Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Redaksi Nolesa

Jumat, 5 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Ninda Ayu Triya Preswari

OPINI, NOLESA.COM – Berangkat dari bacaan keluh kesah rekan kuliah yang memuat narasi tentang seorang yang tengah menapaki umur 21 tahun, dalam bacaan itu ia hidup dalam tekanan keluarga yang belum secara penuh dapat menjalankan fungsi dan perannya secara tepat dan benar.

Berbicara tentang Cemara, Siapa yang tidak ingin memiliki keluarga yang cemara? Tentunya hampir semua orang memiliki impian memiliki keluarga seperti itu. Cemara yang dimaksud di sini bukan sekadar gambaran keluarga yang terlihat harmonis di hadapan publik, melainkan keluarga yang benar-benar memiliki integritas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang diperlihatkan kepada khalayak merupakan cerminan dari kondisi yang sebenarnya, bukan hanya pencitraan demi memperoleh pengakuan sosial.

Keluarga dalam kehidupan manusia memiliki peran yang sangat penting. Keluarga sering dianggap sebagai tempat pertama seseorang belajar tentang kehidupan. Di dalam keluargalah seseorang mulai mengenal nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, serta rasa saling menghargai dan semacamnya.

Lingkungan keluarga yang baik dapat membantu seseorang tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri. Namun dalam kenyataannya, tidak semua keluarga dapat menjalankan fungsi tersebut dengan sempurna. Setiap keluarga tentu memiliki tantangan yang berbeda-beda.

Ada keluarga yang menghadapi persoalan ekonomi, ada pula yang mengalami kesulitan dalam membangun komunikasi yang baik antaranggota keluarga. Dalam situasi tertentu, kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan anak dan remaja yang tumbuh di dalam keluarga tersebut.

Remaja pada dasarnya sedang berada dalam masa pencarian jati diri. Pada masa ini seseorang mulai belajar memahami dirinya sendiri, mengenali potensi yang dimiliki, serta mulai memikirkan masa depan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, lingkungan keluarga yang mendukung sangat dibutuhkan agar remaja dapat berkembang secara optimal. Ketika berbicara mengenai kehidupan keluarga, salah satu fenomena sosial yang masih cukup sering ditemukan di masyarakat adalah pernikahan pada usia muda atau yang sering disebut sebagai pernikahan dini.

Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam. Dalam beberapa lingkungan masyarakat, pernikahan pada usia muda bahkan masih dianggap sebagai hal yang biasa terjadi. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak penulis. Mengapa seseorang memutuskan untuk menikah pada usia yang relatif muda? Apakah keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan yang matang, ataukah hanya didasarkan pada dorongan emosional sesaat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi menarik untuk dibahas karena pernikahan bukanlah keputusan kecil dalam kehidupan seseorang.

Baca Juga :  “Dialog Kentongan”: Fenomena Bencana dan Kausalitas Perusakan Alam oleh Manusia

Menurut pengamatan penulis di lingkungan sekitarnya, masih terdapat remaja yang memutuskan untuk menikah pada usia yang relatif muda. Keputusan tersebut tentu memiliki alasan yang berbeda-beda. Sebagian merasa telah menemukan pasangan yang tepat, sementara yang lain bisa jadi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau budaya yang berkembang di masyarakat. Di beberapa daerah, menikah pada usia muda terkadang dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan ada pandangan yang menganggap bahwa menikah lebih awal dapat membantu seseorang memulai kehidupan keluarga lebih cepat.

Namun demikian, pandangan tersebut tentu perlu dipertimbangkan kembali dengan melihat berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Pernikahan pada dasarnya merupakan sebuah komitmen jangka panjang yang membutuhkan kesiapan dari kedua belah pihak. Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan suami dan istri tidak hanya berbagi kebahagiaan, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan kehidupan bersama. Oleh karena itu, kesiapan menjadi salah satu hal yang sangat penting sebelum seseorang memutuskan untuk menikah.

Salah satu aspek yang sering menjadi perhatian dalam pernikahan pada usia muda adalah kesiapan ekonomi. Kehidupan rumah tangga membutuhkan kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, serta kebutuhan lain yang mendukung kehidupan keluarga. Jika pasangan yang menikah belum memiliki kesiapan ekonomi yang cukup, maka kehidupan rumah tangga dapat menghadapi berbagai tantangan. Situasi ini tidak selalu berarti bahwa pernikahan tersebut tidak dapat berjalan dengan baik, tetapi tentu membutuhkan usaha yang lebih besar dari pasangan yang menjalaninya.

