Oleh | Dr. H. Abd. Kadir, M.Pd.
OPINI, NOLESA.COM – Ketika Pak Camat mengirim pesan WA ke saya untuk menghadiri acara ”lokmin”, sejenak saya berpikir untuk menerjemahkan kata yang ada. Bahasa ” lokmin” ini di kepala saya masih belum familier. Bagi saya ini bahasa register kecamatan. Karena saya baru beberapa hari berada di lingkungan Kecamatan Batang-Batang, bagi saya istilah ini masih terasa asing.
Dalam ketidaktahuan ini, ketika saya tanya ke teman-teman kantor, ”lokmin ini apa?” Ternyata sebuah akronim dari ”lokakarya mini”. Dari sini saya kemudian mencoba mencari tahu tentang lokakarya mini yang biasanya dilaksanakan di tingkat kecamatan, khususnya oleh puskesmas—karena dalam undangan yang disodorkan teman ke saya, yang mengundang adalah Kepala Puskesmas Batang-Batang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Singkat cerita, berangkatlah saya ke Puskesmas Batang Batang. Di situ ternyata hadir juga Kapolsek Batang Batang, Perwakilan Koramil Batang Batang, beserta perwakilan dari berbagai unsur yang ada se Kecamatan Batang Batang. Cukup kompleks.
Dari sini, bisa dipahami bahwa pembangunan kesehatan masyarakat merupakan ikhtiar kompleks yang tidak dapat dituntaskan oleh satu pihak semata. Di tingkat pelayanan primer, puskesmas berdiri sebagai garda terdepan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, berbagai tantangan di lapangan—mulai dari tingginya angka stunting, penyakit menular dan tidak menular, hingga rendahnya kesadaran sanitasi—menunjukkan bahwa kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan hasil interaksi dari berbagai faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam kerangka inilah minilok hadir bukan hanya sebagai mekanisme rapat rutin, melainkan sebagai wadah vital untuk membangun sinergi dan kolaborasi tanpa henti antara petugas Kesehatan dan pemangku kepentingan lintas sektor.
Ada dua lokakarya mini yang biasanya dilaksanakan puskesmas yaitu lokakarya mini bulanan dan lokakarya mini triwulanan. Lokakarya mini bulanan merupakan ruang konsolidasi internal bagi seluruh jajaran pegawai puskesmas—mulai dari dokter, perawat, bidan desa, analis laboratorium, hingga penanggung jawab program UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) dan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan). Dalam forum ini, setiap unit memaparkan pencapaian program, mengidentifikasi hambatan teknis, dan merumuskan langkah perbaikan.
Sinergi internal yang terbangun melalui lokakarya mini ini mengikis ego sektoral antar-program. Sebagai contoh, penanganan kasus gizi buruk tidak lagi dipandang sebagai tugas program gizi saja, tetapi memerlukan keterlibatan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk pemantauan tumbuh kembang, unit sanitasi untuk memastikan lingkungan rumah sehat, serta unit edukasi kesehatan untuk perubahan perilaku keluarga. Melalui evaluasi berkala dan keterbukaan komunikasi, Lokakarya mini menciptakan iklim kerja yang kohesif, adaptif, dan responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks ini, jika lokakarya mini bulanan berfokus pada penguatan internal, lokakarya mini triwulanan (lintas sektor) membawa kolaborasi ke tataran yang lebih luas. Forum ini mempertemukan puskesmas dengan jajaran pimpinan kecamatan, kepala desa, Tim Penggerak PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta unsur TNI dan Kepolisian.
Dalam teori sinergitas, terminologi pemikiran sinergi dalam kepemimpinan modern yang dikemukakan Stephen R. Covey—dalam bukunya, The 7 Habits of Highly Effective People (Kebiasaan ke-6: Synergize)—tampaknya menarik untuk dijadikan pijakan. Covey memandang sinergi sebagai puncak dari efektivitas hubungan antarmanusia. Sinergi bukan sekadar kompromi (dengan pola masing-masing pihak mengalah), melainkan penciptaan alternatif ketiga—sebuah solusi baru yang jauh lebih baik dari gagasan awal masing-masing pihak. Pada ranah ini, kunci sinergi menurut Covey adalah menghargai perbedaan. Perbedaan latar belakang, mentalitas, dan cara pandang tidak dilihat sebagai hambatan, melainkan sebagai aset untuk melengkapi keterbatasan individu.
