Oleh | Yunisa
RESENSI BUKU, NOLESA.COM – Bagi sebagian orang, mereka meyakini bahwa cinta habis di orang lama itu tidak benar adanya. Mereka yang punya energi cukup untuk memulai hubungan dengan orang baru akan merasa relate dengan hal yang demikian.
Mereka yakin bahwa cinta bukan sesuatu yang bersifat statis melainkan dinamis. Cinta merupakan perasaan yang dapat tumbuh dan berubah seiring berjalannya waktu. Jika suatu hubungan asmara sudah berakhir, mereka akan memutuskan untuk semakin meningkatkan kualitas dirinya. Itulah hal terlogis yang akan mereka lakukan untuk meningkatkan value dirinya agar mendapat pasangan yang setara seperti yang mereka inginkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, apakah cinta dan akal logis dapat disatukan dalam satu kurun waktu? Cinta dan akal logis sering kali diibaratkan seperti air dan minyak. Dua hal yang tampak mustahil untuk menyatu dalam satu ruang yang harmonis.
Ketika cinta mulai berbicara, logika sering kali terdiam. Saat cinta mencoba mengambil alih, nyatanya logika akan merasa tersisih. Dalam banyak kisah, cinta membuat seseorang bertahan meskipun logika sudah lama menyerah. Ia membuat manusia mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan akal sehat, menoleransi luka, atau mempertahankan yang sebenarnya tidak lagi layak untuk dipertahankan.
Seperti kisah yang tertuang dalam novel Diandra karya Fye, novel ini mengangkat kisah dari sebagian manusia lainnya yang menganut keyakinan bahwa orang lama akan selalu jadi pemenangnya.
Aku sudah jatuh cinta pada seseorang dengan begitu dalam, Gi. Lantas bagaimana aku bisa kembali jatuh cinta pada gadis lain saat aku bahkan sudah tidak bisa melihat gadis lain selain dia? (Fye, 2018:190).
Dalam novel tersebut, digambarkan bagaimana tokoh Fandy Prayudha yang memiliki perasaan cinta begitu dalam terhadap sahabatnya sejak kecil, Diandra Paramitha Lubis. Mereka berdua telah bersahabat sejak kecil setelah Fandy dan keluarganya memutuskan untuk pindah rumah ke Bandung.
Rumah baru Fandy bersebelahan dengan Diandra. Keluarga Diandra dan keluarga Fandy pun dekat sejak saat itu. Suatu ketika terdapat kejadian yang menimpa Diandra saat perayaan ulang tahunnya yang ke-6 dan mungkin terakhir. Saat perayaan ulang tahunnya, ayah sekaligus cinta pertama Diandra dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan.
Seluruh teman dan kerabat, termasuk Fandy sangat prihatin dengan tragedi yang telah menimpa Diandra. Fandy pun berjanji pada dirinya untuk menjaga dan melindungi gadis itu. Seiring berjalannya waktu, Fandy tak mampu membohongi perasaannya.
Kedekatannya dengan Diandra, sahabat sejak kecilnya itu menumbuhkan benih-benih cinta yang membuat mereka kini terjebak dalam dilema. Dirinya takut bahwa dengan mengungkapkan perasaannya akan membuat hubungan persahabatan dua insan itu menjadi asing.
Fandy takut kalau cinta yang diungkapkan tidak terbalas atau berakhir di tengah jalan, maka yang tersisa sering kali bukan lagi dua sahabat, melainkan dua orang asing yang saling mengenang kedekatan yang dulu pernah tercipta. Fandy merasa dengan menjadikan cinta sebagai alasan untuk mengubah persahabatan merupakan bentuk paling rendah dari penghargaan terhadap ikatan itu sendiri.
Namun, ketakutan Fandy sebenarnya tak beralasan, sebab Diandra pun ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Bagaimana tidak? Suatu hal yang mustahil bagi dua anak manusia yang telah tumbuh bersama dan saling mengenal sejak langkah-langkah kecil pertama, tapi tidak membekas sedikit pun di hati satu sama lain. Mereka tahu cara tertawa yang paling jujur, rahasia-rahasia kecil yang tak pernah terucap kepada orang lain, dan luka yang hanya dapat dipahami oleh mereka berdua.
Kedekatannya dengan Diandra yang tak mampu diungkapkan olehnya justru ia lampiaskan pada hal-hal lain yang tanpa disadari dapat mengakibatkan luka bagi Diandra. Saat itu, Fandy merupakan mahasiswa yang cukup terkenal di kampus karena ketampanannya dan dirinya juga menjadi salah satu pemain basket yang handal di timnya.
Timnya sangat terkenal di kampus sebab sering kali memenangkan turnamen. Hal itu ia manfaatkan untuk mendekati gadis-gadis populer di kampusnya. Fandy juga terkenal sebagai mahasiswa yang sering berganti pasangan.
Dirinya tidak merasa bersalah sedikitpun saat melakukan hal tersebut. Ia berpikir bahwa yang ia lakukan adalah hal wajar. Dirinya ingin bermain-main dengan banyak perempuan sebelum ia mampu menyatakan perasaan dan serius dengan Diandra ke jenjang berikutnya. Ia ingin menghabiskan masa nakalnya agar saat kelak menjalin hubungan dengan Diandra yang tersisa hanyalah rasa setia.
Dekat dengan banyak gadis dan selalu berganti pasangan ia lakukan karena dirinya tak ingin membuat persahabatannya dengan Diandra menjadi hancur hanya karena pernyataan cinta yang telah lama ia pendam. Dirinya merasa bahwa Diandra tak memiliki perasaan dengannya, sebab yang Fandy tahu bahwa Diandra adalah gadis yang tidak terlalu memikirkan cinta di hidupnya.
Di mata fandy, Diandra adalah gadis ambisius yang selalu mengejar pendidikannya. Diandra yang selalu mendapat peringkat di kelas bahkan menjadi asisten dosen di semester 6 tentu membuatnya tak pernah berpikir tentang cinta. Namun, itulah kesalahan terbesar Fandy. Ia berpikir bahwa sahabatnya yang selalu mengutamakan akademik tak punya waktu untuk menaruh hati pada seseorang.
Di sisi lain, Diandra yang merasa telah lama menjadi sahabat Fandy pun tak mampu mengungkapkan perasaannya pada pria itu. Dirinya merasa sejak sekolah hingga duduk di bangku perkuliahan Fandy hanya akan menjadikannya sahabat, tak pernah terlintas untuk menjadikannya seorang kekasih. Hal itu karena ulah Fandy yang dengan mudahnya dekat dan berkencang dengan gadis lain.
Fandy memang selalu menjadikan Diandra sebagai rumah untuk tempatnya berpulang. Meskipun ia baru saja berkencan dengan gadis lain, Fandy akan tetap kembali lagi ke dalam peluk Diandra. Namun demikian, Diandra tetap tak merasa bahwa kepulangan Fandy lantas membuatnya menjadi orang spesial di hidupnya. Diandra tidak mau berbesar kepala dengan hal itu.
Tanpa disadari, perbuatan Fandy telah menyeret banyak orang asing untuk ikut campur dalam hubungannya dengan Diandra. Banyak dari kekasih dan mantan kekasih Fandy yang sering kali melabrak Diandra karena merasa bahwa Diandra adalah penghalang bagi hubungan mereka dengan Fandy. Fandy memang sering berganti pasangan, tapi Fandy tak pernah menaruh rasa sedikit pun dengan gadis-gadis yang ia kencani itu.
Dirinya hanya akan selalu mencintai Diandra, meskipun raganya selalu bermain-main dengan perempuan cantik di sekitarnya. Gadis-gadis yang pernah dekat dengan Fandy merasa dipermainkan oleh Fandy karena ternyata meskipun mereka bisa dekat dengan pria itu, ternyata tetap saja hanya Diandra yang Fandy ingin.
Sungguh, sosok Fandy memang terlihat sangat egois. Mencintai sahabatnya sejak kecil, namun tak berani mengungkapkannya. Lalu dirinya justru mencari pelampiasan dengan bermain-main perempuan. Ironisnya, dirinya tak merasa berdosa sedikit pun atas perbuatannya itu. Ia tak menyadari bahwa perbuatannya justru membuat sahabat perempuannya terluka.
Janjinya untuk menjaga dan melindungi sahabat perempuannya itu memang selalu ia tepati, namun tidak dengan hal ini. Tanpa disadari, ia sendiri yang menjadi luka bagi Diandra.
Namun, masing-masing tokoh sebenarnya tidak ada yang salah. Semua tokoh berperan sesuai dengan hati nurani mereka. Fandy dengan keyakinannya bahwa memendam perasaan cinta kepada sahabatnya adalah jalan terbaik, meskipun dengan melampiaskan ambisinya kepada gadis-gadis lain.
Di pihak lain, Diandra yang selalu mengutamakan akademiknya demi kesuksesannya di masa depan sebab dirinya berasal dari keluarga yang sederhana. Untuk menempuh pendidikan tinggi pun ia harus mengandalkan beasiswa. Maka dari itu, langkah yang ia lakukan hanyalah fokus bagaimana caranya ia dapat menempuh kuliah setinggi-tingginya untuk mendapatkan hidup yang layak di kemudian hari baginya dan keluarganya.
