Seorang Santri
Adzan berkumandang
Semua santri berbondong-bondong ikuti hadiran
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salam selesai
Diniah mulai
Berlarian mencari sandal yang sudah hilang
Filosofi Santri
Keadaan malam
Ramai dengan hafalan
Canda receh serta kebersamaan
Menjadi perhiasan bintang-bintang
Bintang bersinar terang
Tapi persahabatan yang mengajarkan kerlipnya keindahan
Di sini, kami benar- benar dalam pengabdian
Di atas kesenangan serta penderitaan
Maka, pada sepertiga malam
Semoga sujud tak mengambang tinggal harapan
Atau doa-doa yang liar di jalanan
Semoga sarang ini menjadi penerang
Antara masa depan juga kesuksesan
Sepertiga Malam
Bangunkan aku pada sepertiga malam
Atau kala fajar
Sebab tahajjud masih dalam penitian
Yang akan menjelma selarik istiqamah
Lalu, jadikanlah aku sejarah
Sedari tadi
Seakan-akan terjal saling berkompromi
Mendomisili setiap bisiakan
Yang artinya hal ini adalah bujukan setan
Namun mungkin asa telah terlalaikan
Sebab gengaman kuusahakan tak berkadar
Sajak ini sebagai petanda
Bahwa tangan masih kotor dan penuh kerusakan
Kurasa jalanku hanya terlintas sejengkal
Maka, biarkan aku bermesraan dengan tuhan
Seperti keindahan di setiap kenikmatan
Seorang Perempuan
Seorang perempuan menangis di tengah sengit malam
Mencari ketenangan dalam kesunyian
Berlagu semoga bertemu denyut sabar
Ketika menunggu yang jauh tanpa kabar
Entah, bagaimana dia harus bertahan
Menahan cemas sembari memeluk erat kepercayaan
Dan atas kepergiannya semakin terasa hambar
Wajahnya temaram
Ingin kembali bersama, mengukir bintang
Namun gugus rindu bertaburan
Hatinya bak senja dan harapan
Menyimpan luka dalam bercak awan yang merona
Kemudian meninggalkan bekas tanda tanya
Kemana perginya cahaya[?]
Romantis Pada Tuhan
Dalam kelamnya malam
Sebelum lampu-lampu dipadamkan
Sebelum bintang-bintang tak kelihatan
Setelah pena berbentuk tulisan
Setelah kertas sejenak dibumikan
Kami kembali bernostalgia dengan impian
Bernada romantis pada tuhan
Menggodanya agar perjuangan menjelma kesuksesan
Maka, pada dzikir serta derap langkah
Jerat yang semula bernanah
Atau karat yangsemula berdarah
Menjadi busur panah
Setajam silet yang baru diasah
Kami kalah
Pada napas-napas pasrah
Kami jerah
Pada kata-kata kalah
*Nihalun Nada, ia berasal dari Sumenep Madura. Sekarang berstatus Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa puisinya seringkali menjadi langganan Media cetak, dan beberapa puisinya sudah banyak yang bukukan. Saat ini, ia bergelut diberbagai organisasi internal kampus salah satunya adalah LPM Arrisalah, dan anggota pusat studi konstitusi dan legislasi (Puskolegis).









