Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Yanuar Abdillah Setiadi

Selasa, 31 Januari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Merengkuh Rida dengan Jiwa Yang Murni

Pernahkah kau bertanya pada tumbuh-tumbuhan mengapa ia tak mengambang?

Ia mematuhi Tuhan-Nya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

memegang tanah agar tak runtuh

Seperti prinsip-prinsip manusia yang kadang goyah oleh bingar dunia

Para pemuka agama menggaungkan surga dan neraka

Seakan surga di tangan kanan dan neraka di tangan kirinya

Padahal surga dan neraka bukanlah tujuan

Itu hanya reinkarnasi dari perbuatan baik dan balasan untuk perilaku tercela

Hakikat yang kau cari adalah rida

Yang tak diketahui takarannya oleh spekulasi manusia

Yang tak terjamah oleh tangan-tangan manipulatif

Yang tak tergapai dengan doa-doa semu dalam bibir semata

Rida Tuhan yang sejuk bagikan embun pagi yang menetes pada daun di subuh hari

Tak sembarang manusia menggapainya

Hanya jiwa yang rida dan diridailah yang Ia beri hidayah

Menuntun Jiwa yang tenang pada haribaan Tuhan dengan khidmat dan khusuk. Aaamiin.

Purwokerto, November 2022

 

Khatam

Pejabat yang telah usai masa khidmatnya

Pelajar yang lulus dengan ilmu yang siap diamalkan

Petani yang setia merawat meruwat padi hingga musim panen

Baca Juga :  Puisi-puisi A. Danial Matin-Madura

Nelayan yang pulang menangkap ikan untuk menafkahi keluarganya

Bangsa yang bangun setelah tidur lamanya

Kebebasan berpendapat yang tidak dikekang lagi oleh birokrasi yang kaku

Semua telah selesai

Itulah manifestasi khatam

Seperti Musa yang telah usai menyeberangi Laut merah

Melewatinya dengan petunjuk-Nya yang baik

Petunjuk yang benar

Tidak terpengaruh apa yang mengintai di belakang dan kejutan yang menerka di depan

Lalui saja hingga tugasmu usai dengan kaffah

Sehingga dinyatakan lulus

dalam membaca ayat-ayat kauniyah-Nya

dan siap pada maqom selanjutnya.

Purwokerto, November 2022

Yanuar Abdillah Setiadi

Masihkah Kita Berusaha?

Dunia ini seperti belantara hutan

Bisa membuat siapa saja tersesat ke mana saja

Ke lembah kemunafikan

Ke jurang keegoisan

Ke liang kerakusan

Ke mana saja yang Ia kehendaki

Ada yang langsung menempuh jalan kebenaran-Nya

Ada yang tersesat, lalu ditunjukkan hidayah-Nya

Bermacam-macam

Tapi, masihkah kita berusaha?

Mencari yang terbaik

Karena pencarian tidak akan usai setelah tergapai

Selalu ada tingkatan yang harus dilalui selama menempuh rimba dunia

Hingga kita bersemayam dalam tanah

Maka, sejauh mana usaha kita?

Ingat, petir tidak menyambar ilalang yang rendah

Baca Juga :  Perjalanan Pulang, Puisi-Puisi Hendri Krisdiyanto

Truk tidak akan melintasi gang sempit

Sesuai porsi dan takaran

Itulah yang disebut kapasitas

Yang harus dijalankan insan dengan sepenuh hati.

Purwokerto, November 2022

 

Janganlah Kau Marah, Nak

Ada ribuan hal di luar diri kita

Memicu untuk menyalakan api amarah

Tapi api itu bisa dipadamkan

Sejak dalam tungku di hatimu

Sebelum menjalar ke bagian tubuh lain

Bahkan sebelum menyulut api permusuhan

Yang dapat memutus tapi silaturahmi antar sesama

Setiap diri memiliki percik

Percik amarah, percik nafsu

Tapi, apakah percik itu melumat hati kita?

Sedangkan hati yang menentukan kadar besar kecilnya api

Marah adalah sebuah pilihan

Kau tidak akan membakar dirimu sendiri

Kecuali karena kau luput untuk memadamkannya

Tuhan menyayangi dirimu, jiwamu, ragamu, kesehatan mentalmu, hatimu dan hidupmu

Maka, jagalah api dalam dirimu

Agar kau tak hangus oleh ulahmu sendiri, Nak!

Purwokerto, November 2022

Yanuar Abdillah Setiadi

Menerka Hikmah

Di belahan bumi terburuk sekalipun selalu ada hikmah yang bisa kita petik

Di Kutub, kau tau bahwa hangat adalah nikmat

Di Samudera, kau merindukan daratan yang menebar kebersamaan

Baca Juga :  Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Maluku Utara

Di Angkasa, kau tau bahwa bumi adalah tempat sujud ternyaman

Hikmah itu ikhwal sudut pandang

Selalu ada hikmah di luasnya lautan yang tercemar kemudaratan

Hikmah mengalir dari hulu hingga hilir

Membawa arus damai

Siap membawa kapal kedamaian berlabuh di Samudera dunia

Yang penuh huru-hara tipu daya.

Purwokerto, November 2022

 

Guncangan Menimba Ilmu

Pendidikan menerpamu

Seperti besi utuh menjadi keris yang luhur

Seperti bongkahan emas yang disepuh menjadi permata

Seperti tanah lempung yang dibentuk hingga menjadi keramik yang menawan

Pendidikan itu membentuk

Yang malas menjadi cekat dalam melaksanakan tugas

Yang susah menjadi terselesaikan dengan mudah

Yang rumit akan selesai dalam hitungan menit

Tak usah kau risau dengan ujungnya

Gelisah dengan pertanyaan yang meluncur dari lisan manusia

Hendak jadi apa ketika besar, Nak?

Kau tak perlu menjawab

Tuhan sudah menjawab pertanyaan ini ribuan tahun lalu

“Tidak ada satu pun binatang melata, kecuali rezekinya sudah di jamin oleh Allah”

Firman Tuhanku, meneduhkan perjalananku menuntut ilmu

Mengarungi badai kemalasan dan ketidakpastian.

Purwokerto, November 2022

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya (Foto: Istimewa)

Nasional

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Nihalun Nada

Minggu, 26 Apr 2026 - 15:24 WIB