Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Redaksi Nolesa

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Saya pernah diundang Pro 2 RRI Sumenep dalam acara “MUDA NGIDE” untuk membincang seputar lingkungan, air, dan fenomenanya dalam kehidupan. Tema spesifik yang diusung adalah “kelebihan air masalah, kurang air juga masalah”. Saya pikir tema ini menarik untuk didiskusikan karena menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan manusia sekaligus menghadirkan sebuah paradoks yang nyata dan relevan. Artinya, tema ini bersifat kontekstual, dekat dengan kehidupan sehari-hari, mengandung paradoks yang kuat, serta membuka ruang diskusi tentang solusi dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Dipahami bahwa air adalah sumber kehidupan. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia bergantung padanya: untuk minum, memasak, pertanian, industri, hingga menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, di balik perannya yang vital, air menyimpan paradoks besar: ketika jumlahnya kurang, ia menjadi bencana, ketika jumlahnya berlebih, ia pun berubah menjadi ancaman. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan air bukan sekadar soal ada atau tidak ada, melainkan soal keseimbangan dan pengelolaan.

Ketika air kurang, dampaknya sangat luas dan serius. Kekeringan menyebabkan gagal panen, krisis pangan, dan meningkatnya harga kebutuhan pokok. Di banyak daerah, terutama yang bergantung pada pertanian, kekurangan air berarti hilangnya mata pencaharian. Selain itu, krisis air bersih juga memicu masalah kesehatan. Masyarakat yang kesulitan mendapatkan air layak konsumsi terpaksa menggunakan air tercemar, sehingga risiko penyakit seperti diare dan infeksi kulit meningkat. Kekurangan air juga dapat memicu konflik sosial, terutama di wilayah yang sumber airnya terbatas dan harus diperebutkan.

Di sisi lain, kelebihan air pun membawa persoalan yang tidak kalah berat. Curah hujan yang tinggi dan sistem drainase yang buruk sering menyebabkan banjir. Banjir merusak rumah, infrastruktur, lahan pertanian, dan bahkan merenggut nyawa. Aktivitas ekonomi terhenti, sekolah diliburkan, dan masyarakat harus mengungsi. Selain banjir, kelebihan air juga dapat menyebabkan tanah longsor di daerah perbukitan yang struktur tanahnya tidak stabil. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi sumber penderitaan ketika tidak dikelola dengan baik.

Baca Juga :  Gaji Guru Honorer, Tanggung Jawab, dan Beban Administrasi

Fenomena “kurang masalah, lebih juga masalah” pada air memperlihatkan pentingnya manajemen sumber daya yang bijaksana. Pengelolaan air tidak hanya soal membangun bendungan atau saluran irigasi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan. Penebangan hutan secara liar, alih fungsi lahan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang memperparah risiko banjir dan kekeringan. Hutan yang gundul tidak mampu menyerap air hujan dengan baik, sehingga saat musim hujan terjadi banjir, dan saat musim kemarau cadangan air tanah menipis.

Baca Juga :  Anies Baswedan dan Partai Baru

Selain itu, perubahan iklim turut memperburuk situasi. Pola cuaca menjadi tidak menentu; musim kemarau bisa berlangsung lebih panjang, sementara musim hujan datang dengan intensitas ekstrem. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan dan adaptasi dari pemerintah maupun masyarakat. Teknologi seperti sistem irigasi hemat air, penampungan air hujan, serta pengolahan air limbah menjadi air layak pakai dapat menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan air secara berkelanjutan.

Secara substantif, air mengajarkan manusia tentang arti keseimbangan. Ia tidak boleh dipandang sebagai sumber daya yang tak terbatas, tetapi juga tidak boleh diabaikan dalam pengelolaannya. Kesadaran kolektif untuk menggunakan air secara bijak, menjaga lingkungan, dan mendukung kebijakan pengelolaan air yang berkelanjutan menjadi kunci untuk menghadapi paradoks ini. Maka, dalam konteks fenomena air—yang kurang menjadi masalah, dan yang berlebih pun tetap masalah—ini, keseimbanganlah yang menjadi jawabannya. Tabik!

*) Sekretaris BPBD Sumenep

Berita Terkait

Hari Santri, Menanamkan Akhlak, Menumbuhkan Kreativitas Sejak Usia Dini
Lokakarya Mini: Membangun Sinergi dan Kolaborasi Tanpa Henti
Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam
Bedah Buku “Tanah Kerontang dI Madura”
Psychological Safety
Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:30 WIB

Hari Santri, Menanamkan Akhlak, Menumbuhkan Kreativitas Sejak Usia Dini

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Lokakarya Mini: Membangun Sinergi dan Kolaborasi Tanpa Henti

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:31 WIB

Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Bedah Buku “Tanah Kerontang dI Madura”

Rabu, 16 September 2026 - 15:52 WIB

Psychological Safety

Berita Terbaru

Bupati Fauzi mengenakan baju adat keraton dalam sebuah acara (Foto: Istimewa)

Daerah

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Kamis, 29 Okt 2026 - 07:07 WIB