Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Bang, “Rumah Okara” mau ngadakan bedah buku. gimana?” Tiba-tiba sahabat Avan Fathurrahman kirim WA pribadi ke saya. Sambil tersenyum saya balas: “siap”.
“Saya mau silaturrahmi” lanjutnya. Selang beberapa menit, dia sudah tiba di kantor saya. Di situlah diskusi itu dimulai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa dia menghubungi saya? Karena dia tahu waktu itu saya masih ada di BPBD Sumenep (OPD yang secara teknis membidangi urusan kebencanaan)—sebelum saya dimutasi ke Kecamatan Batang-Batang—dan buku yang akan dibedah membincang tentang fenomena kekeringan—yang notabene juga bencana dan menjadi rutinitas tahunan di Madura (bukan hanya di Sumenep).
Di sini dia melakukan riset untuk mengangkat tema kekeringan ini dan menuangkannya dalam bentuk buku nonfiksi informatif. Karena peruntukannya untuk kategori pembaca B2 (anak usia 7-9 tahun), maka bahasa yang disampaikannya pun sangat sederhana dan mudah dipahami. Termasuk kampanye untuk sadar lingkungan pun tersaji dengan gamblang.
Pulau Madura sering kali dilekatkan dengan narasi kultural yang khas: daratan yang gersang, tantangan geografis, dan kondisi alam yang kerap diuji oleh musim kemarau panjang. Di tengah lanskap sosio-ekologis yang menantang ini, diskursus mengenai kebencanaan tidak bisa lagi dipandang semata-mata sebagai urusan teknis penanganan darurat. Ia menuntut sebuah pendekatan humanis yang menyentuh akar kesadaran masyarakat. Melalui karya-karya pemikir dan pegiat literasi lokal, salah satunya direpresentasikan oleh kiprah intelektual seperti Avan Fathurrahman—seorang pendidik dan penggiat literasi yang konsen pada dunia pendidikan serta kebudayaan Madura—perspektif mengenai tanah kerontang bertransformasi menjadi sebuah panggilan moral untuk merawat ruang hidup melalui tradisi baca-tulis dan literasi kebencanaan.
Selama bertahun-tahun, stigma “tanah kerontang” di Madura direspons secara parsial, sering kali hanya melahirkan kepasrahan atau sekadar bantuan logistik darurat saat kekeringan melanda. Padahal, kekeringan struktural dan ancaman krisis iklim membutuhkan bangunan pengetahuan yang kokoh agar masyarakat tidak sekadar menjadi objek bencana, melainkan subjek yang siaga dan tangguh. Di sinilah literasi memegang peran krusial.
Literasi, dalam konteks ruang kesadaran kebencanaan di Madura, bukan sekadar kemampuan mengeja aksara di atas kertas. Lebih dari itu, literasi adalah jembatan kognitif yang menghubungkan realitas empiris—seperti keringnya sumur-sumur warga, gagal panen, dan tandusnya sabana—dengan pemahaman ilmiah mengenai siklus iklim serta mitigasi lingkungan. Ketika buku dan ruang-ruang diskusi literasi dihadirkan di tengah masyarakat, narasi tentang tanah yang gersang diubah menjadi bahan refleksi kolektif. Buku menjadi cermin yang memantulkan sejauh mana manusia berinteraksi secara adil dengan alamnya.
Kesadaran kebencanaan di wilayah rentan kekeringan harus mengalami pergeseran paradigma dari reaktif (bergerak hanya saat krisis terjadi) menuju proaktif (membangun kesiapsiagaan secara berkelanjutan). Gerakan literasi lokal berfungsi sebagai inkubator gagasan untuk menanamkan kesadaran ini sejak dini, baik melalui jalur pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun ruang-ruang komunitas akar rumput.
Ketika para pendidik, penulis, dan pegiat literasi menyuarakan pentingnya merawat lingkungan, pesan yang disampaikan melebihi sekadar imbauan ekologis. Ini adalah sebuah bentuk empati kultural. Masyarakat Madura, dengan etos kerja dan ketangguhan mentalnya, memiliki modal sosial yang besar untuk menghadapi tantangan alam. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana meramu kearifan lokal tersebut dengan pengetahuan mitigasi modern. Ruang-ruang diskusi buku, perpustakaan desa, dan komunitas tulis-menulis menjadi laboratorium sosial tempat gagasan mitigasi bencana didiskusikan dengan bahasa yang membumi dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Dalam perspektif ini, menghadirkan diskursus kebencanaan melalui medium literasi juga menegaskan bahwa persoalan lingkungan di Madura adalah persoalan kebudayaan. Tanah yang kerontang bukan takdir mutlak yang harus diterima tanpa ikhtiar transformatif, melainkan sebuah medan pengujian bagi peradaban lokal untuk terus belajar beradaptasi.
Dengan membudayakan tradisi membaca dan menulis, masyarakat diajak untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal—seperti cara leluhur mengelola sumber air terbatas, teknik pertanian adaptif musim kering, hingga kearifan menjaga ekosistem. Dokumentasi pengetahuan lokal ini, yang disandingkan dengan literasi sains modern, akan melahirkan ketahanan kolektif yang kokoh.
Ketika ditelaah lebih jauh, karena saat ini ”aroma” peringatan Hari Kesaktian Pancasila masih kental dalam benak kita, maka inilah sebenarnya, implementasi dari spirit Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Di sini, Pancasila memberikan alasan mengapa kita harus peduli sebagai sebuah etika dan kebangsaan, literasi dan pendidikan membekali bagaimana cara kita memahaminya sebagai ilmu dan cara pandang, dan kesadaran kebencanaan adalah bentuk perwujudan nyata di lapangan untuk merawat masa depan tanah kelahiran.
Maka, esensi “Tanah Kerontang di Madura” dalam ruang literasi kebencanaan mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalu bermula dari cara sebuah masyarakat membaca dunianya. Buku dan tradisi literasi hadir bukan untuk mengubah alam secara instan, melainkan untuk mengubah cara pandang manusia terhadap alam tempatnya berpijak. Melalui sinergisitas antara dunia pendidikan, literasi, dan kesadaran kebencanaan, masa depan Madura dapat terus dirawat—bukan sekadar sebagai daratan yang diuji oleh musim kemarau, tetapi sebagai ruang hidup yang melahirkan manusia-manusia tangguh, sadar ekologi, dan berdaulat atas pengetahuan masa depannya. Semoga!
*) Sekretaris Kecamatan Batang-Batang, Sumenep






