Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial

Redaksi Nolesa

Kamis, 13 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cover Buku Gadis yang Menulis Surat Setiap Malam

Cover Buku Gadis yang Menulis Surat Setiap Malam

Judul: Gadis yang Menulis Surat Setiap Malam

Penulis: Arafat Nur

Penerbit: BASABASI

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun Terbit: Agustus 2021

Tebal: 172 halaman

ISBN: 978-623-305-230-6

Peresensi : Suci Ayu Latifah (Dosen STKIP PGRI Ponorogo)


Membaca karya-karya pengarang Indonesia, Arafat Nur seperti membaca potongan-potongan sejarah tahun 1990-an yang dikemas berbahasa sastra. Estetika narasi, gaya dan teknik bercerita menimbulkan rasa haus untuk membaca kisah per bab-babnya. Dituntun oleh tokoh utama yang beragam, pada novel Gadis yang Menulis Surat Setiap Malam ini, pembaca sastra diajak mengikuti perjalanan hidup gadis usia 19 tahun, yang di awali kisah hidupnya usia 8 tahun.

Gadis Meutia menceritakan kisah hidupnya yang amat tragis, menyedihkan, dan menegangkan. Novel ini menggunakan alur maju-mundur, penceritaan dibuka melalui teks dialogis kehidupan Meutia yang saat itu tinggal bersama bibinya, Makcik Munah di Lamlhok. Mulanya tokoh tinggal di Pasirawa, sebuah kampung yang meninggalkan luka mendalam sebab peristiwa pemberontakan serdadu pemerintah.

Tinggalnya Meutia bersama bibinya merupakan suatu kehidupan yang tidak pernah diduga. Meutia ditinggal mati kedua orang tuanya karena dibunuh serdadu. Kakaknya, Kasah disandera dan menjadi mata-mata serdadu. Pada waktu itu keberuntungan didapati Meutia, ia diselamatkan oleh Paman Leman saat berlari dari kejaran serdadu. Kedua orang tua Meutia dibunuh di rumahnya lantaran ayahnya dicurigai antek pejuang Aceh. Tahun 1990-an siapa pun rakyat Aceh yang bersekongkol dengan pejuang Aceh dan mengkhianati pemerintah akan disiksa dan dibunuh.

… Mereka mencekik, memukul, menusuk, menikam, dan menembak siapa saja yang tidak mereka sukai. Sehingga korban pembunuhan dan pembantaian lebih banyak hatuh dari rakyet biasa yang tidak ada kaitannya dengan pemberontak (hlm. 26).

Baca Juga :  Narasi Al-Qur'an dan Hermeneutika Sufi : Interpretasi Rumi terhadap Tokoh Pharaoh

Kehidupan di tahun 1990-an diceritakan Meutia. Tepatnya, peristiwa tersebut pada tahun 1998. Setiap hari Meutia menjumpai orang mati karena dibunuh. Tidak saja pejuang Aceh tetapi mereka rakyat jelata yang ditembak serdadu. Ratusan ribu orang mati, baik jasatnya ditemukan di jalanan, pasar, pertokoan, semak-semak, sungai, rawa-rawa, rumah, dan di berbagai tempat. Setiap pulang sekolah Meutia melihat jasat mereka. Para perempuan diperkosa dan rumahnya dibakar.

Peristiwa yang dilihatnya sejak umur delapan tahun itu berdampak pada psikologi Meutia. Gejolak psikologi Meutia terguncang karena peristiwa-peristiwa yang tidak pernah dibayangkan. Keindahan hanyalah imaji, cita-cita dan masa depan hanyalah ilusi. Sebelum Meutia tinggal bersama bibinya, tokoh tiga tahun di dayah. Di sana Meutia berusaha melupakan peristiwa kematian dengan belajar agama di sebuah pondok pesantren. Sebab tidak memiliki biaya, akhirnya Meutia diantar Paman Leman tinggal bersama bibinya.

Meutia dalam teks novel disuguhkan gadis kuat, berperasaan, dan pendiam (sebab trauma). Tokoh berusaha meneguhkan diri menerima semua garis kehidupannya. Di sana Meutia tinggal bersama Makcik Munah dan Nurul. Suami Makcik Munah yang bernama Paman Mail telah mati saat melaut. Insiden tersebut dialami oleh rombongan melaut sekitar sembilan orang. Jasat mereka tidak ditemukan. Semenjak itu, Makcik Munah tidak mau makan ikan laut, kecuali udang dan gurita. Kedatangan Meutia tidak jauh dari peristiwa kematian pamannya. Meutia tidak mengetahui hal itu, sehingga seolah-olah kedatangannya hanya menambah beban bibinya.

Makcik Munah memiliki dua anak bernama Lailan dan Nurul. Makcik Munah kini menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak meninggalnya Paman Mail perekonomian keluarga terguncang. Makcik Munah tidak lagi menjemur ikan-ikan kecil dari laut. Lailan tidak memiliki keberanian melaut karena peristiwa yang menimpa ayahnya. Akhirnya, tokoh membuka warung. Warung telah berdiri. Makcik Munah menjual makanan, minuman, dan beberapa gorengan.

Baca Juga :  Erotisme Penyadaran

Belum lama mendirikan warung, kampung terkena musibah banjir lantaran guyuran hujan yang lebat. Semua masyarakat berpindah di pengungsian. Makcik Munah dan keluarga juga mengungsi di sana. Ketika musibah mulai membaik, beberapa orang mulai kembali ke tempat tinggalnya. Makcik Munah sekeluarga juga demikian. Dibantu oleh Teungku Muaz, Makcik Munah kembali membuka warung. Teungku Muaz adalah tokoh yang paling berjasa atas pendirian warung tersebut. Teungku Muaz adalah pendatang di Lamlhok. Tokoh menjadi ustad muda yang mengajar mengaji di balai pengajian.

