SOSOK, NOLESA.COM – Ketika banyak orang melihat toga profesor sebagai simbol prestise akademik, Prof. Dr. Kastam Syamsi, M.Ed. justru melihatnya sebagai hasil dari perjalanan panjang yang dimulai dari desa kecil Panimbang, di Cilacap.
Ia bukan lahir dari lingkungan elite akademik. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Panimbang IV, Kecamatan Cimanggu. Setelah itu, ia masuk SMPN 1 Cimanggu dan melanjutkan ke SPGN Cilacap, sebuah jalur pendidikan yang dahulu identik dengan pencetak guru-guru daerah. Dari SPG, ia melanjutkan ke IKIP Yogyakarta, kemudian University of Houston di Amerika Serikat, hingga Program Doktor Universitas Negeri Malang.
Dari ruang-ruang kelas sekolah keguruan itulah jalan hidupnya membentang dan perlahan terbentuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru Besar
Puluhan tahun kemudian, pada Selasa (12/5/2026), ia berdiri di Sidang Terbuka Universitas Negeri Yogyakarta sebagai guru besar bidang Pengembangan Pembelajaran Bahasa. Yang menarik, pidato pengukuhannya tidak dipenuhi euforia gelar akademik. Ia justru berbicara tentang menulis.
“Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” katanya, mengutip Pramoedya Ananta Toer.
Di tengah budaya akademik yang sering terjebak pada angka publikasi dan administrasi, ia mengingatkan bahwa menulis sejatinya adalah cara manusia menjaga gagasan agar tetap hidup.
Ia menyoroti persoalan pembelajaran menulis di Indonesia yang dinilainya masih belum memuaskan. Dalam pidatonya, ia menyoroti pembelajaran yang terlalu menekankan hasil akhir tanpa membangun proses berpikir siswa. Menurutnya, siswa selama ini lebih sering “meniru contoh” dibanding memahami struktur berpikir sebuah tulisan.
Karena itu, ia menawarkan pendekatan proses genre sebagai model pembelajaran menulis yang lebih relevan. Pendekatan tersebut menggabungkan proses berpikir, pemahaman konteks sosial, dan kemampuan menyusun teks secara sistematis.
Akademisi Inspiratif
Lahir di Cilacap, 2 Maret 1963, karier profesional Prof. Kastam Syamsi tumbuh bersama institusi yang ia layani. Ia pernah menjadi Sekretaris Jurusan PBSI, Ketua Jurusan PBSI, Wakil Dekan, Koordinator Program Studi S1, S2, dan S3, hingga anggota senat akademik.
Di luar kampus, ia juga aktif sebagai asesor BAN-PT dan asesor Lamdik. Rangkaian jabatan itu menunjukkan satu pola penting bahwa ia tidak hanya mengajar, tetapi juga ikut membentuk tata kelola pendidikan tinggi.
Dengan kata lain, ia bekerja bukan hanya di ruang kelas, melainkan juga di ruang-ruang keputusan yang menentukan mutu program studi.
Perjalanannya ke University of Houston pada 1995–1996 menjadi salah satu titik penting yang memperkaya horison profesionalnya. Pengalaman di Amerika Serikat itu bukan sekadar studi lanjut, melainkan perjumpaan dengan tradisi akademik yang berbeda.
Sepulang dari sana, ia membawa cara pandang yang lebih luas tentang pengajaran bahasa dan literasi, yang kemudian tampak dalam arah riset dan pengabdiannya. Hingga kini, minatnya tetap konsisten: pembelajaran menulis, literasi dasar, kurikulum, serta pengembangan model pembelajaran yang lebih relevan bagi siswa dan guru.
Peran Keluarga
Di balik pencapaian akademiknya, Prof. Kastam Syamsi tetap menempatkan keluarga sebagai fondasi utama kehidupannya. Dalam pidato pengukuhannya, ia berkali-kali menyampaikan penghormatan kepada orang tua, keluarga, guru, dan sahabat yang telah membentuk perjalanan hidupnya.
Ia mengenang kedua orang tuanya, Madsamsi dan Narsiwen, sebagai sumber doa dan kekuatan moral. Baginya, keberhasilan akademik bukan semata hasil kerja individual, melainkan buah dari dukungan keluarga dan lingkungan yang terus menguatkan langkahnya.
Penghargaan yang sama juga ia sampaikan kepada istrinya, Luluk Sri Wahyuti, yang disebutnya sebagai: “Sandaran terkuat dalam setiap langkah.”
Perjalanan hidup Prof. Kastam Syamsi memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak memutus hubungan seseorang dengan akar sosialnya. Sebaliknya, pengalaman hidup di desa dan sekolah keguruan justru menjadi modal penting dalam memahami realitas pendidikan Indonesia secara lebih dekat.
Jalan panjang kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi tidak selalu lahir dari privilese. Kadang ia tumbuh dari ruang kelas sederhana di desa, dari sekolah keguruan yang nyaris terlupakan, lalu perlahan melintasi batas negara hingga mencapai mimbar akademik tertinggi. (*)
Penulis : Mawai









