Menjaga Bumi dari Pesantren

Moh. Aqil

Sabtu, 20 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini, NOLESA.com – Berbicara sampah tentunya sudah bukan hal yang asing ditelinga kita. Sampah sudah menjadi isu besar saat ini. Hingga saat ini pula belum menemukan solusi yang pas untuk mengatasinya.

Biasanya sampah di sebuah desa atau kota berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Kebanyakan sampah ketika ada di TPA hanya ditumpuk tanpa ada tindak lanjut. Pertanyaannya, sampai di sana apakah sampah di TPA akan lenyap dengan sendirinya?, jawabanya tentu tidak.

Kita akan menemukan sampah di sana ditumpuk dan ditumpuk hingga menjadi gunung sampah. Ketika musim penghujan akan mengeluarkan bau tak sedap. Bila kemarau seperti sekarang sampah kering kemudian dibakar. Walau sebenarnya dibakar bukan sebuah solusi yang baik. Kita ketahui bersama bahwa sampah akan berdampak buruk bagi bumi utamanya lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun terkadang kita kurang sadar akan dampak sampah bagi bumi utamanya lingkungan tempat kita tinggal. Setiap hari bisa dibilang tidak dapat menghindar dari yang namanya sampah. Apalagi ditambah dengan kemajuan teknologi seperti sekarang hampir semua produk makanan sudah berbentuk kemasan. Baik kemasan plastik atau bentuk kemasan lain.

Indonesia adalah negara penghasil sampah terbesar ke-5 di dunia pada 2020. Hal ini tercatat dalam laporan Bank Dunia yang bertajuk The Atlas of Sustainable Development Goals 2023. Dilansir dari Databoks. Hal ini bukan sebuah prestasi yang dapat di banggakan. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus betul sadar tentang masalah sampah. Dan turut andil dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Baca Juga :  Menghadapi Ujian Hidup Bersama Al-Qur'an dan Filosofi Teras

Tips untuk menangani sampah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita yaitu ”Reduce, Reuse, Recycle” “Mengurangi sampah”, “Menggunakan ulang sampah ” dan “Mendaur ulang sampah”.

Tips inilah yang sebenarnya bisa dilakukan, namun terkadang kita kurang sadar.

Ada sebuah solusi yang bisa saya tawarkan tidak jauh berbeda dengan tips di atas kepada para pembaca yaitu pengelolahan sampah mandiri milik salah satu pondok pesantren di Madura. Lebih tepatnya di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, Guluk-Guluk.

Beberapa waktu lalu viral di media sosial (medsos). Tentang pengelolaan sampah mandiri. dan bisa dicontoh utamanya untuk pondok pesantren diseluruh Indonesia.

Pondok pesantren tentunya salah satu penyumbang sampah terbanyak di Indonesia. Dapat diketahui bersama bahwa dalam pondok pesantren terdiri dari banyak santri dan tidak dielakkan sampah yang dihasilkan juga banyak.

Namun, Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa itu bisa mengelolah sampah seluruh santri secara mandiri. yang mana jumlah santri putra dan putri sekitaran 2.500 lebih. Tapi bisa mengelolah sampahnya secara mandiri.

Baca Juga :  Thriftting: Gaya Hidup Hemat atau Konsumtif?

Tempat pengelola sampah secara mandiri yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa diberi nama dengan laboratarium sampah Unit Pelasana Teknis (UPT) Jatian.

Lumrahnya di sebut UPT Jatian. UPT Jatian berdiri awal maret 2023 kemarin. Pada tanggal 09 Agustus kemarin, UPT Jatian diresmikan langsung oleh KH. Ma’ruf Amin Wakil Presiden Republik Indonesia.

UPT Jatian menjadi tempat pengelolaan sampah akhir di Lubangsa. Adapun alat yang digunakan oleh petugas selama mengelola sampah, sangat serba sederhana dari konveyor yang masih manual, memilah menggunakan tangan dan pengepresan sampah dilakukan di rumah pohon.

Hingga pembuatan paving. Kalau pembaca pernah mendengar Desa Panggungharjo, di sana mengelolah sampah secara mandiri menggunakan tenaga mesin tapi di Lubangsa menggunakan tenaga manusia.

Sebelum UPT Jatian berdiri. Pengasuh mengutus langsung 5 santri putra putri untuk belajar pengelolahan sampah di Panggungharjo Kapanewon Sewon Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, selama satu bulan lamanya.

Tujuanya tidak lain untuk bagaimana kemudian ilmu yang didapat disana bisa diaplikasikan di pondok. Hal ini adalah bentuk tindak lanjut dari apa yang telah diperoleh oleh Pondok Pesanten Annuqayah. Pesantren pertama di Indonesia yang mendapatkan Penghargaan Kalpataru dari pemerintah, tepatnya di masa kepemimpinan KH. M. Tsabit Khazin dan KH Abd. Basith Abdullah Sajjad, pada tahun 1981.

Baca Juga :  Generasi Muda dan Ekonomi Hijau

Penghargaan inilah yang membawa pondok Pesantren Annuqayah termasuk dalam 3 pondok pesantren berwawasan lingkungan di Indonesia dikutip dari NU Online. Penghargaan inilah yang harus tetap kita pertahankan.

Dengan hal ini dapat kita ketahui bahwa pondok bukan hanya tempat santri mengaji dan lainnya, namun juga berperan dalam menjaga bumi. Lingkungan yang baik akan membawa dampak baik dan sebaliknya lingkungan buruk akan membawa dampak buruk. Dan begitulah penaganan dan pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Annqayah Daerah Lubangsa.

Sudah ada beberapa pondok pesantren di Indonesia sudah berkunjung ke UPT Jatian salah satunya adalah Pondok Pesantren Bayt Al-hikmah Pasuruan. Bukan hanya itu, kemarin UPT Jatian juga kedatangan tamu dari mancanegara yaitu dari Amerika dan Inggris. Mereka ke Annuqayah tidak lain ingin belajar pengelolaan sampah di UPT Jatian. dan tertarik kepada produk yang dihasilkan.

Jika dari para pembaca ada yang masih penasaran tentang pengelolahan sampah mandiri di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa. Bisa langsung berkunjung.

 

 

 

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:58 WIB

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:44 WIB

Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Berita Terbaru