Maka, ketika diterjemahkan dalam lokakarya mini yang dilaksanakan, keberhasilan program kesehatan masyarakat sangat bergantung pada determinan sosial di luar sektor medis. Masalah penolakan imunisasi, misalnya, sering kali berakar dari kurangnya pemahaman atau disinformasi di masyarakat. Nah, melalui lokakarya mini triwulanan, puskesmas dapat merangkul tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman yang tepat dan menyejukkan. Begitu pula dalam penanganan stunting atau sanitasi lingkungan, dukungan kepala desa sangat menentukan dalam mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk pembangunan posyandu, penyediaan air bersih, maupun program pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal.
Sebagaimana yang dipaparkan dalam lokakarya mini yang saya ikuti ini, ada tim medis dari Puskesmas Batang Batang yang baru saja diutus mengikuti pelatihan akupresure. Tim ini menjelaskan secara singkat kepada peserta tentang akupresur, sebagai bentuk tanggung jawab diseminasi kepada masyarakat. Langkah pertama, disampaikan di agenda lokakarya mini triwulanan ini.
Bagi saya, ini sangat menarik, karena pengetahuan akupresur sangat penting didiseminasikan kepada masyarakat sebagai langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian kesehatan secara mandiri dan holistik. Sebagai bagian dari pengobatan tradisional yang aman dan teruji, akupresur memberikan solusi praktis bagi masyarakat untuk meredakan berbagai keluhan kesehatan ringan, seperti sakit kepala, mual, serta ketegangan otot, tanpa ketergantungan pada obat-obatan kimia.
Berangkat dari pemahaman ini, waktu itu, saya mengajukan permohonan kepada tim untuk bisa melakukan diseminasi lanjutan kepada seluruh pegawai kecamatan, dan bahkan ke level di tingkat desa juga bisa didiseminasikan secara terstruktur. Mengapa? karena melalui diseminasi yang terstruktur, masyarakat dituntun untuk memahami titik-titik meridian tubuh serta teknik penekanan yang tepat. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan penyakit, tetapi juga menekan biaya pelayanan kesehatan keluarga secara signifikan.
Selain itu, penyebaran pengetahuan ini memperkuat kearifan lokal berbasis bukti ilmiah yang dapat diterapkan kapan saja dan di mana saja. Dengan membekali masyarakat keterampilan akupresur, kita membangun komunitas yang lebih tangguh, berdaya, dan aktif menjaga kualitas hidup sehat secara berkesinambungan demi terciptanya ketahanan kesehatan masyarakat yang lebih kokoh.
Di sisi lain, frasa ”tanpa henti” pada tataran lokakarya mini mengandung makna keberlanjutan dan konsistensi. Sinergi yang dibangun tidak boleh berhenti saat rapat selesai atau dokumen notulensi ditandatangani. Inti dari lokakarya mini ini terletak pada Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang jelas, terukur, serta memiliki pembagian peran yang tegas. Pada ranah ini, kolaborasi lintas sektor membuktikan bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Lokakarya mini ini menjadi jembatan yang menghubungkan kebijakan medis dengan aksi nyata di tingkat tapak.
Pada akhirnya, akan mengemuka dengan jelas bahwa lokakarya mini adalah pilar utama dalam menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan berorientasi pada masyarakat. Melalui penguatan sinergi internal antarpetugas dan penggalangan kolaborasi lintas sektor yang tidak pernah putus, lokakarya mini mampu meruntuhkan sekat-sekat birokrasi serta menyatukan berbagai potensi demi satu tujuan mulia: mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera. Menguatkan semangat kolaborasi tanpa henti di dalam lokakarya mini berarti menjaga asa dan kualitas hidup seluruh warga masyarakat. Semoga!
*) Sekretaris Kecamatan Batang-Batang