Sebenarnya Diandra juga sudah berusaha menjadi tempat pulang yang baik bagi Fandy, namun Fandy tak cukup dengan hal itu. Fandy ingin memiliki Diandra sebagai hubungan pria dan kekasih, bukan hanya sahabat. Namun, keduanya tak mampu saling mengutarakan hanya karena takut saling melukai.
Begitu pula dengan kekasih dan mantan kekasih Fandy yang berusaha untuk mempertahankan hak mereka. Mereka memang telah menjadi kekasih Fandy, tetapi mereka merasa bahwa Fandy selalu punya tempat spesial yang berbeda untuk sahabat perempuannya itu. Selayaknya kekasih yang ingin menjadi perempuan satu-satunya di hidup prianya, tentu mereka tak menginginkan Diandra hadir di tengah hubungan mereka.
Namun, Fandy tak mempedulikan bagaimana perasaan gadis-gadis yang pernah ia jadikan kekasih itu. Fandy tetap akan menjadikan Diandra sebagai gadis yang selalu punya ruang berbeda dengan perempuan mana pun, sekalipun kekasihnya sendiri. Hubungan Fandy dengan mantan kekasihnya kebanyakan berakhir hanya karena mereka iri dengan kedekatan Fandy dan Diandra. Mereka merasa bahwa Diandra selalu menjadi pemenangnya.
Kisah dalam novel ini tentu akan menarik perhatian bagi pembaca yang merasa memiliki keyakinan tentang “Orang lama yang akan selalu menjadi pemenangnya”, “Cinta habis di orang lama itu nyata adanya”, atau bahkan hubungan persahabatan yang terjebak dalam sebuah perasaan cinta yang tak mampu terungkapkan. Novel ini sangat tepat untuk dijadikan pilihan sebagai daftar bacaan bagi anak remaja atau dewasa yang menyukai genre romance.
![]()
Novel ini tidak hanya mengangkat kisah cinta dan persahabatan saja, tetapi juga menyoroti aspek kehidupan sehari-hari yang cukup kompleks, termasuk kisah pertemanan di masa remaja dan eksplorasi identitas diri. Novel yang membahas tentang eksplorasi identitas diri memiliki keunggulan besar bagi remaja karena dapat membantu mereka mengenal dan memiliki diri-sendiri di tengah masa pencarian jati diri. Novel semacam ini juga mendorong empati, membuka wawasan terhadap berbagai latar budaya dan kehdupan, serta memberi inspirasi dan harapan bahwa pencarian jati diri adalah proses yang wajar bagi anak remaja.
Novel Diandra memiliki kelebihan utama dalam kemampuannya menangkap dan mengungkapkan berbagai lapisan masalah serta teka-teki yang kerap muncul dalam kisah persahabatan dan percintaan, terutama di kalangan remaja.
Melalui tokoh-tokohnya yang dihadirkan dengan emosi yang jujur dan nampak realistis. Pembaca diajak untuk menyelami kisah hubungan yang tidak selalu berjalan mulus, mulai dari kesalahpahaman hingga perasaan yang tak terucapkan. Hal tersebut tergambarkan dalam kutipan berikut.
Fandy memang selalu memikirkan tentang bagaimana ia akan mengatakan tentang perasaannya pada Diandra dan bagaimana caranya pria itu menawarkan sebuah dimensi baru untuk hubungan mereka berdua. Hanya saja, Fandy sama sekali tidak menyangka jika ia akan bertindak barbar seperti ini dan membuat Diandra tidak nyaman bahkan kehilangan kata-kata. Sungguh, mereka berdua sudah saling mengenal sejak masih sangat muda, dan seharusnya itu cukup untuk membuat Fandy mengenal Diandra dengan baik. Seharusnya Fandy cukup tahu jika gadis ini sama sekali tidak menyukai cara seperti itu (Fye, 2018:173-174).
Novel ini berhasil menunjukkan bahwa persahabatan dan cinta sering kali berdampingan dalam ruang yang rapuh. Selain itu, novel ini juga mengajarkan bahwa kejujuran, keberanian mengungkapkan isi hati, dan penerimaan terhadap perbedaan merupakan kunci untuk menjaga keduanya. Kelebihan inilah yang membuat novel ini bukan hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran yang berharga tentang bagaimana menyikapi hubungan antarmanusia dengan lebih dewasa dan bijak.
Diksi yang digunakan dalam novel ini juga sangat mudah dipahami, membuat pembaca merasa ikut merasakan hal yang dirasakan oleh setiap tokohnya. Saat membaca novel ini, pembaca akan merasa mengalir mengikuti alur ceritanya dan tidak sadar bahwa telah banyak halaman yang dibacanya.
