Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Menarik ketika mencermati pernyataan Dr. KH. Abuya Busyro Karim yang mengawali sambutan sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan Pelantikan PCNU Sumenep Masa Khidmat 2026-2031, 16 Mei kemarin. Sebuah fenomena yang menjadi trending topik di media sosial lokal. Sambutan beliau hanya 10 menit: ringkas dan padat, hingga pada akhirnya tangis pun pecah. Di situlah kemudian muncul banyak tafsir.
Sahabat Hambali menyebut: “Tangis beliau bukan sekadar tangisan atas relitas keadaan hari ini: tetapi kerinduan. Kerinduan pada pesantren yang dipimpin para sesepuh dengan hati lapang. Yang berbeda tetapi tidak saling menjauh. Yang kuat dalam dzikir.” Atau seperti statemen sahabat Fawaid: “Tangis itu pecah atas keprihatinan para kiai dan ulama akan posisi pesantren yang sedikit demi sedikit digeser dari historis rahim NU, yang melahirkan dan membesarkannya oleh sebagian oknum yang mengaku ikut terlibat dalam membesarkan nama NU di kancah dunia internasional.” Atau, tangis yang pecah karena rindu: rindu pesantren seperti dulu, dipimpin para sesepuh yang jiwanya besar, yang mampu bersatu dalam keberagaman (NU Online Sumenep).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlepas dari berbagai tafsir yang ada, di sini, saya hanya akan memberikan catatan sederhana atas paparan beliau tentang pilihan pesantren sebagai tempat diselenggarakannya Pelantikan PCNU Sumenep ini. Kata kuncinya, ada aroma berbeda yang dihadirkan pesantren ketika dijadikan tempat kegiatan strategis NU, dibandingkan dengan tempat lain seperti hotel atau gedung lainnya. Atmosfer yang dihadirkan oleh pondok pesantren sangat jauh berbeda dengan hotel.
Pilihan pesantren ini bukanlah sebuah kebetulan atau sekadar upaya menghemat anggaran, melainkan sebuah keputusan ideologis, teologis, dan sosiologis yang mendalam. Menurut beliau, pesantren adalah pusat kekuatan doa dan ilmu. Zikir dan doa para santri akan senantiasa mengalirkan barokah di dalamnya.
Jadi, ada marwah spiritual dan aliran barokah. Di pesantren, setiap sudut ruangan mengalirkan energi spiritual. Lantunan wirid, hafalan Al-Qur’an, dan thalabul ilmi yang berlangsung setiap hari menciptakan ruang yang sarat akan ketenangan batin.
Ketika para pengurus NU berkumpul dan dilantik di tengah atmosfer ini, prosesi tersebut tidak sekadar menjadi acara seremonial atau transaksional organisasi. Ada rasa takzim kepada para masyayikh, ada prosesi tabarrukan (mencari berkah) dari tanah pesantren, dan ada pengingat bahwa jabatan di NU adalah jalur khidmat kepasrahan, bukan ajang mencari panggung kekuasaan atau status sosial.
Lebih jauh fenomena mendasar yang beberapa alasan mengapa kegiatan strategis NU sudah seharusnya ditempatkan di pondok pesantren, bukan di gedung mewah atau hotel adalah bahwa pesantren adalah “ibu kandung” NU. Secara historis, Nahdlatul Ulama lahir dari rahim pondok pesantren. Relasi antara NU dan pesantren ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sebelum organisasi ini resmi berdiri pada tahun 1926, jaringan ulama pesantren telah lama terbentuk dan bergerak bersama. Menyelenggarakan pelantikan pengurus atau muktamar di pesantren adalah bentuk komitmen untuk “pulang” ke rumah. Langkah ini menjadi refleksi agar para pengurus yang baru dilantik tidak melupakan asal-usul, akar rumput, dan khittah perjuangan para muassis (pendiri) NU yang seluruhnya bertumpu pada dunia pesantren.
Selain itu, pilihan terhadap pesantren sebenarnya adalah simbol perlawanan terhadap gaya hidup elitis, di samping menghidupkan ekonomi kerakyatan. Hotel sering kali diidentikkan dengan eksklusivitas, kemewahan, dan sekat-sekat kelas sosial. Jika kegiatan NU dipindahkan ke hotel-hotel berbintang, dikhawatirkan akan tercipta jarak psikologis antara pengurus organisasi dengan warga nahdliyin di akar rumput.
Sebaliknya, pesantren adalah simbol kesahajaan dan inklusivitas. Menempatkan acara di pesantren melatih para elite NU untuk tetap membumi. Mereka duduk sama rendah di atas tikar, mengonsumsi hidangan khas santri, dan merasakan langsung denyut nadi kehidupan masyarakat bawah. Ini adalah pesan kuat bahwa NU adalah organisasi milik umat, bukan milik segelintir elite yang gemar bersolek di tempat mewah.
Di sini, juga tersaji sisi sosiologis-ekonomis dari penempatan acara di pesantren yang sangat nyata. Setiap kali ada acara pelantikan atau muktamar di pesantren, ekonomi di sekitar wilayah tersebut langsung menggeliat. Mulai dari pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penyedia jasa transportasi lokal, hingga warung-warung kelontong milik warga sekitar ikut kecipratan berkah rezeki. Uang yang berputar dalam acara tersebut kembali ke kantong rakyat kecil, bukan masuk ke korporasi besar pemilik jaringan hotel.
Memilih pesantren sebagai pusat kegiatan NU adalah cara organisasi ini merawat orisinalitasnya. Melalui pesantren, NU menegaskan bahwa modernisasi manajemen organisasi tidak harus dibayar mahal dengan mencabut akar tradisi dan nilai spiritualitasnya. Pelantikan di pesantren memastikan bahwa sumpah janji pengurus disaksikan langsung oleh para santri, direstui oleh para kiai sepuh, dan senantiasa berpijak pada bumi perjuangan yang sesungguhnya. Semoga!
*) A’wan Syuriah MWCNU Gapura, Sumenep









