Puisi-puisi Wail Arrifqi

Redaksi Nolesa

Selasa, 28 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi: Istimewa)

(Ilustrasi: Istimewa)

Bangsacara, Ragapadmi

malam turun pelan

seperti seseorang

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

yang tidak ingin mengganggu luka

di pulau itu

angin membawa nama-nama

yang sudah lama tidak dipanggil

Bangsacara

ia duduk di tepi waktu

menghitung sesuatu

yang tak pernah selesai

barangkali rindu

barangkali setia

barangkali keduanya

yang saling menahan suara

Ragapadmi

namamu seperti langkah

yang sengaja diperlambat

agar perpisahan tidak terdengar jelas

di antara kalian

tidak ada yang benar-benar pergi

hanya jarak

yang diam-diam membesar

orang-orang menyebutnya takdir

lalu pulang

tanpa sempat bertanya

siapa yang sebenarnya kalah

malam semakin dalam

dan kesetiaan

tidak lagi membutuhkan saksi

ia tinggal

di tempat yang paling sunyi

yang bahkan kenangan pun

enggan mengetuknya

Yogyakarta 2026

*legenda rakyat tragis dari Pulau Mandangin, Sampang, Madura. Kisah ini menceritakan pengabdian, kesetiaan, dan cinta terlarang antara permaisuri Raja Widarba yang dibuang karena penyakit kulit, dan seorang perwira kerajaan yang merawatnya.

Joko Tole

Malam tidak lagi berurusan dengan angin— ia hanya menggulung sesuatu yang pernah berniat jadi napas lalu urung

tanah seperti dada yang lupa cara mengeluh

orang-orang terlelap di dalam kisah yang sudah dipahat rapi tanpa bekas sidik jari

tapi ada yang dibiarkan retak tanpa nama

—atau mungkin terlalu bernama

Joko Tole

ia disebut seperti orang menyentuh bara dengan ujung ingatan

bukan karena takut melainkan karena tidak ingin tahu apa yang sebenarnya masih menyala

ia datang dari sesuatu yang tidak sempat disebut sunyi karena sunyi pun telah lebih dulu kelelahan

siang hari meminjamkan wajah yang bisa dinegosiasikan

tapi malam mengembalikan seluruh sisa yang tak sempat disepakati

langkahnya— bukan bunyi melainkan jeda yang berjalan mencari tubuhnya sendiri

orang-orang bilang ia pandai menajamkan besi

tapi tidak ada yang menghitung berapa kali ia harus mencair sebelum menjadi sesuatu yang bisa digenggam tanpa tanya

tidak semua luka memilih merah

sebagian mengendap menjadi arah tanpa peta

lalu disebut: keberanian

padahal itu hanya cara tubuh mengelabui runtuh agar tampak seperti berdiri

Joko Tole tidak kalah tidak juga menang

ia hanya terus terjadi di tempat yang diam-diam menghapusnya tanpa bekas tangan

Baca Juga :  Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri

dan ketika cerita dipindahkan

yang tersisa hanyalah bunyi namanya seperti benda yang pernah hilang

tidak ada yang membawa pulang sepinya tidak juga gelap yang sempat tinggal di sela-sela tulangnya

malam semakin dalam— atau mungkin kita saja yang makin jauh dari terang

dan di antara yang tak sempat diucapkan ia masih berlangsung

bukan sebagai siapa-siapa

melainkan sebagai yang tidak selesai

Yogyakarta, 2026

*tokoh legendaris sekaligus Raja Sumenep ke-13 yang memerintah pada tahun 1415–1460 M. Ia dikenal dalam cerita rakyat Madura sebagai kesatria sakti yang mengabdi pada Kerajaan Majapahit.

Ghost, 1990

bagaimana mungkin kuceritakan kematian

tanpa suara pistol yang tersisa di trotoar

selain hujan dan cahaya neon

yang membusuk perlahan

di mata seorang perempuan

aku melihat tubuhku sendiri

terbaring seperti koper yang kehilangan alamat

sementara malam terus bergerak

melewati ambulans

dan wajah-wajah asing yang tak benar-benar peduli

sampai detik ini, kau masih menungguku pulang.

di apartemen sempit dengan tembikar yang retak

dan lagu tua yang diputar terlalu lirih

seakan cinta dapat menahan arwah

agar tidak jatuh terlalu jauh dari dunia

tetapi kota menyimpan lorong-lorong rahasia.

uang berpindah tangan seperti kutukan

dan seorang sahabat

ternyata memelihara pisau

di balik senyumnya sendiri

aku mencoba menyentuh pundakmu

namun tanganku hanya menjadi angin.

barangkali beginilah nasib orang mati:

menyaksikan orang yang dicintainya

hidup di antara bahaya

tanpa mampu mengetuk pintu takdir

kemudian datang perempuan itu.

dengan suara jenaka dan mata lelah

seorang cenayang

yang mula-mula mengira aku cuma gema

dari kepalanya yang kesepian

tapi dunia rupanya terlalu rapuh

untuk memisahkan kematian dari cinta.

dari stasiun bawah tanah kusaksikan bayangan-bayangan

bergerak seperti dendam yang lapar

lelaki-lelaki tanpa wajah

jatuh ke jurang paling gelap

sementara kereta malam lewat

membawa bau besi dan doa-doa terbakar

apa yang terjadi sebenarnya? pada rekening-rekening bank

kesetiaan masih menyembunyikan pengkhianatannya.

dan di sela jendela apartemen

aku mendengar Tuhan mulai diam

ketika manusia menjual satu sama lain

Baca Juga :  Puisi-puisi Iyong

demi ketakutan dan uang

kau menangis di hadapan cahaya dapur

seperti seseorang yang sedang kehilangan musim.

sedang aku berdiri di dekatmu

tak lebih dari kabut

yang gagal menjelma pelukan

lalu waktu perlahan membuka pintunya.

aku melihat tubuhku makin jauh

dan langit seperti sungai putih

yang memanggil nama orang-orang mati

dengan suara paling sunyi di dunia

sebelum pergi

aku hanya ingin mengatakan satu hal kecil

yang terlambat diselamatkan kehidupan:

cinta rupanya tidak ikut dikuburkan.