Sementara itu, kekurangan novel ini yaitu tampak pada ketidakkonsistenan dalam pengungkapan watak tokoh-tokohnya. Hal tersebut tergambarkan dalam kutipan berikut.
Sebenarnya Diandra tidak terlalu tertarik dengan hubungan percintaan yang selama ini dijalani oleh Fandy, sebab sahabatnya itu adalah pria biadab yang bisa saja berganti pacar sebanyak lima kali dalam dua bulan. Tapi kali ini rasanya Diandra tergelitik untuk ikut campur sebab Lyla adalah gadis pertama yang bersedia bercerita padanya tentang hubungannya dengan Fandy (Fye, 2018:45).
Salah satu kelemahan dalam novel Diandra terletak pada ketidakkonsistenan penggambaran watak tokohnya, khususnya tokoh utama, Diandra. Sejak awal, Diandra digambarkan sebagai sosok yang cenderung cuek terhadap urusan percintaan orang lain, termasuk hubungan sahabatnya sendiri, Fandy.
Ia terkesan enggan terlibat dalam urusan yang menurutnya tidak penting atau tidak berhubungan langsung dengannya. Namun, seiring perkembangan cerita, sikap Diandra berubah drastis tanpa penjelasan yang memadai. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang ikut campur, bahkan tergelitik untuk menyelami urusan asmara Fandy. Tidak ada penjelasan yang kuat mengenai perubahan sikap ini selain alasan yang cukup dangkal, yakni karena Lyla bersedia bercerita padanya.
Selain itu, terdapat kutipan lain yang menguatkan bahwa penggambaran watak tokoh dalam novel ini terkesan tidak konsisten.
Sebenarnya Diandra bukan mahasiswi yang gemar beradu argumen dengan mahasiswi lain untuk hal-hal seperti ini. Yang benar saja, menghadapi dosen yang tidak pernah berhenti memberinya tugas saja sudah membuat Diandra kewalahan, untuk apa ia harus menghadapi seorang gadis yang sedang patah hati seperti ini? Tapi tetap saja dijuluki sebagai parasit berulang kali bukan hal yang disukai oleh gadis mana pun (Fye, 2018:48).
Ketidakkonsistenan juga muncul dalam peristiwa lain. Dalam kutipan di atas, Diandra disebut bukan tipe mahasiswi yang suka beradu argumen, terutama untuk hal-hal sepele. Namun, dalam cerita tersebut tiba-tiba Diandra justru memilih untuk menghadapi dan berkonflik secara langsung dengan seorang gadis. Lagi-lagi, perubahan sikap ini tidak diiringi dengan penjelasan yang logis, melainkan terjadi secara tiba-tiba demi mendorong alur cerita. Semuanya terasa serba tiba-tiba bagi pembaca.
Meskipun novel Diandra memiliki kekurangan dalam hal ketidakkonsistenan penggambaran watak tokoh, hal tersebut tidak sepenuhnya mengurangi nilai keseluruhan dari cerita yang dihadirkan. Tokoh utama yang terkadang bertindak tidak sejalan dengan karakterisasi sebelumnya memang menjadi catatan penting, terutama bagi pembaca yang mengutamakan konsistensi karakter dalam sebuah karya fiksi.
Namun, kekurangan ini dapat dimaklumi dalam hal upaya penulis untuk menghidupkan dinamika cerita yang penuh konflik dan perubahan emosi. Dengan kata lain, meski perlu perbaikan dari segi pembangunan karakter, novel ini tetap memiliki kekuatan naratif yang patut diapresiasi.
Di balik kekurangannya, novel Diandra karya Fye tetap dapat dijadikan sebagai slaah satu novel pilihan yang layak dibaca bagi penggembar cerita romantis. Novel ini mampu menangkap dan mengungkap berbagai persoalan yang kompleks dalam hubungan persahabatan dan percintaan remaja. Kisah yang disampaikan dengan emosi yang jujur dan realistis membuat pembaca merasa dekat dengan tokoh-tokohnya.
Selain itu, alur yang mengalir dan diksi yang ringan membuat novel ini mudah dinikmati, sehingga layak dijadikan salah satu pilihan bacaan bagi penggemar kisah romantis yang sarat emosi dan makna. Jadi, bagi kalian yang ingin tahu bagaimana akhir dari kisah persahabatan antara Diandra dan Fandy jangan lupa untuk membaca dan menamatkan novel ini!
*mahasiswi prodi PBSI UNY










