Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Redaksi Nolesa

Jumat, 5 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aldi Saputra (Foto: dokumen pribadi)

Aldi Saputra (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Aldi Saputra

(Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta)


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata penyiksaan adalah proses, cara, perbuatan menyiksa. Penyiksaan berasal dari kata dasar siksa. Penyiksaan umumnya dilakukan manusia terhadap seseorang dalam rangka untuk mendapatkan informasi penting yang informan miliki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyiksaan yang terjadi kadang kala tidak selalu dilakukan oleh manusia terhadap manusia lain, namun penyiksaan juga kerap dilakukan terhadap hewan dengan tujuan tertentu atau demi kesenangan semata.

Penyiksaan terhadap hewan adalah perlakuan yang tidak manusiawi atau kejam yang menyebabkan penderitaan atau cedera fisik dan emosional pada hewan. Penyiksaan yang dilakukan terhadap hewan bisa dilakukan dengan berbagai tindakan-tindakan keji seperti penganiayaan, pemukulan, kelaparan, dehidrasi, penangkapan paksa, dan lain sebagainya yang disengaja.

Praktik yang dilakukan ini tentunya mengancam kesejahteraan dan hak hidup hewan. Penyiksaan terhadap hewan tidak hanya tidak etis, tetapi juga melanggar hukum di banyak negara, salah satunya Indonesia. Pasal terkait penyiksaan terhadap hewan tertuang dalam pasal 302 dan pasal 540 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selain negara, banyak organisasi di berbagai negara yang berjuang untuk melindungi hewan dari perlakuan yang kejam dan menyediakan sanksi bagi pelaku penyiksaan terhadap hewan.

Salah satu penyair, yaitu Ahmad Tohari membuat sebuah cerpen yang didalamnya tercermin bentuk penganiayaan terhadap hewan yang terjadi pada lingkungan masyarakat dengan mata pencaharian sebagai petani. Hewan yang mengalami penyiksaan dalam cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” karya Ahmad Tohari ini adalah hewan kerbau yang biasanya digunakan oleh para petani untuk membajak sawah sebelum ditanami benih padi. Dengan karya sastra berupa cerpen, Ahmad Tohari secara tidak langsung ikut serta untuk menolak penganiayaan terhadap hewan. Citraan demi citraan digambarkan dalam cerpen ini agar pembaca bisa merasakan penderitaan dan dampak yang akan dialami hewan ketika mengalami penyiksaan oleh manusia.

Baca Juga :  Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Dalam cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-Kedip”, Ahmad Tohari menggunakan banyak sekali kata-kata atau metafora yang mewakili bentuk penyiksaan terhadap hewan. Seperti, rubuh tak berdaya, memberontak, meronta, darah mengucur, memar, luka dan masih banyak lagi. Kata-kata yang ditampilkan penulis. Penulis menggunakan kata dan frasa tersebut sesuai dengan keadaan yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang banyak terjadi penyiksaan terhadap hewan.

/Benar-Benar rubuh tak berdaya/ frasa tersebut mengartikan bahwa objek yang mengalami penganiayaan tidak memiliki energi sama sekali untuk memberikan perlawanan. “Rubuh tak berdaya” mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi energi maupun semangat yang tertinggal pada diri korban dan pasrah terhadap keadaan adalah salah satu jalan yang mau tidak mau harus dilewati. Pada penganiayaan hewan di luar cerpen, seperti kucing, anjing atau hewan peliharaan lainnya, terkadang menyiksa hewan akan melakukan berbagai cara agar hewan itu tidak berdaya hanya untuk memuaskan keinginannya saja tanpa memperhatikan kesejahteraan hewan.

/darah mengucur/ /luka/ kadang kala hewan mengalami penyiksaan harus mengalami luka dan membuat darah mengucur dari tubuh mereka. Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Darah menjadi satu bagian yang mendominasi tubuh makhluk hidup dan memiliki peran penting. Namun, penyiksaan yang dilakukan membuat elemen terpenting dalam makhluk hidup harus keluar sia-sia dengan rasa sakit yang menyertainya.

Baca Juga :  Menembus Kedalaman Makna Cinta

/memberontak/, /meronta/ kata ini merupakan simbol dari rasa tidak nyaman yang dialami siapa saja termasuk manusia dan hewan. Ketika mengalami Tindakan yang mengenakan akan membuat mereka memberontak dan meronta agar terbebas dari jeratan yang menyakitkan. Kata tersebut sangat melukiskan penderitaan yang dialami oleh hewan. Memberontak dan meronta adalah sifat alamiah yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup.

Penyiksaan sebagai bentuk kejahatan terhadap makhluk hidup. Menyiksa merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia, tidak manusiawi, dan melanggar hukum di hampir semua yurisdiksi. HAM mengatur segala bentuk hak yang dimiliki manusia salah satunya hak untuk hidup. Sedangkan menyiksa adalah bentuk penyimpangan terhadap HAM itu sendiri. Hak asasi tidak harus tentang manusia saja, namun harus meliputi hak hidup setiap makhluk yang bernyawa termasuk hewan. Maka dari itu, negara melindungi hak dari hewan dan memberikan sanksi bagi setiap manusia yang melakukan penyiksaan terhadap hewan.

Ahmad Tohari memberikan pandangan terhadap kita mengenai penyiksaan terhadap hewan melalui cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-Kedip”. Membuka mata kita mengenai pentingnya menjaga hak hidup setiap makhluk yang bernyawa, yang dalam cerpen ini adalah kerbau (Cepon) yang mengalami penyiksaan oleh Musgebuk yang merupakan seorang penjinak hewan. Kehidupan Ahmad Tohari yang dekat dengan kejadian-kejadian itu, mungkin menjadi cikal bakal pembuatan cerpen ini. Kepedulian terhadap hewan-hewan yang mengalami penyiksaan khususnya kerbau yang disiksa demi untuk membajak sawah. Lingkungan menjadi pendorong terbentuknya ide kreatif sekaligus bermakna.

Baca Juga :  Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Dalam cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-Kedip” Karya Ahmad Tohari. Fenomena penyiksaan terhadap hewan hadir dalam metafora-metafora yang memang menggambarkan bentuk penyiksaan itu sendiri, seperti (a) rasa tidak nyaman yang berakhir pada adanya sikap meronta dan memberontak (b) hasil dari penyiksaan yang amat menyedihkan. Penyiksaan terhadap hewan sampai saat ini memang menjadi masalah yang perlu perhatian. Banyak manusia-manusia yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan demi untuk memenuhi hasrat dirinya sendiri serta berlandaskan tujuan yang tidak jelas. Namun, disisi lain pemerintah negara dan organisasi masyarakat telah bersatu padu untuk meminimalisir penganiayaan atau penyiksaan terhadap hewan.  Hewan adalah makhluk hidup yang juga memiliki hak untuk hidup dan sejahtera. Melalui cerpennya Ahmad Tohari secara tidak langsung ingin mengajak pembaca untuk bisa memahami hewan dan tidak melakukan penyiksaan terhadap hewan.”Kualitas seorang manusia dapat diukur dari bagaimana dia memperlakukan hewan yang lebih rendah darinya.” – Mahatma Gandhi.

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya
Melodi Cinta Tak Terucap
Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan
Ekspresi Jiwa Manusia dalam Amuk Karya Sutardji Calzoum Bachri

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru