Bohong Akut

Redaksi Nolesa

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Saya menulis ini sebenarnya berangkat dari fenomena teman yang ketika bertemu dengan saya, bahkan dengan teman-teman yang lain selalu berada pada posisi yang memungkinkan untuk menarasikan kisah yang kebenarannya bisa dimentahkan saat itu juga. Kadang ia merasa bahwa ceritanya menarik meskipun aroma kebohongannya sangat terasa dan itu bisa dicium banyak orang. Tetapi, nyatanya begitu percaya dirinya dia untuk terus mengisahkan kebohongan demi kebohongannya kepada orang lain.

Pernah suatu ketika teman ini bercerita yang sejatinya penuh dengan kibulan. Namun, karena narasinya cukum meyakinkan, teman saya yang lain terkagum-kagum dengan ceritanya. Akhirnya, karena saya kasihan, agar teman yang terkagum-kagum ini tidak terlalu jauh terjerumus dalam kubangan kebohongannya, saya kasih kode bahwa semua yang disampaikan teman itu adalah narasi “kibul tingkat dewa”. Akhirnya teman saya ini paham dan hanya geleng-geleng kepala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Memang, pada awalnya, kebohongan hanyalah bisikan kecil—lirih, nyaris tak terdengar. Ia lahir dari rasa takut, dari keinginan sederhana untuk selamat, untuk tidak disalahkan, untuk tetap diterima. Namun seperti luka yang tak pernah dibersihkan, bisikan itu perlahan meradang. Ia meresap ke dalam daging, menyusup ke aliran darah, lalu berdenyut mengikuti irama jantung. Sejak saat itu, kebohongan tak lagi terasa asing; ia menjadi bagian dari tubuh itu sendiri. Sebagaimana teman saya ini, sepertinya setiap tarikan dan hembusan napasnya sudah “beraroma kebohogan”.

Saya memahami bahwa kebohongan jarang muncul begitu saja. Ia biasanya dimulai dari kebutuhan sederhana: menghindari masalah, menjaga citra, atau mencari penerimaan. Ketika kebohongan “berhasil” menyelamatkan situasi, otak mencatatnya sebagai strategi yang efektif. Lama-kelamaan, berbohong menjadi kebiasaan yang terasa normal. Pada ranah ini, kebiasaan yang terus diulang akan membentuk pola. Inilah awal dari kebohongan yang mendarah daging, dan pada akhirnya menjadi “penyakit akut”.

Baca Juga :  Pilkada 2024 dan Arah Desentralisasi

Dalam perspektif ini, berbohong sesekali mungkin dianggap wajar—untuk menjaga perasaan orang lain atau menghindari konflik kecil. Namun, ketika kebohongan dilakukan secara terus-menerus, spontan, dan tanpa alasan jelas, kondisi ini bisa berubah menjelma “bohong akut”. Hal ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan pola perilaku yang dapat merusak hubungan sosial, kesehatan mental, dan kepercayaan diri seseorang.

Bohong akut adalah kondisi ketika seseorang berbohong secara berulang dan kompulsif, bahkan dalam situasi yang tidak mengharuskannya berbohong. Kebohongan ini sering kali tidak memberikan keuntungan nyata dan terkadang justru merugikan pelakunya sendiri. Dalam psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan compulsive lying atau pathological lying.

Di sisi lain, manusia sering berdalih bahwa kebohongan tertentu perlu dipelihara. Katanya, demi ketenangan, demi harmoni, demi kebaikan bersama. Maka kebohongan pun dirias dengan bahasa yang halus, dibungkus niat yang tampak mulia. Ia diberi nama lain: diplomasi, penyesuaian, bahkan kebijaksanaan. Padahal, di balik semua itu, ada kebenaran yang perlahan kehilangan tempat untuk pulang.

Ketika kebohongan diulang, ia belajar cara bertahan hidup. Ia membangun sarang di ingatan, menciptakan versi-versi cerita yang saling menopang. Lidah menjadi terbiasa mengucapkannya, telinga menjadi kebal mendengarnya, dan hati—yang semula memberontak—akhirnya menyerah. Pada titik ini, kebohongan tidak lagi membutuhkan usaha; ia mengalir alami, seperti napas yang keluar-masuk tanpa disadari. Hanya saja, dalam posisi demikian, yang namanya darah, betapapun tercemarnya, masih membawa ingatan. Di sudut terdalam jiwa, selalu ada denyut kecil yang gelisah—sebuah panggilan sunyi dari kebenaran. Ia mungkin lemah, tertutup lapisan-lapisan dusta, tetapi tidak pernah benar-benar mati. Setiap kegelisahan tanpa sebab, setiap lelah yang tak terjelaskan, adalah tanda bahwa kebohongan menuntut harga yang mahal.

Yang paling menyedihkan, kebohongan yang mendarah daging jarang dikenali sebagai penyakit. Ia tampil sehat, bahkan produktif. Ia mampu menumbuhkan citra, menjaga wajah tetap tersenyum, dan membuat kehidupan tampak baik-baik saja. Namun di kedalaman yang sunyi, kebenaran merintih. Ia hidup sebagai tahanan, dipinggirkan oleh kenyamanan yang semu.