Yogyakarta 2026

Lily Bloom

seperti bunga yang diletakkan

di atas meja rumah sakit

aku mendengar cinta

perlahan berubah bau obat.

lily memandang malam

dari jendela apartemen.

lampu-lampu kota berjatuhan

di kaca matanya

seperti sisa pesta

yang gagal melupakan luka.

siapa yang kautunggu

di tubuh lelaki itu

bukankah sejak awal

ada suara pecah

yang disembunyikan pelukan

lelaki itu datang

dengan tangan selembut hujan juni.

ia menata sepi

di kepala lily

seperti seseorang

merapikan buku-buku tua

di perpustakaan kenangan.

tetapi cinta

kadang hanya pisau

yang dibungkus bunga.

katakanlah lily,

kasih hanyalah daun trembesi

yang jatuh perlahan di trotoar

lalu dilindas musim

tanpa sempat kembali hijau

malam terus bergerak.

dari tubuh ke tubuh

lahir ketakutan kecil

yang dibesarkan diam-diam.

dan perempuan itu

mulai mengenali suara:

meja bergeser.

napas terburu-buru.

air mata yang disimpan

di kamar mandi.

masa lalu rupanya

tak pernah benar-benar mati.

ia tinggal

di lipatan ingatan

seperti paku karat

di kayu pintu.

kemarilah,

bersandarlah di pundakku.

kadang cinta mengalir

dari ujung luka

kemudian menetap

sebagai lebam

yang sulit dijelaskan kepada dunia.

lily tetap bertahan.

seperti jendela tua

yang tak ditutup

meski badai berkali-kali

membenturkan dirinya sendiri.

di luar sana

kota tumbuh dengan lampu-lampu dingin.

orang-orang berjalan

membawa kesepian masing-masing

di dalam saku.

sementara seorang perempuan

diam-diam belajar

bahwa mencintai

tidak harus tinggal.

lalu pagi turun

pelan seperti abu.

Baca Juga :  Puisi-puisi Nihalun Nada

dan lily memilih pergi

dari tubuh yang dicintainya sendiri.

tidak ada suara besar.

tidak ada tepuk tangan.

hanya hati

yang akhirnya berani berkata:

cukup.

karena cinta

tak seharusnya membuat seseorang

merasa asing

di dalam rumahnya sendiri.

Yogyakarta 2026

The Midnight Library

jam dibiarkan terbuka

pada pukul yang nyaris beku.

di luar sana

malam seperti payung bocor

yang gagal melindungi kota

dari ingatan.

nora berdiri di antara rak-rak

dan bau kertas tua.

barangkali hidup memang begini:

selembar halaman

yang terus dilipat waktu

hingga menyerupai burung mati.

siapa yang kautunggu

di perpustakaan tanpa jendela ini

bukankah kesedihan telah selesai dipindahkan

ke tubuhmu sendiri

ia membuka satu buku

dan kehidupan lain tumbuh

seperti lumut di dinding sumur.

ada tepuk tangan,

cahaya panggung,

dan wajah-wajah asing

yang memanggil namanya

seperti doa yang salah alamat.

tetapi sepi

masih duduk di sana—

di kursi paling akhir

sambil mematahkan kuku malam.

katakanlah nora,

kebahagiaan hanyalah daun akasia

yang terlepas tangkai

dan mabuk di tiup angin

bukankah manusia

selalu ingin menjadi orang lain

ketika hidup terasa

terlalu sempit untuk ditinggali

kemarilah,

bersandarlah pada detik-detik yang rapuh itu.

kadang penyesalan mengalir

dari celah tubuh

seperti air hujan

yang gagal ditampung talang.

dan waktu

terus bergerak pelan

bagai sipir tua

yang menghitung sisa cahaya

di mata tahanan.

lalu api menjalar

ke halaman-halaman kemungkinan.

kata-kata terbakar

seperti kawanan ngengat

yang salah mengira luka

sebagai cahaya.

nora tak menangis.

ia hanya memandangi abunya

lama sekali—

seperti seseorang

yang akhirnya mengerti

bahwa hidup tak pernah meminta kita

menjadi sempurna.

cukup tinggal.

cukup bertahan.

cukup menerima

bahwa hati manusia

kadang hanyalah kamar kecil

yang dipenuhi suara hujan

juga kesedihan

Yogyakarta 2026

*) lahir di Sumenep, Madura, 20 November 2003. Mahasiswa Agribisnis di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Menulis puisi dan essai di pelbagai media cetak dan daring.

Berita Terkait

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Renata Xalisa Putri
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:01 WIB

Puisi-puisi Wail Arrifqi

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:15 WIB

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:57 WIB

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:38 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:36 WIB

Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum

Berita Terbaru

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin (Foto: Istimewa)

Nasional

HUT Ke-81 RI Diawali Doa dan Zikir Kebangsaan

Selasa, 28 Jul 2026 - 17:25 WIB

(Ilustrasi: Istimewa)

Puisi

Puisi-puisi Wail Arrifqi

Selasa, 28 Jul 2026 - 17:01 WIB