Puisi-puisi Nihalun Nada

Redaksi Nolesa

Sabtu, 27 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Seorang Santri

Adzan berkumandang

Semua santri berbondong-bondong ikuti hadiran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salam selesai

Diniah mulai

Berlarian mencari sandal yang sudah hilang

Filosofi Santri

Keadaan malam

Ramai dengan hafalan

Canda receh serta kebersamaan

Menjadi perhiasan bintang-bintang

 

Bintang bersinar terang

Tapi persahabatan yang mengajarkan kerlipnya keindahan

Di sini, kami benar- benar dalam pengabdian

Di atas kesenangan serta penderitaan

Maka, pada sepertiga malam

Semoga sujud tak mengambang tinggal harapan

Atau doa-doa yang liar di jalanan

Semoga sarang ini menjadi penerang

Antara masa depan juga kesuksesan

Baca Juga :  Meja Panjang Pak Marito

Sepertiga Malam

Bangunkan aku pada sepertiga malam

Atau kala fajar

Sebab tahajjud masih dalam penitian

Yang akan menjelma selarik istiqamah

Lalu, jadikanlah aku sejarah

 

Sedari tadi

Seakan-akan terjal saling berkompromi

Mendomisili setiap bisiakan

Yang artinya hal ini adalah bujukan setan

Namun mungkin asa telah terlalaikan

Sebab gengaman kuusahakan tak berkadar

Sajak ini sebagai petanda

Bahwa tangan masih kotor dan penuh kerusakan

Kurasa jalanku hanya terlintas sejengkal

Maka, biarkan aku bermesraan dengan tuhan

Seperti keindahan di setiap kenikmatan

Seorang Perempuan

Seorang perempuan menangis di tengah sengit malam

Mencari ketenangan dalam kesunyian

Baca Juga :  Siapakah Santri, Puisi Kurniawan Adityawarna

Berlagu semoga bertemu denyut sabar

Ketika menunggu yang jauh tanpa kabar

Entah, bagaimana dia harus bertahan

Menahan cemas sembari memeluk erat kepercayaan

Dan atas kepergiannya semakin terasa hambar

 

Wajahnya temaram

Ingin kembali bersama, mengukir bintang

Namun gugus rindu bertaburan

Hatinya bak senja dan harapan

Menyimpan luka dalam bercak awan yang merona

Kemudian meninggalkan bekas tanda tanya

Kemana perginya cahaya[?]

Romantis Pada Tuhan

Dalam kelamnya malam

Sebelum lampu-lampu dipadamkan

Sebelum bintang-bintang tak kelihatan

Setelah pena berbentuk tulisan

Setelah kertas sejenak dibumikan

Kami kembali bernostalgia dengan impian

Bernada romantis pada tuhan

Baca Juga :  Puisi-puisi A. Daniel Matin Madura

Menggodanya agar perjuangan menjelma kesuksesan

Maka, pada dzikir serta derap langkah

Jerat yang semula bernanah

Atau karat yangsemula berdarah

Menjadi busur panah

Setajam silet yang baru diasah

Kami kalah

Pada napas-napas pasrah

Kami jerah

Pada kata-kata kalah

*Nihalun Nada, ia berasal dari Sumenep Madura. Sekarang berstatus Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa puisinya seringkali menjadi langganan Media cetak, dan beberapa puisinya sudah banyak yang bukukan. Saat ini, ia bergelut diberbagai organisasi internal kampus salah satunya adalah LPM Arrisalah, dan anggota pusat studi konstitusi dan legislasi (Puskolegis). 

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana
Puisi-puisi Dewis Pramanas

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

KOPRI PC PMII Sumenep menggelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di MA Raudlah Najiyah, Lengkong (Foto: Istimewa)

Daerah

KOPRI Sumenep Kampanyekan Perlindungan Perempuan dan Anak

Rabu, 13 Mei 2026 - 18:59 WIB