Baca Juga :  Generasi Muda dan Ekonomi Hijau

Kebohongan semacam ini tidak hanya tinggal di ranah pribadi. Ia menjalar ke ruang bersama, menjadi kebiasaan kolektif. Ketika semua orang sepakat untuk pura-pura, kejujuran berubah menjadi ancaman. Mereka yang berkata jujur dianggap kasar, tidak tahu adat, atau terlalu polos untuk memahami “cara kerja dunia.” Maka kebohongan pun diwariskan, dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti tradisi yang tak pernah dipertanyakan.

Di saat itulah kebohongan benar-benar mendarah daging. Ia bukan lagi tindakan, melainkan identitas. Bukan lagi pilihan, melainkan refleks. Seseorang dapat menjalani hidup bertahun-tahun tanpa pernah bertemu dengan dirinya yang jujur. Cermin memantulkan wajah yang asing, tetapi begitu akrab dengan kepura-puraan.

Pada ranah ini, kebohongan yang muncul adalah sinyal bahwa ada konflik batin yang belum terselesaikan. Alih-alih menghakimi, pendekatan yang empatik dan suportif justru menjadi kunci pemulihan. Kejujuran memang tidak selalu mudah, tetapi pada akhirnya, hidup dengan kebenaran jauh lebih ringan daripada terus memelihara kebohongan.

Sebenarnya, ketika dipahami lebih jauh, ada beberapa faktor yang membuat kebohongan melekat kuat dalam diri seseorang. Salah satunya adalah rasa takut akan konsekuensi kejujuran.

Dalam perspektif ini, kejujuran sering dipuji sebagai nilai luhur. Namun dalam praktiknya, berkata jujur tidak selalu terasa aman. Banyak orang memilih diam atau bahkan berbohong karena rasa takut akan konsekuensi kejujuran. Ketakutan ini membuat kebenaran terasa berisiko, seolah-olah kejujuran selalu berujung pada masalah. Kejujuran kerap dianggap berisiko karena berpotensi menimbulkan konflik, penolakan, atau hukuman. Ketakutan ini mendorong seseorang memilih kebohongan sebagai jalan aman untuk melindungi diri, meskipun hanya sementara.

Rasa takut akan konsekuensi kejujuran adalah hal manusiawi. Namun jika dibiarkan, ketakutan ini dapat menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri. Kejujuran memang berisiko, tetapi hidup tanpa kejujuran sering kali jauh lebih melelahkan. Pada akhirnya, keberanian untuk berkata jujur bukan tentang menghindari konsekuensi, melainkan kesiapan untuk bertanggung jawab atas kebenaran.

Baca Juga :  Dirgahayu Bangsaku!

Selain itu, tekanan sosial untuk selalu terlihat baik atau sukses turut memperkuat kebiasaan berbohong. Dalam lingkungan yang menuntut pencitraan, kegagalan dan kelemahan sering dianggap aib. Akibatnya, kebohongan digunakan untuk menjaga citra dan memenuhi ekspektasi orang lain, agar tetap diterima dan dihargai.

Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah lingkungan yang permisif terhadap dusta. Ketika kebohongan dianggap wajar, ditoleransi, atau bahkan dibenarkan demi kepentingan tertentu, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Dalam situasi seperti ini, kebohongan mudah berkembang karena tidak ada konsekuensi yang tegas.

Terakhir, harga diri yang rapuh membuat kebenaran terasa mengancam. Seseorang yang belum menerima dirinya apa adanya cenderung takut jika realitas dirinya diketahui orang lain. Kebohongan pun menjadi tameng untuk menutupi rasa tidak aman, sekaligus cara mempertahankan citra diri yang dianggap lebih layak diterima.

Hanya saja, membebaskan diri dari kebohongan yang mendarah daging bukan perkara sederhana. Ia seperti operasi tanpa bius: menyakitkan, penuh risiko, dan menuntut keberanian. Kejujuran akan membuka luka lama, memperlihatkan borok yang selama ini disembunyikan. Namun hanya dengan cara itulah darah dapat dibersihkan, dan tubuh kembali mengenali dirinya sendiri.

Pada akhirnya, pilihan selalu ada: terus hidup dalam kebohongan yang terasa aman, atau menempuh kejujuran yang menyakitkan tetapi memerdekakan. Mengapa? karena kebenaran, meski pahit, tidak pernah berkhianat. Ia mungkin terluka, diusir, dan ditinggalkan, tetapi ketika kita kembali kepadanya, ia selalu tahu cara menyembuhkan—perlahan, jujur, dan sepenuhnya. Ya, begitulah dinamika hidup. (*)

*) Pembina Komunitas Kata Bintang

Berita Terkait

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah
Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur
Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd
MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren
Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir
Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP
Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Senin, 6 April 2026 - 15:50 WIB

Bohong Akut

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:15 WIB

Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:28 WIB

Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:09 WIB

Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd

Berita Terbaru

Ketua DPD PDIP Jatim, Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Said Abdullah Tegaskan Kedekatan PDIP Jatim dengan NU

Minggu, 12 Apr 2026 - 18:45 WIB

Bupati Sumenep Gencarkan Gerakan ASRI (Foto: Istimewa)

Daerah

Bupati Sumenep Gencarkan Gerakan ASRI

Jumat, 10 Apr 2026 - 11:14 WIB