Oleh | Bambang Suharto, S.H.
OPINI, NOLESA.COM – Kita semua pasti punya teman mulai dari teman sekolah, teman hidup, teman tetangga, teman seprofesi, teman komunitas, teman yang baru kenalan di tempat umum dan media sosial, untuk dapat berkenalan dengan mereka dilakukan dengan cara memulai obrolan ringan atau small talk untuk saling mengenal satu sama lain.
Langkah utama setelah mengenal teman adalah dengan membangun kedekatan secara perlahan melalui komunikasi yang tulus dan konsisten dimulai dari sapaan ringan dan menanyakan hal-hal santai semisal hobi dan tetap memberi batasan pada diri sendiri untuk tidak terlalu oversharing atau berbagi urusan pribadi secara berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Memiliki teman merupakan anugerah terbesar karena mereka memberikan dukungan emosional, menjaga kesehatan mental, dan selalu ada dalam suka maupun duka. Sikap toleransi tidak membeda-bedakan teman berdasarkan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) adalah wujud nyata dalam menjaga kerukunan, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 :
Yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ‘ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr.
Artinya : Manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan serta dijadikan berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Mempunyai teman yang saleh dan beriman sangatlah beruntung karena dapat menolong dan memberikan syafaat (pertolongan) di akhirat agar temannya bisa keluar dari neraka dan masuk ke dalam surga.
Menurut Hasan Al-Bashri tokoh ulama besar dari generasi tabi’in (pengikut sahabat Nabi) yang terkenal karena ilmu, kezuhudan, dan keberaniannya pernah berpesan agar memperbanyak teman-teman yang beriman karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.
Ketika seseorang masuk surga dan tidak menemukan sahabatnya yang dulu bersama-sama dalam ketaatan di dunia, ia akan memohon kepada Allah SWT untuk mencari dan menanyakan keberadaan sahabatnya tersebut, atas izin Allah SWT orang saleh tersebut dapat memohon agar sahabatnya yang berada di neraka karena dosa-dosanya diangkat dan dimasukkan ke dalam surga bersamanya.
Dalam menjalin hubungan pertemanan setiap teman memiliki berbagai karakter unik yang saling melengkapi kehidupan seperti warna pelangi dan seringkali menemukan dinamika yang kompleks, mulai dari ketulusan yang murni hingga kepura-puraan yang melelahkan.
Banyak teman hanya hadir saat senang atau ketika memiliki kepentingan tertentu saja dan juga hubungan yang dipenuhi rasa iri, sikap menjatuhkan, bullying, dan kepura-puraan demi diterima oleh kelompok. Ketika ada suatu permasalahan kebanyakan teman jaman sekarang tidak membela yang benar tapi membela yang mereka suka dan siapa yang bermanfaat bagi mereka.
Sikap ikut-ikutan memusuhi teman merupakan perilaku konformitas negatif atau peer pressure (tekanan teman sebaya) terjadi karena seseorang ingin merasa diakui atau takut dikucilkan oleh kelompoknya yang membuat hubungan pertemanan yang sehat akan rusak.
Dalam pandangan Islam, mendiamkan atau tidak bertegur sapa dengan sesama muslim akibat pertengkaran atau perselisihan urusan duniawi diharamkan jika melebihi batas waktu tiga hari. Batas waktu hingga tiga hari diberikan agar seseorang dapat meredakan emosi, kejengkelan, dan menenangkan jiwa.
Jika pertengkaran dan aksi diam-diaman berlanjut lebih dari tiga hari tiga malam karena urusan dunia, hukumnya berubah menjadi haram dan termasuk dosa karena memutus tali silaturahim. Dalam pandangan Islam memutus tali silaturahmi (hubungan kekerabatan) pada dasarnya diharamkan namun diperbolehkan jika hubungan tersebut membawa mudarat besar terhadap agama, keselamatan jiwa atau kezaliman yang terus-menerus tanpa ada niat perbaikan dari pihak kerabat.
Pengecualian ini bukan berarti membenci atau memutus hak waris/kewajiban mendasar melainkan membatasi interaksi agar tidak menimbulkan keburukan yang lebih besar. Hubungan dapat dibatasi sekadarnya tanpa harus hadir dalam pusaran konflik yang merusak.
Menjalin kembali silaturahmi dengan teman yang sering membuat masalah membutuhkan batasan yang tegas agar kesehatan mental tetap terjaga dengan membatasi durasi pertemuan secara singkat dan kirim pesan singkat jika bertemu langsung terasa terlalu berat.
*) Penulis adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura






