Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Redaksi Nolesa

Jumat, 29 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Nailla Marsela Salsabela Vebriyanti

OPINI, NOLESA.COM – Kita sedang hidup di masa ketika kecerdasan buatan tidak lagi menjadi wacana masa depan melainkan realitas sehari-hari. Kehadirannya menjanjikan kemudahan, efisiensi, dan percepatan di berbagai bidang.

Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang perlahan tumbuh terutama di kalangan generasi muda. Mereka menyaksikan perubahan yang begitu cepat sementara kepastian tentang masa depan terasa semakin kabur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sulit dimungkiri bahwa AI telah mengubah cara kita belajar, bekerja, dan berinteraksi. Tugas yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Di satu sisi ini adalah kemajuan.

Baca Juga :  Dikuasai AI: Krisis Kritis Mahasiswa

Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar jika mesin dapat melakukan hampir segalanya, di mana posisi manusia? Pertanyaan inilah yang menjadi sumber kecemasan generasi hari ini.

Kecemasan generasi muda terhadap AI bukan sekadar ketakutan berlebihan melainkan respons terhadap perubahan yang terasa tak terkendali. Dunia kerja berubah sebelum sistem pendidikan sempat menyesuaikan diri.

Standar keterampilan terus bergeser sementara tuntutan untuk selalu relevan semakin tinggi. Dalam situasi seperti ini, wajar jika banyak anak muda merasa sedang berdiri di bawah bayang-bayang teknologi yang terus membesar.

Baca Juga :  Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam: Sebuah Kolaborasi Komplomentatif

Penggunaan AI ternyata belum dibarengi dengan literasi AI. APJII dalam surveinya mengungkap bahwa skor literasi AI masih 49,96. Skor ini menunjukkan bahwa masyarakat masih berada pada kategori kurang baik dan belum cukup siap untuk menghadapi perkembangan teknologi secara optimal.

Survei Sharing Vision pada pertengahan 2025 juga mendapati hal serupa. Meski 99,8 persen pengguna internet Indonesia sudah tahu tentang AI hanya 50 persen dari mereka yang benar-benar mengintegrasikannya dalam aktivitas sehari-hari.

Generasi sekarang tumbuh dalam era di mana kecerdasan buatan AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mulai dari aplikasi belajar, rekomendasi konten, hingga alat kerja otomatis. Meski banyak yang terbantu, data survei menunjukkan bahwa kecemasan terhadap masa depan pekerjaan dan peran manusia tidak bisa diabaikan.

Baca Juga :  Reforma Agraria dan Pembentukan Pasar Tanah di Indonesia

Misalnya, lebih dari setengah generasi muda percaya AI akan mengancam prospek kerja mereka, dan banyak yang merasa ketidakpastian ini lebih menakutkan daripada menarik. Ketergantungan pada teknologi yang terus berkembang tanpa kepastian akan dampaknya membuat banyak remaja dan dewasa muda merasa terombang-ambing antara peluang dan kekhawatiran. (*)

*) Mahasiswi semester 6 S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa,Seni,dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

Berita Terkait

Hari Santri, Menanamkan Akhlak, Menumbuhkan Kreativitas Sejak Usia Dini
Lokakarya Mini: Membangun Sinergi dan Kolaborasi Tanpa Henti
Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam
Bedah Buku “Tanah Kerontang dI Madura”
Psychological Safety
Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:30 WIB

Hari Santri, Menanamkan Akhlak, Menumbuhkan Kreativitas Sejak Usia Dini

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Lokakarya Mini: Membangun Sinergi dan Kolaborasi Tanpa Henti

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:31 WIB

Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Bedah Buku “Tanah Kerontang dI Madura”

Rabu, 16 September 2026 - 15:52 WIB

Psychological Safety

Berita Terbaru

Bupati Fauzi mengenakan baju adat keraton dalam sebuah acara (Foto: Istimewa)

Daerah

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Kamis, 29 Okt 2026 - 07:07 WIB