Membumikan Nilai-nilai Aswaja di Kalangan Gen Z

Redaksi Nolesa

Jumat, 17 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Helliyatul Hasanah*


Generasi muda, khususnya Gen Z, merupakan pilar utama masa depan bangsa. Sebagai generasi yang tumbuh di era globalisasi dan digitalisasi, Gen Z dihadapkan pada berbagai tantangan yang kompleks, termasuk derasnya arus informasi yang tidak terfilter, pengaruh ideologi radikal, dan degradasi moral yang dapat mengikis nilai-nilai luhur keislaman.

Dalam konteks ini, menjadi penting untuk membumikan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di kalangan Gen Z. Sebagai manhaj (metode) paham Aswaja yang berbasis pada ajaran Rasulullah dan para sahabatnya memiliki potensi besar untuk menjadi solusi atas problematika yang dihadapi generasi muda. Nilai-nilai Aswaja yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan kasih sayang sangat relevan untuk membentuk karakter Gen Z yang kokoh secara moral dan spiritual sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Membumikan nilai-nilai Aswaja di kalangan Gen Z tidak hanya sekadar mengenalkan konsep-konsep teologis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seperti nilai-nilai tawassuth atau moderasi, misalnya. Tawassuth mengajarkan umat untuk bersikap tengah-tengah, tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri.

Baca Juga :  Demokrasi dan Politik Hijau

Dalam konteks Gen Z, nilai seperti tawassuth sangat relevan untuk menangkal ideologi radikal yang sering kali membidik generasi muda melalui propaganda di media sosial. Dengan menanamkan moderasi, Gen Z akan mampu memilah informasi secara kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang menyesatkan umat dan kehidupan gen z khususnya.

Selain itu, sikap tawassuth juga dapat membentuk mentalitas terbuka dan inklusif pada diri gen z sehingga dalam kesehariannya, mereka dapat hidup berdampingan dengan individu atau kelompok yang berbeda tanpa kehilangan identitas keislaman mereka sendiri.

Selain mengajarkan moderasi, paham Aswaja juga mengajarkan tasamuh atau toleransi. Dalam kehidupan yang plural dan multikultural, kemampuan untuk menerima perbedaan merupakan keterampilan sosial yang sangat penting bagi gen z agar tidak terjebak dalam perpecahan akibat perbedaan pandangan, baik dalam aspek agama, politik, maupun budaya.

Baca Juga :  Childfree dan Rahasia Awet Muda Gitasavitri

Tasamuh mengajarkan gen z untuk menghormati perbedaan tanpa harus menyetujui sepenuhnya pandangan pihak lain. Dengan sikap toleran ini, Gen Z dapat menjadi agen perdamaian yang mampu meredam konflik dan menciptakan harmoni dalam masyarakat.

I’tidal atau keadilan adalah hal penting lain yang juga diajarkan dalam paham Aswaja. Keadilan dalam Aswaja tidak dipandang hanya sebatas pada ranah hukum, tetapi juga dalam bersikap dan berperilaku. Dengan menanamkan nilai i’tidal, maka gen z akan belajar untuk berlaku adil, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta menjunjung tinggi kebenaran di atas segala kepentingan. Keadilan ini juga mendorong mereka untuk lebih peduli terhadap isu-isu sosial seperti ketimpangan ekonomi, diskriminasi, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Proses membumikan nilai-nilai Aswaja di kalangan Gen Z tentu membutuhkan strategi yang relevan dengan karakteristik generasi ini. Oleh karena itu, dakwah Aswaja harus menyesuaikan diri dengan platform yang sering digunakan oleh mereka. Misalnya, melalui konten-konten edukatif di Instagram, TikTok, atau YouTube yang dikemas secara kreatif

Baca Juga :  Hari Penghapusan Siaran Analog Indonesia: Migrasi ke Era Digital

Dalam hal ini, konten-konten dakwah keaswajaan bisa dikemas dalam bentuk video pendek, infografis, atau podcast yang membahas nilai-nilai Aswaja dalam konteks kekinian. Pendekatan ini tidak hanya akan membuat dakwah lebih mudah diterima, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Aswaja semakin relevan dengan kehidupan sehari-hari gen z.

Dengan menanamkan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan keadilan, Gen Z akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral. Mereka akan menjadi penerus bangsa yang mampu menjaga keutuhan umat, menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil alamin, serta membawa perubahan positif bagi dunia.

Maka dari itu, sudah saatnya kita bersama-sama bergerak untuk menjadikan Aswaja sebagai fondasi utama dalam membangun karakter Gen Z yang unggul dan berdaya saing.


*Guru atau Pengajar

 

 

 

Berita Terkait

MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren
Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir
Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP
Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik
Peran Perempuan untuk Masa Depan Peradaban
Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat
Desa Tangguh Bencana: Membangun Harmoni dengan Bencana
Madas di Persimpangan Etika: Darsam dan Batas Keberanian yang Hilang

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:50 WIB

MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:31 WIB

Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:44 WIB

Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:40 WIB

Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:12 WIB

Peran Perempuan untuk Masa Depan Peradaban

Berita Terbaru

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung, Erma Susanti (Foto: Ist)

Politik

PDIP Tulungagung Buka Pintu Lebar bagi Gen Z

Jumat, 6 Feb 2026 - 23:00 WIB

(for NOLESA.COM)

Opini

MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren

Kamis, 5 Feb 2026 - 08:50 WIB

Pemkab-Pengadilan Agama Bangkalan teken MoU (Foto: Ist)

Daerah

Pemkab-Pengadilan Agama Bangkalan Teken MoU

Kamis, 5 Feb 2026 - 08:35 WIB