Psychological Safety

Redaksi Nolesa

Rabu, 16 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Apa yang diungkap oleh Dr. Ramliyanto, S.P, M.P., Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, ketika memberi pengantar dalam Webinar ASN Belajar, Kamis, 3 September 2026 kiranya cukup menjadi pemantik positif bagi kita sebagai masyarakat yang hidup dalam sebuah lingkungan kerja. Beliau menyampaikan bahwa dalam sebuah lingkungan kerja, membangun budaya organisasi yang memanusiakan manusia di lingkungan kerjanya adalah sebuah keniscayaan. Di sini, beliau juga menyampaikan sebuah terminologi pemahaman tentang psychological safety (sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Amy Edmondson dari Harvard Business School).

Tema yang diusung sebenarnya difokuskan pada lingkungan kerja ASN: “Bercanda atau Melukai? Membangun Ruang Kerja ASN yang Aman, Sehat dan Saling Menghargai”. Namun, meskipun difokuskan untuk ASN, sebenarnya fenomena ini juga bisa ditransformasikan dalam lingkungan kerja, lingkungan belajar atau komunitas yang ada di sekitar kita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam dinamika hubungan antarmanusia—baik di lingkungan kerja, sekolah, maupun lingkaran pertemanan—batas antara bercandaan yang menghibur dan tindakan yang melukai sering kali sangat tipis. Sebuah kelakar yang dilontarkan dengan maksud mencairkan suasana bisa saja diterima sebagai ruang keceriaan oleh satu orang, namun dirasakan sebagai tikaman emosional bagi orang lain. Dalam kacamata psychological safety (keamanan psikologis), perbedaan dampak inilah yang menentukan apakah sebuah interaksi membangun rasa saling percaya atau justru merusak fondasi hubungan.

Baca Juga :  Kepemimpinan Kiai

Keamanan psikologis, pada dasarnya adalah kondisi ketika seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, menyuarakan pendapat, mengajukan pertanyaan, atau bahkan melakukan kesalahan tanpa takut dihakimi, dipermalukan, atau ditolak. Ketika sebuah kelompok memiliki tingkat keamanan psikologis yang tinggi, setiap anggotanya merasa dihargai secara utuh. Namun, kebiasaan bercanda tanpa empati sering kali menjadi anomali yang perlahan menghancurkan ruang aman tersebut.

Bercanda pada hakikatnya adalah sarana koneksi sosial. Humor yang sehat sebagai media interaksi yang mengurangi stres dan mempererat ikatan. Namun, kuncinya terletak pada arah dan dampak humor tersebut. Humor yang konstruktif dan aman secara psikologis biasanya berfokus pada situasi, pengalaman bersama, atau hal-hal konyol yang tidak menyerang identitas individu. Sebaliknya, humor yang melukai—sering kali berkedok candaan pribadi, body shaming, atau sarkasme tentang kekurangan seseorang—adalah bentuk perundungan halus yang mengikis rasa aman.

Saat seseorang menjadi sasaran candaan yang melukai, respon awal yang paling sering muncul adalah tawa canggung atau senyuman terpaksa. Korban kerap merasa tertekan untuk ikut tertawa demi menjaga keutuhan suasana atau agar tidak dicap “terlalu sensitif” dan “tidak asyik”. Di sinilah letak bahayanya. Ketika “tawa palsu” itu dianggap sebagai lampu hijau oleh si pembawa candaan, perilaku tersebut akan berulang dan terinternalisasi. Bagi korban, setiap candaan yang mengiris itu bertindak sebagai micro-aggression—luka-luka kecil yang jika terus menumpuk akan menghancurkan rasa percaya diri dan menciptakan rasa cemas setiap kali harus berinteraksi.

Baca Juga :  Pintu Kampus Tertutup bagi Si Miskin

Dalam perspektif keamanan psikologis, dampak dari tindakan melukai berkedok candaan ini melampaui sekadar perasaan sakit hati individu. Efek domino yang ditimbulkannya merusak iklim kelompok secara keseluruhan. Ketika seseorang melihat rekannya dipermalukan lewat candaan dan tidak ada yang membela, muncul sinyal implisit bahwa kelompok tersebut tidak aman. Orang-orang mulai menarik diri secara emosional. Mereka menjadi enggan bicara, ragu menyampaikan ide-ide berani, dan memilih bermain aman karena takut menjadi sasaran lelucon berikutnya. Rasa takut dipermalukan dengan cepat menggantikan dorongan untuk berkolaborasi secara terbuka.

Pernyataan klise seperti “Ah, cuma bercanda kok!” atau “Jangan baperan dong” adalah bentuk penolakan atas realitas emosional korban. Dalam konsep psychological safety, niat tidak pernah lebih penting daripada dampak. Seseorang mungkin tidak berniat melukai. Namun, jika ucapan tersebut menghasilkan rasa malu atau terasing pada orang lain, maka bahaya psikologis telah terjadi. Mengabaikan dampak tersebut dan menyalahkan korban karena merasa tersinggung adalah bentuk manipulasi emosional yang justru makin merusak keharmonisan.

Baca Juga :  Event dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Membangun kembali lingkungan yang aman secara psikologis menuntut kepekaan dan keberanian. Pertama, diperlukan kesadaran diri untuk mengevaluasi jenis humor yang kerap kita gunakan. Apakah candaan kita membuat orang lain merasa diterima, atau justru membuat seseorang merasa menjadi bahan tertawaan? Kedua, dibutuhkan norma kelompok yang tegas, yang membuat setiap anggota merasa memiliki hak untuk berkata “saya tidak nyaman dengan candaan itu” tanpa takut dihakimi. Kemudian, yang terpenting, ketika seseorang menyuarakan ketidaknyamanannya, respons terbaik bukanlah membela diri, melainkan mendengarkan dengan empati dan meminta maaf.

Pada akhirnya, kehangatan sebuah kebersamaan tidak ditentukan oleh seberapa keras kita bisa tertawa terbahak-bahak, melainkan oleh seberapa aman setiap orang merasa di dalam ruangan tersebut. Menjaga batas antara humor yang menyatukan dan candaan yang melukai adalah komitmen harian. Dengan mengutamakan empati di atas kelakar, kita sedang merawat ruang yang membuat setiap orang bisa hadir secara utuh, tanpa perlu memasang perisai karena takut dilukai oleh mereka yang berada di sekelilingnya. Semoga!

*) Dosen Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Berita Terkait

Hari Santri, Menanamkan Akhlak, Menumbuhkan Kreativitas Sejak Usia Dini
Lokakarya Mini: Membangun Sinergi dan Kolaborasi Tanpa Henti
Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam
Bedah Buku “Tanah Kerontang dI Madura”
Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin
Desa Tangguh Bencana

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:30 WIB

Hari Santri, Menanamkan Akhlak, Menumbuhkan Kreativitas Sejak Usia Dini

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Lokakarya Mini: Membangun Sinergi dan Kolaborasi Tanpa Henti

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:31 WIB

Memutus Hubungan Pertemanan Menurut Pandangan Islam

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Bedah Buku “Tanah Kerontang dI Madura”

Rabu, 16 September 2026 - 15:52 WIB

Psychological Safety

Berita Terbaru

Bupati Fauzi mengenakan baju adat keraton dalam sebuah acara (Foto: Istimewa)

Daerah

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Kamis, 29 Okt 2026 - 07:07 WIB