Memotret Sisi Penjual Sapi
Dari jalan raya
ada sebuah lorong kecil
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
menuju pusat pasar hewan.
Warung makan dan kopi
terlihat ramai dikunjungi.
Yaitu para penjual sapi.
Setiap pagi dan siang.
Mereka berangkat dengan berat.
Pulang dengan beban.
Sapi yang diperjualkan, kini, tak pernah laku.
Mereka gelisah;
Harga turun, tak bisa mengembalikan modal.
Setiap bulan,
tagihan dari bank keliling datang.
Di warung makan dan kopi.
Setiap pagi; mereka mengadu nasib.
Bercerita, tanpa menemui solusi.
Mereka sempat berandai-andai.
‘Andai kata masih muda. Aku ingin jadi ini dan itu’
2025
Mencintai Bunga-bunga
Setiap pagi, kerap membayangkan.
Ada satu perempuan,
yang selalu menawariku,
mungkin air putih atau minuman lain.
sebab aku tak kuat minum kopi.
Kerap membayangkan, perempuan itu.
Sedang duduk di beranda rumah.
Melihat, macam-macam bunga.
Kerap membayangkan,
Di suatu pagi,
bunga-bunga di taman tak pernah mekar dengan indah.
Perempuan itu, tak pernah kembali lagi.
2025
Menafsir Waktu
Dua meja, enam kursi,
masih rapi.
Terlihat ada beberapa gorengan,
belum tersentuh dengan lembut.
Jam di dinding itu, selalu berputar.
Tepat pukul 12.00 WIB,
burung kutilang
yang di taruh sangkar bernyanyi.
Menit demi menit berlalu.
Akhirnya, angin mengajak tidur penjaga kantin itu.
2025
Musik Akustik di Malam Hari
Kau mainkan musik itu,
Di malam yang penuh dengan sunyi.
Terdengar begitu asyik,
untuk sesekali rehat sejenak.
Tiba-tiba tubuh ini
mengajak pergi ke alam mimpi
dengan penuh keributan.
Pikiran ribet, tangan capek,
Kaki lelah.
Badan sempoyongan.
2025
Perempuan I
Aku selalu,
mengirim doa-doa panjang
di malam yang penuh dengan bintang.
Saat itu, engkau terlelap tidur.
2025
*Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Alumnus IAIN Kudus, Bimbingan Konseling Pendidikan Islam. Ig ilham_wiji









