Negeri Paling Aneh

Redaksi Nolesa

Sabtu, 1 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Shinta Faradina Shelmi

(Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta)

Sastra merupakan salah satu media ekspresi yang kaya akan keindahan kata, imajinasi, dan emosi. Estetika dalam karya sastra memiliki cakupan pemahaman keindahan yang sangat luas. Dengan estetika, pembaca dapat memahami kreativitas penulis dalam mengembangkan tema, kecermatan dalam pemilihan diksi, membuat narasi komplek yang dapat memberikan gambaran nyata, dan elemen lain yang menjadikan karya sastra memiliki nilai estetika. Selain itu, estetika membantu pembaca dalam mengapresiasi nilai artistik yang terkandung dalam karya sastra. Penilaian estetika dalam karya sastra bersifat subjrktif, tetapi terdapat empat prinsip yang dijadikan patokan untuk menilai estetika karya sastra. Prinsip estetika dalam karya sastra dibagi menjadi empat, yaitu keutuhan (unity), keseimbangan (balance), penonjolan (style), dan kebaruan (novelty). Salah satu genre sastra yang dapat dikaji menggunakan empat aspek tersebut adalah puisi. Puisi merupakan karya sastra yang erat kaitannya dengan kata-kata penuh warna dan makna, oleh karena itu unsur keindahan di dalam puisi sangat kental. Penulis ingin mengkaji estetika puisi “Di Negerimu” dari buku antologi puisi Negeri Daging karya Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan Gus Mus. Gus Mus merupakan seorang tokoh Islam asal Rembang, Jawa Tengah yang telah menulis beberapa buku antologi puisi, seperti Ohoi, Pahlawan dan Tikus, Tadarus, dan lain sebagainya. Gus Mus juga menulis karya lain selain puisi seperti Nyamuk Yang Perkasa (cerita anak), Mencari Bening Mata Air: Renungan, dan masih banyak lagi. Buku antologi puisi Negeri Daging diterbitkan oleh Diva Press pada tanggal 14 Oktober 2020, memiliki 96 halaman dengan sampul wanita menari di depan banyak laki-laki yang seperti mengenakan pakaian para ulama.

Puisi “Di Negerimu” berisi sindiran kepada orang-orang penting yang hanya peduli dengan diri mereka sendiri. Banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkan, termasuk suap-menyuap dan tindakan kriminal lainnya. Keserakahan dan kemunafikan semakin menjalar, mata dan telinga tertutup oleh harta dan kekuasaan. Masyarakat kecil semakin tertindas oleh kepentingan kaum berambisi untuk dirinya sendiri. Jeritan masyarakat kecil yang teraniaya tidak lagi dapat didengar, kesejahteraan masyarakat kecil dikesampingkan. Di negeri ini, terdapat banyak orang-orang penting terutama di bidang ekonomi yang berasal dari luar negeri, sedangkan orang-orang negeri ini hanya menjadi bawahan mereka. Bahkan, tidak jarang masyarakat negeri ini yang memilih bekerja di luar negeri dengan alasan gaji yang lebih besar. Kebenaran dan keadilan di negeri ini menjadi suatu hal yang perlu disoroti penegakannya. Perbaikan negeri ini dapat dimulai dari diri sendiri, salah satunya melalui pendidikan. Jangan pernah menunggu orang lain merubah keadaan, tapi berusahalah ikut andil dalam perubahan.

Prinsip estetika yang pertama adalah keutuhan (unity), keutuhan di dalam puisi “Di Negerimu” saling berkaitan. Tema yang diangkat dalam puisi ini, yaitu kritik sosial kenegaraan yang didukung dengan pemilihan diksi dan penggunaan majas. Contoh

penggunaan majas pada puisi ini yaitu majas hiperbola pada //Di negerimu/angin pun menjadi badai/ dan majas simile pada /Bagai daun-daun dimakan ulat, beruntuhan menggigil//. Penggunaan majas dalam puisi dapat menambah warna dan kekuatan ekspresif puisi yang membantu penyampaian pesan secara mendalam kepada pembaca. Dapat dilihat dari kutipan //Inilah negeri paling aneh/dimana keserakahan dimapankan/kekuasaan dikerucutkan/kemunafikan dibudayakan/telinga-telinga disumbat harta dan martabat/mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman.//. Pemilihan diksi pada baik tersebut padu dengan tema yang diangkat tersebut bercerita kalau negeri ini merupakan negeri yang aneh. Aneh yang dimaksud adalah keadaan dimana keserakahan seakan diprioritaskan, semua orang berlomba-lomba menjadi penguasa, dan kemunafikan bukan lagi menjadi hal tabu melainkan sudah menjamur. Suap-menyuap sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan. Nada yang didayakan dengan tepat dapat mempengaruhi bangkitnya suasana dan imaji pembaca. Nada miris yang digunakan dalam puisi “Di Negerimu” diharapkan mampu menimbulkan suasana miris dan prihatin.

