Sayup-Sayup Rindu
Tadi aku membaca buku bersama senja
yang mengisahkan wanita paruh baya
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
dengan senyum yang menelan rindu
pada kekasih yang ia cinta
aku berhenti sejenak, dan berpikir
dalam diam aku menemukan diriku
Malam tiba_
Malam rindu yang sepekat kopimu
terurai mesra dalam denyut nadiku
apakah selembar bunga
atau sebongkah kata-kata
yang memajnunkan cinta pada dinding senja
membawamu menari pada rinduku
dan aku gagal menerbitkan syair di bibirmu
aku akan kembali datang
ketika petang telah pulang
pada malam yang menulis silam
mengalunkan puisi pada bibir rindu
hingga merdu merayap cinta di matamu
UMMAH (1)
senyummu tak pernah pudar tetap berseri bagai lentera di malam tanpa purnama Kini aku mengalir berderai bagai hilir Menikmati semesta yang sederhana
Aku adalah anak yang lahir dari pena hatimu yang menitikkan air mata, kini aku bernaung di bawah senyuman manismu yang menjadi lentera bagiku.
UMMAH (2)
Setiap abjadmu adalah nurani bagiku
berhiaskan rasa yang menerangi setiap kenangan
entah dengan apa aku harus membalas jasamu Wahai bidadari yang menjadi ibu untukku Petilasan sampai akhir hayatku
Maafkan anakmu ummah
yang selalu ego dan membuatmu kecewa
namun, aku tetap berharap kasih sayangmu sepanjang masa.
Sindenan Jiwa Pertiwi
Kita dipeluk oleh ibu semesta
dengan kelembutan kasih yang berupa bumi darinya kita terbit, lalu terbenam pada pelukannya. suatu ketika waktu merayu pada asah
namun waktu tenggelam pada panorama
dipeluk penuh cinta oleh sang ibunda dengan mata berkaca-kaca
sang ibunda semesta kini telah menua matanya sudah sayu terurai waktu darinya telah lahir banyak generasi yang memetik bunga dalam tangisnya hingga akhirnya sang ibunda semesta, akan kembali memeluk kita
dalam helaian gaun yang dikenakannya
sembari berkata “kemarilah, kembali pada pelukan sepi”
*) Mahasiswa Prodi PBSI UPI Sumenep









