Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Menarik, apa yang diposting teman saya dalam grup WA LPBI NU Sumenep. Dia menyajikan sebuah foto yang dilatari banner bertuliskan Gerak Batin Ekoteologi. Gerakan ini diprakarsai Ikata Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sumenep. Sebagaimana banner yang dibentangkan, kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka Harlah ke-3 IPARI Kabupaten Sumenep. Acaranya juga mengajak LPBI NU Sumenep untuk bersinergi melakukan kolaborasi pelestarian lingkungan yang dilaksanakan di Asta Syekh Arief Ahmad (Bujuk Pongkeng), Pakandangan Sangra, Bluto (22 Mei 2026).
Mengapa saya katakan menarik? Karena, di sini ada upaya untuk membangun sebuah kesadaran kolektif atas pelestarian lingkungan yang diterjemahkan dalam sebuah aksi nyata seperti istigasah ekoteologi, tausiah ekoteologi, yang dilanjutkan aksi penyuluh pungut sampah plastik, dan gerakan menanam pohon 1.000 pohon (yang dinamai “penanaman pohon cinta”).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Memahami fenomena ini, gerak batin ekoteologi bukanlah sekadar jargon. Bukan pula sekadar tajuk dari sebuah agenda yang diusung IPARI. Lebih dari itu, di sini, tersaji sebuah panggilan keimanan dan kesadaran spiritual yang memandang pelestarian alam sebagai ibadah. Artinya, hal ini menyatukan kearifan spiritual dengan tanggung jawab menjaga lingkungan, mendorong tindakan nyata seperti seperti agenda di atas. Ya, di sini terlihat dengan jelas bahwa ada upaya untuk menyembuhkan jiwa dan memulihkan bumi.
Diakui, bahwa selama berabad-abad, ego manusia sering kali menjebak kita dalam cara pandang yang antroposentris. Kita memandang alam sekadar sebagai komoditas yang siap dikuras, latar belakang pasif bagi panggung sejarah manusia, atau objek pemuas keserakahan yang tanpa batas. Akibatnya, bumi menjerit. Hutan-hutan yang gundul, sungai yang tersedak plastik, dan suhu global yang kian memanas adalah cerminan dari krisis batin manusia. Kerusakan lingkungan hidup sesungguhnya adalah manifestasi lahiriah dari krisis spiritual yang terjadi di dalam lubuk hati kita. Ketika hubungan manusia dengan Sang Pencipta merenggang, hubungan kita dengan ciptaan-Nya pun ikut retak.
Maka, dalam perspektif ini, gerak batin ekoteologi selalu dimulai dari sebuah titik balik yang disebut pertobatan ekologis. Ini bukanlah sekadar perubahan kebijakan politik atau gerakan mendaur ulang sampah, melainkan sebuah transformasi radikal di dalam hati. Pertobatan ini lahir ketika kita berani melihat kerusakan bumi dengan rasa belas kasih yang mendalam, bukan lagi dengan ketidakpedulian.
Saat kita melihat sebatang pohon ditebang secara liar, gerak batin ekoteologi membuat kita merasakan kepedihan yang sama, karena pohon itu adalah sesama makhluk ciptaan yang memuji Tuhan dengan caranya sendiri. Mengakui bahwa merusak alam adalah sebuah bentuk dosa terhadap Sang Pencipta adalah fondasi dari gerakan batin ini. Dari rasa bersalah yang suci ini, lahirlah kerendahan hati untuk berhenti mengeksploitasi dan mulai merawat.
Harus disadari bahwa bumi bukan warisan dari nenek moyang kita, melainkan titipan yang kita pinjam dari anak cucu kita. Maka, ketika batin mulai bergerak ke arah ekoteologi, cara kita memandang alam semesta berubah secara drastis. Alam tidak lagi dipandang sebagai tumpukan materi mati, melainkan sebagai “kitab suci yang kedua”. Jika kitab suci tertulis lewat kata-kata, maka alam semesta tertulis lewat mahakarya ciptaan. Setiap helai daun, setiap kepakan sayap burung, dan setiap tetes embun adalah ayat-ayat semesta yang memancarkan keagungan, keindahan, dan kasih spiritual Sang Khalik.
Dalam kesadaran ekoteologis inilah, menjaga kebersihan sungai sama “sucinya” dengan menjaga kebersihan tempat ibadah. Menanam pohon adalah sebuah bentuk doa yang nyata, sebuah tindakan iman yang menanam harapan untuk masa depan. Ketika kita merawat bumi, kita sedang berpartisipasi dalam karya pemeliharaan Allah sendiri. Aktivisme lingkungan tidak lagi melelahkan karena ia tidak lagi digerakkan oleh kemarahan terhadap para perusak alam, melainkan digerakkan oleh rasa cinta yang meluap kepada Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.
Gerak batin ini pada akhirnya menuntun manusia pada spiritualitas kosmis yang utuh—sebuah kesadaran akan interkonektivitas. Kita tidak hidup sendirian. Napas yang kita hirup adalah oksigen yang dilepaskan oleh pepohonan; air yang mengalir di dalam darah kita adalah air yang pernah menguap ke langit dan turun sebagai hujan. Kita terikat dalam jaring-jaring kehidupan yang sakral.
Ketika malam turun dan bintang-bintang mulai menghias langit, gerak batin ekoteologi membawa manusia pada rasa syukur yang membuncah. Kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan alam semesta, dan betapa besarnya tanggung jawab yang diletakkan di pundak kita sebagai khalifah di bumi.
Gerak batin ekoteologi adalah perjalanan pulang. Pulang kepada esensi kemanusiaan kita yang bersahaja, pulang kepada pelukan bumi yang ramah, dan pulang kepada kehendak Pencipta yang menginginkan kedamaian, keharmonisan, dan keutuhan bagi seluruh ciptaan. Di setiap langkah kaki kita di atas tanah, di setiap keputusan kita untuk hidup selaras dengan alam, di sanalah pertobatan ekoteologi kehidupan terus digaungkan: membawa kesembuhan bagi jiwa manusia dan pemulihan bagi bumi yang kita pijak. Semoga! (*)
*) Pengurus LPBI NU Kabupaten Sumenep









