Balas Pati
Nafsu, amarah bersatu padu
Membentuk rangkaian kata
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang tak dapat dipisahkan
Luapan benci yang menggelimangi
Kesucian hati dan menusuk jiwa raga
Sebuah luka yang tak terobati
Masih meraja di dada
Walau kau menangis pijar
Aku tetap tidak bisa memaafkan kesalahan
Yang telah kau perbuat padaku
Kau selalu mengalami kesalahan yang sama
Tak perlu kau berdusta kepadaku
Aku sudah mengetahui tipu muslihatmu
Setiap tetesan air matamu
Hanyalah sebuah kebohongan semata
Lebih baik kau simpan saja air matamu
Sebab tangisanmu tidak akan merubah apapun
Aku tetap menyimpan dendam kesumat padamu
Ketapang, 21 Januari 2021
Gadis Bertangan Panas
Sorot lampu yang menyala di jalanan kota
Gerimis mengundang malapetaka
Rintik hujan deras mengguyur kota
Menghirup hembusan angin
Percikan air hujan membasahi tubuh
Tubuhnya menggigil kedinginan dan keningnya biru lebam
Ia duduk di tepi jalan seorang diri
Sambil memunguti makanan yang sudah basi
Gadis berambut ikal dengan baju yang kumal
Serta darah yang keluar dari kakinya berhamburan di sepanjang jalan
Ia menangis tersedu-sedu
Tiada yang membantu gadis malang tersebut
Mencari tempat perlindungan
Ia terpaksa tinggal di daerah kumuh
Gadis itu hanya mampu diam dan kesal
Tanpa dapat berbuat apa-apa menyaksikan keadaan yang porak poranda
Dunia luar terlalu kejam untuknya
Akankah gadis malang itu bisa melewati lika-liku kehidupan?
Melihat kondisinya saja sangat mustahil untuk bertahan hidup
Ketapang, 10 September 2023
Refleksi Cahaya Dirimu
Tersenyum ketika melihatnya tertidur pulas
Buku-buku berserakan di atas meja yang penuh dengan air liurnya
Menatap wajahnya nan prasaja
Kugoreskan sebuah tinta hitam pada bibirnya
Menahan gelak tawa
Meninggalkan seikat mawar merah
Merekatkan sapu tangan bergambarkan sepasang mata pada lengannya
Satu lembar berisi pertanyaan ‘kan dijawabnya
Beri kecupan mesra tuk terakhir kalinya
Membelai rambutnya yang acak-acakan
Meninggalkannya perlahan-lahan
Keringat mengalir deras
Mengguyur pelipis kepala
Terbendung air mata
Setiap hari tak bisa lepas dari pantulan cahayanya
Ketapang, 23 Oktober 2023
Tuan, Aku Rindu
Di penghujung warsa,
Bulir-bulir keringat merebak,
Bibir ini tetap memanggilnya,
Menunggu kabar darinya,
Hingga kini masih belum menemukan jejak-jejaknya,
Tepat enam tahun silam,
Kehilangan kontak dengannya,
Sepatah kata pun tak diucapkannya,
Berusaha menahan perawakan,
Menghanyutkan segala ingatan,
Melacak keberadaannya,
Jawaban yang diterima ialah kelompang,
Semesta alam pun tak mau mengulurkan tangannya,
Menyaksikan hadirnya yang tak nyata,
Bahkan berhalusinasi mendengar suaranya,
Alam bawah sadar mengelilinginya,
Setiap hela napasnya berbisik-bisik di telinga
Bersembunyi dibalik kepedihan
yang berkepanjangan,
Letih kurasakan,
Terasa waktu terbuang begitu saja.
Ketapang, 14 November 2023

Editor : Wail Arrifqi









