Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Redaksi Nolesa

Jumat, 12 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Sayup-Sayup Rindu

Tadi aku membaca buku bersama senja

yang mengisahkan wanita paruh baya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

dengan senyum yang menelan rindu

pada kekasih yang ia cinta

aku berhenti sejenak, dan berpikir

dalam diam aku menemukan diriku

Malam tiba_

Malam rindu yang sepekat kopimu

terurai mesra dalam denyut nadiku

apakah selembar bunga

atau sebongkah kata-kata

yang memajnunkan cinta pada dinding senja

membawamu menari pada rinduku

dan aku gagal menerbitkan syair di bibirmu

Baca Juga :  Puisi-Puisi Madno Wanakuncoro

aku akan kembali datang

ketika petang telah pulang

pada malam yang menulis silam

mengalunkan puisi pada bibir rindu

hingga merdu merayap cinta di matamu

UMMAH (1)

senyummu tak pernah pudar tetap berseri bagai lentera di malam tanpa purnama Kini aku mengalir berderai bagai hilir Menikmati semesta yang sederhana

Aku adalah anak yang lahir dari pena hatimu yang menitikkan air mata, kini aku bernaung di bawah senyuman manismu yang menjadi lentera bagiku.

Baca Juga :  Selepas Tapa Brata Ibu Para Asura - Puisi Moehammad Abdoe

UMMAH (2)

Setiap abjadmu adalah nurani bagiku

berhiaskan rasa yang menerangi setiap kenangan

entah dengan apa aku harus membalas jasamu Wahai bidadari yang menjadi ibu untukku Petilasan sampai akhir hayatku

Maafkan anakmu ummah

yang selalu ego dan membuatmu kecewa

namun, aku tetap berharap kasih sayangmu sepanjang masa.

Sindenan Jiwa Pertiwi

Kita dipeluk oleh ibu semesta

dengan kelembutan kasih yang berupa bumi darinya kita terbit, lalu terbenam pada pelukannya. suatu ketika waktu merayu pada asah

Baca Juga :  Puisi Puisi Nurhidayah Tanjung

namun waktu tenggelam pada panorama

dipeluk penuh cinta oleh sang ibunda dengan mata berkaca-kaca

sang ibunda semesta kini telah menua matanya sudah sayu terurai waktu darinya telah lahir banyak generasi yang memetik bunga dalam tangisnya hingga akhirnya sang ibunda semesta, akan kembali memeluk kita

dalam helaian gaun yang dikenakannya

sembari berkata “kemarilah, kembali pada pelukan sepi”

*) Mahasiswa Prodi PBSI UPI Sumenep

Berita Terkait

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:15 WIB

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:57 WIB

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:38 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:36 WIB

Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Jumat, 12 Jun 2026 - 11:15 WIB

(for NOLESA.COM)

Resensi Buku

Ketika Jelata Angkat Suara

Kamis, 11 Jun 2026 - 01:38 WIB