Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Sebelum Upacara Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep, 31 Oktober 2025, pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025, telah dilangsungkan Prosesi Arya Wiraraja.
Prosesi ini adalah penanda tradisi bersejarah yang menjadi puncak refleksi dalam rangka Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Event ini bukan sekadar upacara adat, melainkan momentum strategis untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan, kepemimpinan, dan cinta tanah kelahiran.
Dipahami bahwa tujuh setengah abad bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang 756 tahun, Sumenep telah melewati berbagai babak sejarah—dari masa kerajaan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, hingga era modern yang serba cepat.
Di setiap zamannya, Sumenep menorehkan kisah tentang kebijaksanaan, keuletan, dan semangat religius yang menjadi identitas masyarakatnya.
Sumenep bukan sekadar nama kabupaten di ujung timur Pulau Madura. Ia adalah jejak peradaban yang hidup. Sumenep telah menjelma wadah “perjumpaan” budaya dan agama dalam harmoni: dari Keraton Sumenep yang megah hingga langgar di kampung-kampung kecil; dari tradisi keris dan topeng hingga lantunan selawat di pesantren. Ya, di sini juga tersimpan kekayaan nilai yang tak ternilai, dan dari sinilah akar jati diri itu tumbuh.
Sejak masa Arya Wiraraja, Sumenep telah dikenal sebagai pusat kebijaksanaan dan pemerintahan yang beradab. Jejak sejarah itu bukan sekadar catatan di dinding keraton, melainkan fondasi moral bagi masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, gotong royong, dan kejujuran menjadi roh kehidupan sosial yang menuntun arah pembangunan hingga hari ini.
Sumenep adalah sebuah nama yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menuturkan peradaban yang sarat nilai. Di usianya yang ke-756 tahun, Sumenep telah menjadi saksi perjalanan panjang bangsa ini—dari masa kerajaan hingga zaman digital, dari peradaban agraris hingga era informasi. Bahkan, di tengah arus perubahan yang deras, Sumenep ternyata tetap berdiri teguh dengan akar budayanya yang kokoh.
Namun, di usia yang semakin matang ini, muncul pertanyaan reflektif: “Quo Vadis Sumenep-ku?”, ke mana arah langkah Sumenep hari ini?
Apakah kemajuan teknologi dan perubahan zaman masih sejalan dengan ruh kebudayaan dan spiritualitas yang diwariskan para leluhur? Apakah generasi mudanya masih mengenal sejarah dan mencintai tanah kelahirannya? Beragam pertanyaan ini muncul dan mengisi ruang psikologis saya.
Tantangan masa kini menuntut Sumenep untuk bertransformasi tanpa kehilangan jati diri. Pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan moral dan budaya. Literasi, pendidikan, dan partisipasi generasi muda menjadi kunci untuk memastikan bahwa Sumenep tidak sekadar “tua dalam usia”, tetapi dewasa dalam peradaban.
Hari Jadi ke-756 bukan hanya ajang perayaan, melainkan momentum kontemplasi: bagaimana kita, anak-anak Sumenep, melanjutkan estafet sejarah dengan karya dan pengabdian. Dari warisan Arya Wiraraja hingga semangat generasi muta’akhkhirin, Sumenep harus terus menjadi tanah yang menumbuhkan kebijaksanaan, inovasi, dan kemanusiaan. Semoga Sumenep tetap teguh menjaga akar tradisi, terbuka terhadap kemajuan, dan mampu melangkah pasti menuju masa depan yang berdaulat, berbudaya, dan sejahtera.
Kemajuan zaman akan selalu menghadirkan tantangan baru. Nilai-nilai luhur yang ada di Sumenep sangat potensial tergerus oleh modernitas yang serba cepat dan pragmatis. Maka, di sinilah generasi muda Sumenep hari ini perlu membangun kesadaran bahwa kita tidak hanya sekadar menikmati kemajuan, tetapi juga penting untuk merawat nilai yang ada. Kemajuan tanpa nilai hanyalah gerak tanpa arah; teknologi tanpa etika hanya meninggalkan jejak, bukan makna.
Selamat Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep!
*) Pembina Komunitas Kata Bintang









