Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Redaksi Nolesa

Senin, 22 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Seutas Rasa Trauma

Bagai embun tak sanggup memeluk daun talas

Serupa jiwa rapuh menahan trauma

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Datang mengalir deras namun kau hempas

Hingga ruang hati enggan menerima

Luka yang menganga kau abaikan

Retak tak mampu dipulihkan

Kasih yang kupertaruhkan

Kau buang tanpa peringatan

Terbuai dalam fatamorgana sepi

Terbalut kenangan menikam jiwa

Terhantui ketakutan yang merana

Membuat raga kian sirna

Ratap dalam Rintik

Larik alam memahami rapuhnya jiwa

Memelukku dalam kelam yang senyap

Baca Juga :  Puisi-Puisi Gusti Fahriansyah

Rintik hujan menjadi saksi setia

Menyembunyikan bulir luruhan kalbu

Bayang siluman masa lalu tergetar

Rasa yang kian meredup membeku

Mungkin bayangnya bisa kulupa

Namun kenangan takkan pernah berlalu

Kehidupan adakalanya seirama syahdu

Ratap berkelindan dalam belai semesta

Terima kasih pada alam yang memeluk rasa

Menguraikan sendu dalam rajut asmara

Pulang ke Pelukan Ombak

Pohon kelapa menjulang, melambai dalam bisikan langit

Ombak datang menghampiri—setia, seperti teman lama

Hingga angin liar menyergap dengan sapaan tak terduga

Menerpa tubuh, memeluk lelah yang kubawa

Baca Juga :  Puisi-puisi Khairul Yaqin

Kelopak mata terpejam perlahan

Kedua tangan merentang tanpa perintah—

Seolah jiwa yang merindukan pelukan

Ujung bibir terangkat sendiri

Mewakili senyum yang tak sempat kuucap

Damai bersanding dengan penat

Damai berangkulan dengan beban yang berat

Di suasana ini,

Di antara debur dan hembusan,

Aku temukan rumah yang sesungguhnya—

Tempat di mana hati boleh pulang

Sembuh dalam Sunyi

Malam merangkak pelan, membawa senyap yang dalam

Bintang bertaburan menjadi saksi jiwa yang retak

Kutenun kembali serpihan diri yang terserak

Dalam sunyi, luka belajar berbicara tanpa suara

Baca Juga :  Sarung Ayah - Puisi Ibnu Arif

Angin malam menyusup lewat celah jendela

Membawa aroma tanah basah sehabis hujan

Mengajarkan bahwa hancur bukanlah akhir

Dari reruntuhan, akar baru mulai merambat

Perlahan kubiarkan keheningan memeluk rapuh

Tak perlu tergesa menyembuhkan yang masih menganga

Cukup hadir menemani diri yang sedang pulih

Sembuh tak selalu berisik, kadang ia datang dalam bisik

*) Mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2023 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana
Puisi-puisi Dewis Pramanas

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB