Kau pamit,
Tapi hatiku kau cubit
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa tidak menjawabku?
Apakah jarakmu tak terjangkau olehku?
Apakah kepergianmu tak terhitung dalam satuan waktu?
Aku hanya ingin tahu
Sedangkan langkahmu tercipta tanpa ragu
Punggungmu menjauh mencipta siluet kelabu
Semudah itukah untuk meninggalkanku?
Simalakama terasa dalam inderaku
Berbalik menciptakan arah langkah berlawanan dalam sendu
Ya, memangnya siapa aku?
Hanya seongok yang disapa sekadarnya saja
Untuk apa menuntut jelas padanya?
Langkahku semakin cepat
Simalakama kutelan bulat-bulat
Biarkan saja dia pergi