Baca Juga :  Memupuk Semangat Gotong Royong

Selain kesiapan ekonomi, kesiapan mental dan emosional juga menjadi faktor yang sangat penting. Pada masa remaja hingga awal dewasa, seseorang biasanya masih berada dalam tahap belajar memahami kehidupan. Masa ini sering digunakan untuk mengembangkan kemampuan diri, memperluas pengalaman, serta mempersiapkan masa depan. Ketika seseorang memasuki kehidupan pernikahan pada usia yang masih sangat muda, maka tanggung jawab yang harus dihadapi menjadi semakin besar. Seseorang tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap pasangan dan kehidupan keluarga yang sedang dibangun.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan di Indonesia mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 tercatat sekitar 2.110.770 pernikahan, kemudian jumlah tersebut secara bertahap mengalami penurunan dalam beberapa tahun berikutnya. Pada tahun 2024 jumlah pernikahan tercatat sekitar 1.478.302 pasangan, dan pada tahun 2025 mengalami sedikit peningkatan menjadi sekitar 1.479.533 pasangan. Meskipun terjadi kenaikan pada tahun 2025, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan jumlah pernikahan yang tercatat satu dekade sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa fenomena pernikahan di Indonesia mengalami dinamika dari waktu ke waktu dan masih menjadi salah satu isu sosial yang menarik untuk diperhatikan dalam kehidupan masyarakat

Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui program Pendewasaan Usia Perkawinan mendorong masyarakat agar mempertimbangkan usia yang lebih matang sebelum menikah. Program ini bertujuan agar pasangan yang menikah memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Menurut BKKBN, kesiapan dalam pernikahan tidak hanya berkaitan dengan usia, tetapi juga mencakup kesiapan fisik, mental, sosial, serta ekonomi. Dengan adanya kesiapan tersebut, pasangan yang menikah diharapkan mampu menjalankan perannya dalam keluarga dengan lebih baik.

Selain itu, berdasarkan pengamatan penulis terhadap salah satu konten username sukabumiupdateofficial di media sosial TikTok, terlihat bahwa perilaku salah satu pasangan yang menikah di usia muda masih menunjukkan sikap yang cenderung kekanak-kanakan, seperti mudah marah dan menunjukkan sikap tantrum. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan mereka dalam menjalani kehidupan rumah tangga dalam jangka panjang. Kehidupan pernikahan tentu tidak hanya berkaitan dengan perasaan suka semata, tetapi juga membutuhkan kedewasaan dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan seindah gambaran yang sering ditampilkan di media sosial.

Baca Juga :  Manuver Taktis Surya Paloh, Prabowo & Jokowi Saling Intip…"

Di era perkembangan teknologi saat ini, pandangan remaja terhadap kehidupan pernikahan juga sering dipengaruhi oleh berbagai informasi yang mereka lihat di media sosial. Tidak jarang seseorang melihat gambaran kehidupan pasangan muda yang terlihat bahagia dan harmonis melalui berbagai unggahan di internet. Gambaran tersebut terkadang membuat sebagian remaja memiliki pandangan bahwa kehidupan pernikahan selalu terlihat menyenangkan. Padahal pada kenyataannya, kehidupan rumah tangga memiliki berbagai dinamika yang perlu dihadapi bersama oleh pasangan suami dan istri.

Dalam kehidupan rumah tangga, kemampuan berkomunikasi dengan baik sangat penting. Pasangan perlu saling memahami, menghargai, dan bekerja sama dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Pada dasarnya, keduanya harus berada dalam posisi yang setara. Selain itu, kehidupan keluarga juga menuntut tanggung jawab dari setiap anggotanya, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis.

Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai makna pernikahan, generasi muda diharapkan dapat mempersiapkan diri secara matang sebelum memutuskan untuk menikah. Pendidikan, pengalaman hidup, dan kesiapan mental menjadi bekal penting dalam menghadapi kehidupan di masa depan. Pembahasan mengenai pernikahan dini bukan untuk menyalahkan pihak mana pun, melainkan sebagai bahan refleksi mengenai pentingnya kesiapan dalam membangun keluarga. Dengan persiapan yang matang, peluang untuk membangun keluarga yang harmonis dan bertanggung jawab akan semakin besar. Keluarga yang cemara tidak hanya terlihat harmonis di hadapan masyarakat, tetapi juga mampu menjalankan peran dan fungsi setiap anggotanya dengan penuh tanggung jawab serta saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (*)

*) Mahasiswi Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta

Berita Terkait

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial
Gerak Batin Ekoteologi
Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam: Sebuah Kolaborasi Komplomentatif
Pelantikan PCNU Sumenep 2026: Sebuah Catatan Sederhana

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:44 WIB

Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:59 WIB

Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:26 WIB

Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Jumat, 5 Jun 2026 - 13:29 WIB

Sekdaprov Riau Syahrial Abdi (Foto: Istimewa)

Pendidikan

SPMB Tahun ini, Sekdaprov Riau Tegaskan Tak Ada Intervensi

Jumat, 5 Jun 2026 - 13:16 WIB