Oleh | Zhalfaur Rihadah
OPINI, NOLESA.COM – Tulisan ini, sebenarnya adalah tugas mata kuliah Pengembangan Kebijakan Pendidikan. Hanya saja, saya merasa perlu untuk mempublikasikannya ketika mencermati ada fenomena baru yang dimunculkan Kementerian Agama tentang Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sejak tahun 2025 kemarin.
Artinya, ada fenomena berbeda dengan realitas sebelumnya bahwa di tahun 2025 kemarin, ketika kurikulum nasional diberlakukan dan dilakukan transformasi dengan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) dalam kurikulum nasional, ada gebrakan baru yang dimunculkan Kementerian Agama. Ini sebuah fenomena baru. Makanya, saya mencoba untuk memberikan perspektif kolaborasi yang komplementatif di antara keduanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam banyak diskusi, mungkin hal ini sudah sering diperbincangkan. Bahkan mungkin pula dikaji dalam berbagai perspektif yang berbeda. Namun, di sini, sekali lagi, saya hanya memotret dalam sebuah perspektif dua entitas yang sifatnya kolaboratif dan saling melengkapi.
Sudah menjadi mafhum, bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi dan tuntutan global yang menuntut serba cepat, dunia pendidikan sering kali terjebak dalam perlombaan angka. Ruang kelas menjelma menjadi pabrik nilai, di mana siswa dikejar tenggat waktu dan guru disibukkan oleh tumpukan administrasi. Di titik inilah, kita perlu berhenti sejenak dan menengok kembali esensi terdalam dari pendidikan. Kita membutuhkan sebuah kompas baru: kurikulum berbasis cinta yang diwujudkan melalui implementasi pembelajaran mendalam.
Pendidikan sejati tidak pernah dimulai dari kepala, melainkan dari hati. Kurikulum berbasis cinta bukanlah sebuah dokumen legalistik yang kaku dengan deretan kompetensi dasar yang dingin. Ia adalah sebuah filosofi hidup di mana cinta kasih menjadi fondasi utamanya—cinta guru kepada muridnya sebagai manusia seutuhnya, cinta murid terhadap ilmu pengetahuan, dan cinta bersama terhadap proses bertumbuh. Dalam kurikulum ini, rasa aman secara psikologis adalah hak istimewa yang dijamin. Murid tidak takut salah, karena mereka tahu kesalahan adalah bagian alami dari belajar, bukan dosa akademis yang berujung penghakiman.
Dalam perspektif ini, cinta di dalam kelas adalah “bahan bakar” mutlak bagi terciptanya pembelajaran mendalam. Ketika seorang anak merasa dicintai, dihargai, dan didengar, sirkuit stres di otaknya mereda, membuka ruang bagi curiosity (rasa ingin tahu) untuk berkembang. Di sinilah pembelajaran mendalam mengambil peran.
Pembelajaran mendalam adalah lawan dari hafalan dangkal yang menguap begitu ujian selesai. Ia adalah proses di mana siswa tidak sekadar mengingat fakta, tetapi mengupas makna, menemukan pola, menghubungkan konsep lintas disiplin ilmu, dan mengaplikasikannya untuk menyelesaikan masalah nyata di kehidupan sehari-hari.
Jika kurikulum konvensional bertanya, “apa rumus luas lingkaran?”, maka kurikulum berbasis cinta yang menerapkan pembelajaran mendalam akan mengajak siswa bereksplorasi, “bagaimana struktur lingkaran membantu arsitek membangun kubah masjid yang megah, dan bagaimana kita bisa memanfaatkannya untuk mendesain ruang publik yang inklusif?”
Pada ranah ini, mengimplementasikan pembelajaran mendalam dalam bingkai kurikulum berbasis cinta membutuhkan transformasi nyata dalam praktik pembelajaran sehari-hari, yang bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, pendidikan yang memanusiakan. Guru yang bergerak dengan cinta memahami bahwa setiap anak membawa ritme, minat, dan latar belakang yang berbeda. Harus dipahami bahwa pembelajaran tidak lagi seragam. Guru berperan sebagai mentor yang mendengarkan suara dan pilihan siswa, menyusun tantangan yang sesuai dengan zona perkembangan mereka, serta membiarkan mereka mengeksplorasi materi lewat proyek yang relevan dengan kehidupan mereka.
Kedua, dialog sokratis dan berpikir kritis. Ruang kelas diubah dari panggung monolog guru menjadi forum dialog yang hidup. Pembelajaran mendalam memicu siswa untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana.” Melalui pertanyaan pemantik yang mendalam, siswa diajak berdiskusi, berdebat secara sehat, dan melihat sebuah isu dari berbagai perspektif. Proses ini melatih empati—sebuah manifestasi cinta dalam bentuk intelektual.
Ketiga, asesmen yang merayakan proses. Dalam kurikulum ini, ujian pilihan ganda yang kaku mulai ditinggalkan. Penilaian dialihkan pada asesmen autentik seperti portofolio, pameran karya, atau proyek sosial. Fokus penilaian bukan lagi sekadar hasil akhir, melainkan refleksi diri: “apa yang telah aku pelajari tentang diriku sendiri melalui proyek ini?” Di sini, nilai tertinggi diberikan pada kegigihan dan pertumbuhan karakter.
Ketika cinta dan pembelajaran mendalam berpadu, ruang kelas berubah menjadi ekosistem yang sakral. Sekolah bukan lagi tempat yang menjemukan, melainkan laboratorium kehidupan yang dirindukan. Siswa tidak lagi belajar karena terpaksa oleh ancaman nilai buruk atau tuntutan orang tua, melainkan karena mereka telah jatuh cinta pada proses menemukan pengetahuan baru.
Dampak jangka panjang dari kurikulum ini melampaui dinding-dinding sekolah. Kita tidak sedang sekadar mencetak robot-robot pekerja yang mahir secara teknis namun mati rasa secara sosial. Kita sedang membentuk generasi pemikir yang humanis, individu-individu kreatif yang memiliki ketajaman berpikir sekaligus kelembutan hati. Mereka adalah orang-orang yang kelak, ketika menjadi pemimpin, ilmuwan, atau pengusaha, akan menggunakan ilmu mendalam mereka untuk menyembuhkan luka dunia, didorong oleh rasa cinta yang mendalam terhadap kemanusiaan, karena pada akhirnya, puncak tertinggi dari seluruh proses pendidikan adalah kemampuan untuk berpikir mendalam dan mencintai sesama dengan tulus. Ya, begitulah kira-kira!
*) Mahasiswa Program Pascasarjana Inkadha Sumenep