Baca Juga :  Cerminan Cinta yang Paling Tidak Sederhana

Prinsip kedua adalah keseimbangan (balance) yang terbagi menjadi dua, yaitu simetris dan asimetris. Unsur simetris pada puisi “Di Negerimu” dapat dilihat dari tema kritik sosial kenegaraan yang diangkat. Puisi ini terdiri dari sepuluh bait yang berisi kritikan terhadap orang yang serakah dan gila kekuasaan tanpa mempedulikan orang sekitar. Pada bait //Di negerimu/Kebenaran ditakhlukkan/oleh rasa takut dan ambisi/Keadilan ditundukkan/oleh kekuasaan dan kepentingan/Nurani dilumpuhkan/oleh nafsu dan angkara.// tersirat sindiran atas ungkapan perasaan penyair. Di negeri ini, kebenaran dan keadilan bukan lagi menjadi pemenang. Pihak yang memiliki kekuasaanlah yang dapat memenangkan kepentingan pribadinya.

Ketiga, prinsip penonjolan (style), puisi “Di Negerimu” menggunakan bahasa yang indah dan puitis. Penyair memilih diksi yang sederhana dan terkesan tidak berlebihan namun dapat mewakili perasaan penyair. Penggunaan majas yang sesuai dan tidak berlebihan menambah keindahan puisi ini. Pada bait //Di negerimu/Kini telah menyingsing fajar peradaban baru/Jangan tunggu, ambil posisimu!// penyair menggunakan bahasa yang sederhana namun apabila ditelaah lebih lanjut memiliki makna yang luas. Penggunaan bahasa sederhana memudahkan pembaca dalam menafsirkan makna yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya. Meskipun puisi bersifat multitafsir, namun terdapat benang merah yang menjadi patokan penafsiran makna oleh pembaca. Pada bait tersebut, setiap barisnya diakhiri huruf vokal “u” yang memperindah bahasa puisi terlebih jika dilisankan.

Baca Juga :  Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Prinsip yang terakhir adalah kebaruan (novelty), kebaruan di dalam karya sastra tidak harus kebaruan yang benar-benar tampak. Meskipun banyak penyair yang menulis puisi dengan tema yang sama tetapi tidak bisa sama persis, dengan kata lain setiap penyair punya gayanya tersendiri dalam menulis. Bahkan seorang penyair yang sama tidak bisa menulis sebuah karya yang persis sama. Puisi “Di Negerimu” dan puisi “Negeri Haha Hihi” ditulis oleh penyair dan tema yang sama namun kedua puisi itu berbeda.

Sesuai dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa puisi “Di Negerimu” memiliki nilai estetika. Nilai estetika tersebut tertuang dalam penggunaan bahasa yang sederhana tapi memiliki makna yang mendalam, pemilihan diksi yang tepat, dan penggunaan majas yang tidak berlebihan. Empat prinsip estetika di dalam puisi ini yang terdiri dari keutuhan (unity), keseimbangan (balance), penonjolan (style), dan kebaruan (novelty)

terpenuhi. Dengan demikian, puisi “Di Negerimu” merupakan puisi atau karya sastra yang memiliki nilai estetika.

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya
Melodi Cinta Tak Terucap
Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru

Sujono (Foto: dokumen pribadi)

Mimbar

Kenapa Kita Yakin Bahwa Anak-anak Itu Memberi Kebahagiaan?

Jumat, 12 Jul 2024 - 08:15 WIB

Mahasiswa Unija Sumenep gelar talkshow bahaya dan dampak kekerasan seksual, Kamis 11/7/2024 (Foto: istimewa)

Pendidikan

Aksi Mahasiswa Sumenep Antisipasi Kekerasan Seksual

Jumat, 12 Jul 2024 - 07:00 WIB

Mimbar

Prabowo-Gibran dan PR Menata Ulang Indonesia

Kamis, 11 Jul 2024 - 21:14 WIB