Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Saya sebenarnya tidak sengaja memunculkan tema ini. Realitas ini berawal dari kebiasaan saya untuk mengikuti webinar ASN yang setiap hari Kamis diadakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur. Setelah saya masuk ke link pendaftaran, ternyata temanya adalah “Kartini Spirit In Action: Perempuan Berdaya, Berkarya Dan Berdampak Nyata.” Saya baru sadar bahwa bulan April ada peringatan Hari Kartini.
Ditambah lagi, kemarin sore, ketika saya baru pulang dari kantor, tetangga saya yang istri ASN datang ke rumah tanya-tanya tentang tempat yang menyewakan pakaian kebaya ala Kartini. Katanya, tanggal 21 April dia diwajibkan untuk memakai baju kebaya ala Kartini dalam pertemuan bulanan Dharmawanita di kantornya. Dari sini, kemudian terlintas dalam benak untuk melakukan refleksi tentang spirit dan semangat yang telah dihadirkan seorang Kartini dalam kehidupan generasi bangsa hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Diakui bahwa lebih dari satu abad telah berlalu, sejak surat-surat Raden Adjeng Kartini pertama kali dibukukan dengan tajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Surat-suratnya bukan sekadar keluh kesah, melainkan sebuah manifesto tentang kebebasan berpikir dan hak atas pendidikan.
Hanya saja, di era digital abad ke-21 ini, Spirit Kartini telah mengalami evolusi. Ia tidak lagi hanya berhenti pada wacana emansipasi, melainkan telah menjelma menjadi Kartini spirit in action—sebuah gerakan kolektif perempuan yang berdaya, berkarya, dan memberikan dampak nyata bagi semesta.
Artinya, gema pemikiran Kartini ini tidak pernah benar-benar sunyi. Ia melintasi zaman, menembus sekat-sekat sosiopolitik, dan tetap mendarat dengan relevan di pangkuan generasi hari ini. Maka, merefleksikan spirit Kartini bukan sekadar ritual tahunan berbaju kebaya, melainkan upaya mendalam untuk memahami esensi dari sebuah keberanian: keberanian untuk berpikir bebas di tengah keterbatasan.
Refleksi pertama yang muncul dari semangat Kartini adalah tentang kekuatan literasi. Bagi Kartini, pena adalah senjata dan buku adalah jendela dunia yang menyelamatkannya dari “gelapnya pingitan”. Di era sekarang, “pingitan” mungkin tidak lagi berbentuk tembok fisik rumah feodal, melainkan berupa algoritma media sosial, hoaks, dan dangkalnya arus informasi. Spirit Kartini hari ini menantang kita untuk tetap memiliki kedalaman berpikir. Apakah kita menggunakan akses informasi yang luas ini untuk memperkaya jiwa, atau justru terjebak dalam keriuhan yang tidak substansial? Menjadi “Kartini masa kini” berarti menjadi pribadi yang kritis, objektif, dan tidak berhenti belajar.
Kedua, semangat Kartini adalah tentang emansipasi yang proporsional. Banyak yang salah kaprah mengartikan emansipasi sebagai upaya untuk menyaingi laki-laki dalam segala hal. Jika kita membaca surat-suratnya dengan teliti, Kartini sejatinya mendambakan kesetaraan agar perempuan dapat menjalankan perannya dengan lebih baik—baik sebagai individu, istri, maupun ibu (pendidik pertama bagi manusia). Spirit ini merefleksikan bahwa kemajuan perempuan bukan untuk meninggalkan kodrat, melainkan untuk memperkuat fondasi peradaban. Perempuan yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas akan melahirkan generasi yang jauh lebih berkualitas. Kesetaraan bagi Kartini adalah tentang kemitraan, bukan dominasi.
Ketiga, kita perlu merefleksikan semangat pengabdian. Kartini tidak egois. Meski ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi ke Belanda, ia memilih untuk tetap tinggal dan mendirikan sekolah bagi gadis-gadis di tanah airnya. Ia memahami bahwa kemajuan individu tidak akan berarti banyak tanpa kemajuan kolektif. Dalam konteks modern, hal ini menjadi teguran bagi kita semua. Sering kali, pendidikan dan kesuksesan yang kita raih hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dan status sosial. Spirit Kartini memanggil kita untuk kembali melihat ke sekeliling: apa dampak nyata yang telah kita berikan untuk lingkungan sekitar? Sukses sejati adalah ketika keberadaan kita menjadi solusi bagi gelapnya persoalan orang lain.
Namun, refleksi ini juga menyisakan ruang untuk kritik terhadap realitas saat ini. Kita harus jujur bertanya, sejauh mana perempuan Indonesia benar-benar bebas dari diskriminasi? Masih banyak “Kartini-Kartini kecil” di pelosok negeri yang harus putus sekolah karena keterbatasan ekonomi atau paksaan tradisi. Masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan namun tak memiliki suara untuk melapor. Inilah pekerjaan rumah yang tersisa. Spirit Kartini bukan untuk dikagumi dalam diam, melainkan untuk dijadikan api yang membakar semangat kita untuk terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan yang setara.
Dalam kerangka ini, merefleksikan semangat Kartini adalah merayakan harapan. Ia mengajarkan bahwa impian yang dituliskan dengan ketulusan hati tidak akan pernah mati, bahkan meski sang penulis pun telah tiada. Kartini adalah bukti bahwa pemikiran yang melampaui zaman akan selalu menemukan jalannya untuk mekar. Bagi kita, perempuan maupun laki-laki, mewarisi semangat Kartini berarti berani bermimpi besar, berani mendobrak ketidakadilan, dan konsisten dalam berkarya. Mari kita jadikan refleksi ini sebagai momentum untuk berhenti menjadi penonton sejarah dan mulai menjadi penggerak perubahan, demi terbitnya terang yang lebih benderang bagi masa depan bangsa Indonesia. Artinya, berangkat dari refleksi ini, terbuka ruang untuk menghidupkan spirit yang dihadirkan oleh Kartini.
Maka, menghidupkan spirit Kartini ini, berarti menyadari bahwa perjuangan belum usai. Tantangan memang berganti bentuk—dari pingitan fisik menjadi tembok diskriminasi digital atau beban ganda rumah tangga—namun esensinya tetap sama.
Perempuan Indonesia hari ini adalah perwujudan dari doa-doa Kartini di masa lalu. Dengan menjadi pribadi yang berdaya secara internal, berkarya secara eksternal, dan berdampak secara sosial, perempuan bukan hanya sedang memperingati hari lahir seorang pahlawan, melainkan sedang melanjutkan estafet peradaban. Mari terus bergerak, karena ketika perempuan maju, sebuah bangsa akan terbang tinggi menuju kemuliaannya. Wallahu a’lam.
*) Pembina Komunitas Kata Bintang