Sebelumnya, Meutia adalah pribadi pendiam, intovert, dan menutup segala hal berhubungan dengan pribadinya. Meutia banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, di dalam kamar melakukan kegiatan menulis. Meutia diceritakan menulis surat dan dikirimkan ke Tuhan. Melalui menulis surat, Meutia berusaha sadar akan eksitensi dirinya. Menulis menjadi terapi diri yang dilakukan Meutia. Dalam lembaran-lembaran surat itu Meutia berkisah tentang kehidupannya yang menyedihkan. Keluarganya, pendidikannya, cita-citanya hingga masa depannya yang indah. Setelah menulis surat-surat tersebut, Meutia pergi ke sebuah bukit yang tinggi. Di sanalah surat itu seolah-olah dikirim ke Tuhan.

Peristiwa yang beruntut membuat tekanan psikologi Meutia. Ketakutan, kecemasan, kegelisahan dan perasaan-perasaan negatif membayangi kehidupan Meutia. Sebab, Ia adalah buronan yang dicari serdadu untuk dibunuh. Sebab itulah Meutia tidak mau keluar rumah. Meutia takut apabila bertemu dengan orang asing. Ia akan mengira bahwa mereka adalah serdadu. Tidak saja tentang kematian yang diceritakan Meutia dalam suratnya. Kebangkitan atas kesadaran diri Meutia adalah bentuk dari mendalami esensi sebagai individu.

Baca Juga :  Inspirasi Kehidupan dari Dalai Lama dan Nelson Mandela

Meutia berusaha menyibukkan diri untuk melupakan peristiwa-peristiwa yang pernah dialami. Cara Meutia menyibukkan diri adalah dengan cara menulis surat, mengikuti kegiatan di balai pengajian, dan membantu Makcik Munah. Meutia juga diceritakan sempat mencari pekerjaan bersama Nurul saat perekonomian keluarga benar-benar miris. Mereka bekerja sebagai pembuat emping melinjo. Pekerjaan tersebut Meutia lakoni demi membantu keluarga Makcik Munah. Meutia tidak mau menjadi beban keluarga Makcik Munah.

Beruntung sebab kesibukan dan pertemuan dengan Teungku Muaz membuat kejiwaan Meutia perlahan memulih dan membaik. Kini Meutia mau bersosial dengan masyarakat. Meutia pula mau menjalin komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Melalui novel ini, pengarang menunjukkan dampak peristiwa bagi kejiwaan seorang tokoh. Kemudian, pengarang juga menunjukkan esensi manusia melalui keberadaannya di lingkungan sekitarnya. Pemahaman terhadap makna hidup mendorong tokoh untuk bangkit. Tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan belenggu masa lalu. Meutia telah menerima kehidupannya dengan ikhlas dan perubahan terhadap dirinya.

Gadis itu mulai banyak melakukan ibadah, selain salat sunat jugazikir. Itu semakin membuatnya tenang (hlm. 76).

Lekat dengan peristiwa sejarah, cara berdamai dengan masa lalu, dan kebangkitan hidup tergarap dalam novel tersebut. Pembaca diajak ke lorong-lorong yang dipenuhi halusinasi tentang masa depan. Kebangkitan tokoh Meutia, menandakan penerimaan hidup dengan cara kembali pada kehidupan nyata. Terapi menulis, benar membuat tokoh berangsur-angsur mengikhlaskan semuanya. Karenanya, novel ini layak untuk dibaca dan diteliti dari segi psikologi dan eksistensialisme. Meutia, siapa yang ingin sepertinya, tentu tidak ada. Siapa pula yang kuat menjalani hidup sepertinya, entahlah.

Berita Terkait

Tuhan, Manusia, dan Alam
Emosi dan Kehilangan: Interpretasi dalam Seribu Wajah Ayah
Bermekaran Bersama Bunga Tulip dengan Puisi Surajiya
Keperibadian Tan Malaka dalam Kacamata Generatif Bourdieu
Pengembangan Diri dengan Upaya Merawat Emosi
Melihat Proses Politik Indonesia Pasca Reformasi 1998
Kisah Klasik Aristoteles tentang Seni Berbicara
Misteri Mitos Madura dalam Cerita Pendek

Berita Terkait

Kamis, 13 Juni 2024 - 00:07 WIB

Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial

Minggu, 19 Mei 2024 - 05:53 WIB

Tuhan, Manusia, dan Alam

Rabu, 15 Mei 2024 - 10:39 WIB

Emosi dan Kehilangan: Interpretasi dalam Seribu Wajah Ayah

Senin, 13 Mei 2024 - 07:30 WIB

Bermekaran Bersama Bunga Tulip dengan Puisi Surajiya

Kamis, 9 November 2023 - 06:22 WIB

Keperibadian Tan Malaka dalam Kacamata Generatif Bourdieu

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 09:25 WIB

Pengembangan Diri dengan Upaya Merawat Emosi

Rabu, 9 Agustus 2023 - 17:50 WIB

Melihat Proses Politik Indonesia Pasca Reformasi 1998

Senin, 8 Mei 2023 - 01:50 WIB

Kisah Klasik Aristoteles tentang Seni Berbicara

Berita Terbaru