 - 13:33 WIB

Segala Rasa yang Tersimpan dalam Hati yang Tidak Bisa Dikendalikan pada Puisi “Pasuka Hati” Karya Mustofa W Hasyim

Berita Terbaru

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Budaya

Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Jumat, 14 Jun 2024 - 13:11 WIB